Nasional

Indonesia Menuju Hub Fashion Muslim Dunia

Oleh : Rikard Djegadut - Minggu, 17/04/2022 16:38 WIB


Direktur Kerja Sama Pengembangan Ekspor, Ni Made Ayu Marthini (kiri), Direktur Pengembangan Produk Ekspor Kementerian Perdagangan Miftah farid (kedua kiri), Vice Chairman Of Indonesia Halal Lifestyle Center Jetty R Hadi (tengah), Fashion Desainer/Founder IFI Irna Mutiara (kedua kanan), dan Director Of Kami Istafiana Candarini berbincang usai menggelar talkshow road to Jakarta Muslim Fashion Week 2023 di Jakarta, Sabtu (16/4/2022).
Direktur Kerja Sama Pengembangan Ekspor, Ni Made Ayu Marthini (kiri), Direktur Pengembangan Produk Ekspor Kementerian Perdagangan Miftah farid (kedua kiri), Vice Chairman Of Indonesia Halal Lifestyle Center Jetty R Hadi (tengah), Fashion Desainer/Founder IFI Irna Mutiara (kedua kanan), dan Director Of Kami Istafiana Candarini berbincang usai menggelar talkshow road to Jakarta Muslim Fashion Week 2023 di Jakarta, Sabtu (16/4/2022).

Jakarta, INDONEWS.ID - Jakarta Modest Fashion Week (JMFW) akan kembali diselenggarakan oleh Kementerian Perdagangan (Kemendag) Republik Indonesia bekerjasama dengan Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia pada 20-22 Oktober 2022 mendatang yang bersamaan dengan penyelenggaraan Trade Expo Indonesia 2022 di ICE BSD, Tangerang, Banten.

Perhelatan JMFW merupakan upaya konkret Kemendag RI dalam memperkenalkan dan mempromosikan produk fesyen muslim Indonesia di pasar global, yang pada akhirnya dapat berkontribusi pada kemajuan industri fesyen muslim Indonesia dan menjadikan Indonesia sebagai pusat fesyen muslim dunia.

Bertepatan dengan momen Ramadan, Kemendag RI menyelenggarakan kegiatan Road to Jakarta Modest Fashion Week (JMFW) 2023 dalam acara Instore Promotion “Ramadhan Fashion Festival 2022” yang digelar dari tanggal 13 – 17 April 2022 bertempat di Gandaria City Jakarta.

Dalam kegiatan Road to JMFW 2023 ini pada tanggal 16 April 2022 digelar acara Talkshow, Trunk Show serta Exhibition (Pameran) produk fesyen muslim unggulan Indonesia.
Sebagaimana Roadmap Fashion Muslim Indonesia, maka fokus penyelenggaraan JMFW tahun 2022 ini adalah penguatan branding fesyen muslim Indonesia dengan segala potensi, kreativitas, dan inovasi produk.

Sementara itu, pada 2023, targetnya adalah penguatan jejaring kerja (networking) dengan terjun langsung dalam peta fesyen internasional. Lalu, target untuk 2024 adalah deklarasi Indonesia sebagai pusat fesyen muslim dunia, melalui JMFW yang telah menjadi perhelatan internasional.

“Indonesia bukan hanya sebagai pasar fesyen muslim terbesar di dunia. Dengan sumber daya yang dimiliki dan dapat dioptimalkan, Indonesia mempunyai kapasitas menjadi trendsetter, pusat fesyen muslim dunia. Kemendag menginisiasi suatu platform bekerjasama dengan KADIN untuk membuat ekosistem fesyen muslim yang besar supaya kita betul-betul kuat, sustainable, dalam pengembangan fesyen muslim yaitu Jakarta Modest Fashion Week,” papar Miftah Farid, Direktur Pengembangan Produk Ekspor Kementerian Perdagangan RI dalam sambutannya.

Lebih lanjut, Miftah Farid menjelaskan secara implisit, Indonesia telah menjadi trendsetter fesyen muslim dunia menjadi pusat kajian fesyen muslim dunia, dari Australia, Kanada dan negara manapun, datang ke Indonesia untuk belajar tentang fesyen muslim.

"Pencapaian ini harus kita sampaikan ke masyarakat luas. Pemerintah akan selalu support secara nyata dan mendeklarasikan Indonesia sebagai pusat fesyen muslim dunia. Banyak hal yang perlu kita kerjakan bersama-sama dan diperlukan sinergi dengan berbagai pihak terkait,” terangnya.

“Kegiatan Road to JMFW 2023 meliputi tiga hal. Pertama, sosialisasi di masyarakat Indonesia, kemudian dengan fesyen komuniti di luar negeri, dan terkoneksi dengan trendsetter fesyen muslim di Paris, London, United Arab, dan Turki," imbuh Miftah.

Dengan mengusung tema "Jakarta Modest Fashion Week: Indonesia Menjadi Hub Fashion Muslim Dunia", talkshow menghadirkan para pembicara yaitu Jetty R. Hadi, Vice Chairwoman Indonesia Halal Lifestyle Center (IHLC); Irna Mutiara, Founder Islamic Fashion Institute (IFI); Istafiana Candarina, Director of kami. Acara dipandu oleh moderator Taruna K. Kusmayadi, Advisory Board Indonesian Fashion Chamber (IFC). Talkshow tersebut memaparkan pandangan para narasumber tentang upaya mewujudkan Indonesia menjadi pusat fesyen muslim dunia.

Vice Chairwoman Indonesia Halal Lifestyle Center (IHLC), Jetty R. Hadi mengatakan Indonesia harus memiliki pengetahuan, ilmu dan riset tentang fesyen muslim yang berkembang di dunia jika Indonesia ingin menjadi gerbong dan pusat fesyen muslim dunia.

"Kalau tanpa itu, kita tidak punya arahan atau road map-nya bagaimana fesyen muslim Indonesia akan dikembangkan ternasuk menentukan prioritas pasar ekspor produk fesyen muslim Indonesia," katanya.

Tila -- sapaan akrabnya - mengatakan IHLC, selaku lembaga nirlaba gencar melakukan promosi busana muslim Indonesia di forum-forum internasional melalui berbagai fashion expo di luar negeri.

Hal ini bertujuan agar busana muslim Indonesia yang kaya akan keberagaman dapat dikenal dunia. Sehingga, posisi Indonesia menjadi trendsetter dan pusat busana muslim dunia sebagaimana harapan pemerintah dapat tercapai. "Di tahun 2009 telah dicanangkan agar Indonesia menjadi pusat fashion muslim dunia pada 2020, namun hal ini belum berjalan baik," jelasnya.

Tila menjelaskan, IHLC merupakan sebuah organisasi konsultasi dan pelopor organisasi nirlaba yang concern mengkampanyekan gerakan gaya hidup halal dan bergerak di bidang edukasi serta pengembangan literasi gaya hidup halal di Indonesia.

"Setidaknya ada 10 sektor yang menjadi fokus IHLC, salah satunya di sektor fashion atau busana muslim. Ragam busana atau kerudung yang dipakai mencerminkan pemahaman dan keyakinan pemakainya. Sehingga semakin beragamnya pemahaman dan keyakinan seseorang, semakin beragam pula kerudung atau busana yang dipakai," terangnya.

Menurutnya, agar busana muslim Indonesia dikenal dunia, ada sejumlah Pekerjaan Rumah (PR) atau persiapan yang harus dipersiapkan. Di antaranya, kata Tila, sebuah brand harus mampu membangun ekosistem yang matang di dalam negeri. Jika di dalam negeri kuat, maka barulah bersaing di luar negeri.

"Indonesia itu adalah negara muslim terbesar di dunia. Hal ini tentu menjadi keuntungan sebab kita sendiri merupakan konsumen terbesar produk halal. Namun IHLC berharap, Indonesia jangan hanya menjadi konsumen, tapi harus mampu menjadi produsen produk halal, salah satunya busana muslim ini," tegas Tila.

Tila menuturkan, sejauh ini, telah ada 18 negara di dunia yang rutin mengadakan halal expo setiap tahunnya. Di forum ini, IHLC bertukar informasi dan saling belajar dengan negara-negara lainnya terkait produk halal, terutama soal perkembangan fashion.

"Ada 18 negara kita hadiri setiap tahunnya yang mengadakan halal expo, di situ ada fashionnya. Di forum tersebut kita saling belajar, bertukar informasi dengan negara-negara lainnya terutama terkait perkembangan fashionnya juga," bebernya.

Mewakili pihak akademisi, Irna Mutiara selaku pendiri Islamic Fashion Institute (IFI) mengatakan kehadiran lembaga pendidikan yang didirikannya merupakan langkah strategis untuk mewujudkan target pemerintah menjadikan Indonesia sebagai pusat busana muslin dunia.

Menurutnya, busana muslim sudah menjadi sebuah budaya bangsa Indonesia. Ia mengatakan agar budaya ini berkelanjutan, dibutuhkan industri yang mengerjakan produknya, serta institusi pendidikan sebagai tempat untuk memperdalam ilmu dan kajiannya.

"Sebuah peradaban itu berkelanjutan, bisa sustain kalau bisa didukung salah satunya oleh pendidikan dan industri. Busana muslim ini sudah menjadi budaya Indonesia. Namun bagaiamana busana muslim ini bisa berkelanjutan dan bahkan menjadi pusat busana muslim dunia. Tentunyanya harus ada industri yang mengerjakannya dan dunia pendidikan yang memperdalam ilmunya atau mengkaji ilmunya," ungkapnya.

"Seiring dengan pelaku fesyen muslim di Indonesia yang terus bertumbuh, sehingga semakin dibutukan peran institusi pendidikan fesyen muslim dalam menetaskan SDM yang bukan hanya memiliki kreativitas, tetapi juga berkarakter akhlakul karimah,” imbuhnya.

Sementara itu, Istafiana Candarina sebagai praktisi di industri fesyen muslim di tanah air selaku owner brand Idea KAMI. Istafiana Candarini di sela-sela pemaparannya mengatakan brandnya ingin memperkuat ekosistem usaha di dalam negeri sebelum merambah pasar internasional. Menurutnya, memperkuat ekosistem bisnis di dalam negeri adalah prioritas brandnya untuk saat ini.

"Bagi brand KAMI, untuk saat ini ingin mengurita dulu di dalam negeri, memperkuat bisnis di dalam negeri. Sebab bagi kami, kalau akarnya sudah kuat, barulah kita merambah pasar luar negeri," ungkapnya.

Ia mengatakan agar fesyen muslim Indonesia go-international, pelaku bisnis brand membutuhkan kesiapan manajemen organisasi, dan secara kualitas produk juga harus memantaskan diri dengan standar internasional.

"Mengikuti trade show internasional merupakan salah satu strategi yang bisa dilakukan untuk mempromosikan produk secara global. Terkait bahan baku, 10 tahun lalu untuk bahan kerudung kami harus impor. Alhamdulillah, sekarang sudah bisa pakai produk lokal. Sudah banyak pabrik garmen yang mau berkolaborasi untuk menyediakan bahan yang kami butuhkan. Kalau trend, inspirasi kami tetap mengacu pada trend global, namun kami meleburkan dengan selera lokal karena potensi pasar domestik masih sangat besar,” terangnya.

Kegiatan Road to JMFW 2023 ini ditutup dengan Trunk Show yang menampilkan ragam gaya modest wear dari brand dan desainer muslim Indonesia yaitu KHANAAN, kami., RAEGITAZORO, Tenun Gaya by Wignyo, L.tru, Najua Yanti, deceusuzan, Irna La Perle, Reborn29 by Syukriyah Rusydi, dan Sofie.*

Artikel Lainnya