Jakarta, INDONEWS.ID - Direktur Gempa Bumi dan Tsunami BMKG, Wijayanto mengatakan wilayah megathrust atau Sesar Sunda yang paling waspada terhadap dampak gempa terutama tsunami di wilayah Indonesia adalah kawasan Selat Sunda berada di antara segmen Megathrust Enggano di sisi Sumatra dan Megathrust Jawa Bagian Barat di sisi Jawa.
"Kalau kita melihat sumbernya, Karena itu, wilayah yang berpotensi terdampak tsunami terutama adalah pesisir yang berhadapan dengan sumber gempa, baik di pesisir barat daya Sumatra maupun pesisir selatan Jawa dan kawasan Selat Sunda, tergantung pada segmen mana yang mengalami gempa dan bagaimana mekanismenya," jelas Wijayanto kepada Indonews.id pada Senin (14/9/26).
Tetapi, lanjutnya, kita tidak bisa mengatakan bahwa seluruh wilayah tersebut akan mengalami dampak yang sama. Menurutnya, besarnya dampak tsunami sangat bergantung pada lokasi, magnitudo, kedalaman, mekanisme gempa, luas bidang yang mengalami patahan, serta kondisi batimetri dan topografi pantai.
Namun demikian, Wijayanto menerangkan bahwa saat ini sistem peringatan dini tsunami Indonesia, InaTEWS terus diperkuat dan beroperasi 24 jam. Sehingga berdasarkan pengembangan terbaru, BMKG sudah mampu menerbitkan informasi gempa dan peringatan dini tsunami maksimal sekitar tiga menit setelah gempa terjadi, tergantung karakteristik dan ketersediaan data gempa yang masuk,
sebagai contoh, pada gempa Flores M7,7 tanggal 15 Agustus 2026, BMKG mengeluarkan Peringatan Dini Tsunami sekitar 2 menit 16 detik setelah gempa, kemudian melakukan pemutakhiran informasi berdasarkan data dan observasi berikutnya.
"Untuk itu jangan panik dan tetap waspada. Potensi gempa megathrust adalah fakta ilmiah yang harus kita hadapi dengan kesiapsiagaan, bukan dengan ketakutan," tutupnya.