( catatan tepi tentang kita dan revolusi informasi)
Penulis : Joe Fernandez ( pengamat sosial tinggal di Depok)
Tak dapat dipungkiri bahwa kehidupan modern sangat bergantung pada informasi. Dalam era digital saat ini kita menghadapi kesimpangsiuran informasi baik lewat media utama ( _Mainstream_ ) ataupun media sosial. Nyaris setiap orang mengalami badai dan tsunami info yang mempengaruhi sikap dan pendapatnya pada fenomena sosial. Peperangan dimenangkan bukan dalam kekuatan senjata belaka tetapi dengan agitasi dan intimidasi informasi yang mungkin dikuasai pihak tertentu. Keguncangan ini mungkin Alvin Toffler sekalipun tak pernah membayangkannya ketika menulis buku "the third wave" di dekade 80an. Kecepatan informasi dengan dukungan internet dan gawai pintar telah mengubah persepsi orang pada apapun yg didengar atau dilihat lewat pemberitaan resmi atau sebaran pesan singkat maupun Medsos (whatsapp, Facebook, tweeter, instagram, YouTube, Tiktok dan sebagainya.
Perubahan sikap kita terhadap sesuatu fenomena mungkin berubah-ubah sesuai dengan informasi yang didapat di gawai atau media eletronik. Setiap orang bisa mengubah pendapatnya seiring informasi yang diperoleh yg berkembang setiap waktu. Orang yang berubah-ubah pilihan bisa masuk kategori "swinging voters", mereka berubah bila diberikan asupan informasi baru entah lebih lengkap ataukah lebih akurat, bahkan lebih mutakhir, namun belum tentu benar. Badai informasi dalam otak kita turut mempengaruhi emosi dan nalar.
Orang-orang yang tidak mengubah pilihan secara cepat bisa masuk kategori kelompok konservatif atau fanatik, lepas dari benar atau tidaknya suatu informasi awal yg diterimanya. Karl R. Popper yang mengemukakan teori falsifikasi pernah membuat beberapa kategori soal kebenaran dan keraguan. Salah sstunya tentang. kebenaran otoritatif; kebenaran otoritatif dibentuk oleh opini seseorang tokoh yang kita kagumi atau hormati atau mngkn berusia lebih tua dari kita walau belum tentu informasi itu benar. Kelompok fanatik memegang teguh kebenaran "pertama" yang seringkali dibangun oleh kebenaran otoritatif, tanpa mau berubah sedikitpun walau terjadi pembaruan informasi ke arah yang lebih teruji "kebenarannya” atau lengkap. Mereka sering mudah terjebak pada keteguhan persepsi yang belum tentu benar pada akhirnya. Mereka tidak kenal kebenaran relatif tapi hanya kebenaran mutlak tanpa mau memverifikasi informasi yang diterima di awal. Biasanya mereka kurang terbuka dalam.nenerima hal-hal baru tapi cenderung mengunakan intuisi semata sebagai landasan berpendapat. Kemalasan mencari info dari berbagai sumber yang berbeda sering menjebak sikap dan perspektif kelompok fanatik.
Kelompok yang mudah menerima perubahan informasi sering pula rentan pada *hoax* dan manipulasi berita karena lebih mengikuti kecenderungan umum bukan kebenaran atau uji/verifikasi informasi dari sumber ataupun isi informasi baru. Berbeda dengan kelompok konservatif/fanatik, kelompok ini bukan juga kelompok progresif tapi cenderung sebagai pengikut ( _follower_). Perubahan sikap mereka juga bisa disebabkan oleh tekanan sosial di lingkungan keluarga atau kelompok sebaya (peer group). Mereka takut dibilang berbeda oleh kelompok/lingkungan sosialnya. Apalagi kalo sampai dikucilkan karena pendapatnya beda dari lingkungan pergaulannya. Alih-alih mencari info lintas perspektif, mereka malah terjebak dalam menguatkan informasi sesat yang lebih populer tapi tidak benar.
Kelompok fanatik dan kelompok pengikut sesungguhnya labil dalam ekspresi pendapatnya; semakin banyak asupan informasi seiring mudahnya didapat dan disebarkan melalui Media sosial semakin terguncang sikapnya, bahkan kaum konservatif malah menjadi sangat kaku terhadap perubahan informasi yang mungkin lebih benar. Apalagi saat ini banyak aplikasi yang memudahkan mengedit gambar/video/bahkan suara di tayangan media sosial. Dengan sengaja orang-orsng yg menebar fitnah senang melakukan penyimpangan, plesetan atau _prank_ dalam tayangan medsos mereka. Bagi kelompok pengikut akan cepat menguatkan dan meyebarluaskan informasi baru tanpa otokritik. Sebaliknya bagi kelompok konservatif hanya mau menerima informasi yang mengukuhkan pendapat awalnya dan menolak secara keras informasi baru yang lebih lengkap dan akurat.
Kita sebenarnya sedang terombang ambing di lautan informasi dan simpangsiurnya kebenaran fakta. Hanya kebijakan dan nalar dalam mencermati setiap informasi dapat membimbing kita kepada "kebenaran relatif". Kebenaran relatif pada umumnya sering disebut *hipotesa*, krn kebenaran itu belum dinyatakan ditolak, sampai ada pembuktian sahih bahwa hipotesa itu salah sebagaimana dasar dari teori falsifikasi Karl R. Popper.. Perjalanan waktulah, sebagaimana sejarah manusia, biasanya yang akan membuktikan soal kebenaran relatif mana yang sesungguhnya menjadi kebenaran sejati. Termasuk soal pembenaran penggunaan kekerasan fisik ataupun verbal yang biasa dijadikan perundungan (bullying) sebagai metode intimidasi dalam.pergaulan sosial.
Kita tak lagi bisa bersikap terhadap satu peristiwa secara hitam putih, melainkan dalam spektrum yang merentang luas. Sikap kita tetap perlu berlandaskan prinsip tertentu tetapi bisa terjadi pergeseran sikap dengan adanya informasi lengkap dan akurat. Sikap hitam putih kita menjadikan sikap toleransi menjadi intoleransi. Namun sebaliknya juga demikian seperti kutipan Karl. R. Popper berikut: “If we extend unlimited tolerance even to those who are intolerant, if we are not prepared to defend a tolerant society against the onslaught of the intolerant, then the tolerant will be destroyed, and tolerance with them.” Jadi marilah bersikap bijak terhadap informasi di era digital ini. Gunakanlah nalar dan kerendahan hati menyikapi silangsengkarut informasi saat ini.