Jakarta, INDONEWS.ID - Dibandingkan dengan prosa atau drama, puisi membuktikan diri lebih operasional dalam kehidupan sehari-hari. Produk iklan atau dalam penulisan berita, misalnya, banyak memanfaatkan piranti puisi seperti rima atau diksi yang unik.
Oleh sebab itu, meskipun puisi dianggap lebih sulit dimaknai, ternyata banyak dipilih dalam aktivitas literasi. Hal ini mengemuka dalam sedaring yang diselenggarakan oleh Pusat Penelitian Kemasyarakatan dan Budaya (PPKB), Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya Universitas Indonesia, Jumat (22/4) siang.
Webinar yang menampilkan Dr. Ibnu Wahyudi dan dimoderatori oleh Kepala PPKB FIB UI, Dr. Ari Prasetyo dihadiri oleh banyak dosen, mahasiswa, atau jurnalis. Materi yang dikemukakan narasumber bukan hanya menunjukkan adanya interaksi puisi dengan keseharian di masa kini tetapi juga gambaran historis bahwa puisi memang muncul paling awal di Indonesia dibandingkan genre lain.
Narasumber yang pernah menempuh pendidikan pascasarjana di Monash University juga menegaskan perlunya menghilangkan rasa takut saat menafsirkan puisi. Hal ini ditegaskan menjawab pertanyaan yang khawatir jika penafsiran berbeda dengan maksud penyair.
Dikemukakan narasumber bahwa ketakutan akan salah tafsir atas sebuah puisi harus dihilangkan jauh-jauh karena puisi atau genre lain terbuka untuk munculnya multitafsir. (Lka)