https://vinosdeabona.com/slot-gacor/ https://www.tpcd.org.tr/slot-deposit-pulsa/ https://healthcare.skho.moph.go.th/labor-care/uploads/slot-deposit-pulsa/ https://seoscaning.com/slot-deposit-dana/ http://www.info-secur.ru/old/slot-deposit-pulsa-tanpa-potongan/ http://academia.uniminuto.edu/becassp/notas/jasabola/

Nasional

HUT ke-6, Direktur LSI Denny JA Kirim Ucapan Selamat

Oleh : Rikard Djegadut - Minggu, 22/05/2022 13:05 WIB

pendiri Lembaga Lingkaran Survei Indonesia (LSI), Denny JA.

Jakarta, INDONEWS.ID - Ulang tahun media Indonews.id ke-6 dibanjiri ucapan selamat dari berbagai tokoh nasional, salah satunya dari pendiri Lembaga Lingkaran Survei Indonesia (LSI), Denny JA.

Untuk diketahui, hari jadi media Indonews.id dirayakan pada bulan Mei setiap tahunnya. Tahun ini, media yang bernaung di bawah PT Rally Tama, perusahaan milik mantan Pereli Nasional Rio Sarwono ini genap berusia 6 tahun.

"Selamat ultah yang ke enam untuk Indonews.id. Semoga terus tumbuh memberi warna media di era digital," kata pendiri LSI ini dalam pesan singkatnya kepada Indonews.id, Sabtu (21/5/22).

Pemimpin Redaksi media Indonews.id, Drs. Asri Hadi menyampaikan terima kasih atas ucapan dan doa bagi Indonews.id di ulang tahunnya ke-6.

"Saya menyampaikan ucapan terima kasih atas perhatiannya dan dukungannya. Semoga Denny JA ketua umum Satupena tambah sukses," kata Asri Hadi.

Dunia survei melambungkan namanya di pentas politik Indonesia. Lembaga surveinya sering dijadikan rujukan para politikus untuk memenangkan kandidatnya di Pilkada, Pilgub, hingga Pilpres.

Fenny Januar Ali atau lebih akrab disapa Denny JA merupakan seorang intelektual entrepreneur yang telah menciptakan tradisi baru dan rekor baik di bidang survei maupun sastra Indonesia.

Pria kelahiran Palembang, 4 Januari 1963 ini, sejak masih duduk di bangku SMA, sudah menyukai buku karya Michael Heart, berjudul The 100: A Ranking of the Most Influential Persons in History. Kepeloporan tokoh-tokoh sejarah dalam buku tersebut telah menggugah dirinya.

Ia pun menempuh pendidikan hingga jenjang doktor. Denny JA menyelesaikan S1-nya di Fakultas Hukum, Universitas Indonesia. Kemudian, ia meraih gelar Master of Public Administration dari Pittsburgh University, Amerika Serikat saat berusia 31 tahun. Sementara itu, gelar doktornya didapatkan pada 2001 dari Ohio University, Amerika Serikat.

Namanya mulai melambung di jagat politik saat mendirikan lembaga survei. Suami dari Mulia Jayaputri ini mendirikan Lingkaran Survei Indonesia (LSI), Asosiasi Riset Opini Publik (Aropi), serta Asosiasi Konsultan Politik Indonesia (Akopi).

Atas kiprahnya di lembaga survei tersebut, ia dianggap sebagai founding father tradisi baru survei opini publik dan konsultan politik di Tanah Air.

Denny JA juga dijuluki sebagai king maker karena calon dengan elektabilitas tinggi berdasarkan hasil surveinya mampu memenangi tiga kali pemilu presiden berturut-turut pada Pilpres 2004, 2009, dan 2014.

Berkat pencapaiannya itu, Denny JA dianugerahi rekor MURI. Selain itu, lebih dari 60 persen calon gubernur berhasil menang di pilkada berkat survei yang dikeluarkannya.

Di dunia sastra, Denny JA memperkenalkan genre baru puisi esai, yaitu puisi yang panjang, berbabak, dengan catatan kaki, namun menggunakan bahasa yang mudah dipahami.

Salah satu buku puisi esai karyanya, yakni Fang Yin`s Handkerchief menjadi buku terlaris nomor satu di Amazon.com pada 2015.

Denny JA lagi-lagi memperoleh rekor MURI di bidang sastra karena jadi orang pertama yang membawa sastra ke media sosial. Buku Atas Nama Cinta (2012) jadi buku pertama yang bisa diakses via Twitter hanya dalam waktu kurang 1 bulan.

Tak hanya menulis buku puisi, Denny JA juga pernah membuat naskah drama dan film. Berbagai film yang diproduksinya tayang di komunitas gerakan sosial.

Sejak 2012, Denny JA pun aktif dalam gerakan antidiskriminatif. Ia mendirikan Yayasan Denny JA untuk Indonesia Tanpa Diskriminasi. Yayasan ini menciptakan karya teater, puisi, lagu, foto, lukisan, hingga film yang menyuarakan perlindungan hukum warga negara apapun identitas sosialnya.

Seluruh kegiatan sosial yang dijalankannya dibiayai sendiri. Bagi Denny JA, intelektual itu harus kaya. Karena dengan kelebihan ekonomi ini, sang intelektual mampu membiayai kegiatan sosialnya dan dapat terhindar dari politik kepentingan. Tak heran, bila ia memiliki banyak usaha, seperti di bidang properti, kuliner, dan tambang. (AC/DN) (Photo/DennyJAWorld)

Loading...

Artikel Terkait