Nasional

Tanam Kopi di Merapi, Sri Sultan: Sultan Ground Bisa Dimanfaatkan Tetapi Bukan untuk Tambang

Oleh : Marsi Edon - Minggu, 25/09/2022 21:01 WIB

Gubernur DIY Sri Sultan HB X melakukan penanaman pohon kopi dalam acara Gerakan Tanam Kopi Di Lereng Merapi di Kalurahan Kepuharjo, Cangkringan, Sleman, Sabtu (24/9/2022). Pada kesempatan itu, Sultan juga menyerahkan secara simbolis 50000 bibit pohon kopi dari Kementerian Pertanian RI kepada perwakilan kelompok tani kopi yang berada di lereng Gunung Merapi.(Foto:Istimewa)

INDONEWS.ID - Gubernur DIY Sri Sultan HB X kembali mengingatkan kembali soal penghentian aktivitas penambangan pasir di lereng Gunung Merapi serta mengembalikan kelestarian lingkungan di kawasan tersebut.

"Gunung kembali ke gunung. Artinya tidak ada penambangan lagi karena itu merusak lingkungan. Tanah SG yang (kemarin) ditambang itu namanya mencuri, jangan diulangi. Tanah SG (Sultan Ground, Tanah Kasultanan, red.) boleh dimanfaatkan, tapi jangan ditambang," tegas Sultan pada acara Gerakan Tanam Kopi di Lereng Merapi di Kalurahan Kepuharjo, Cangkringan, Sleman, Sabtu (24/9/2022).

Pada kesempatan tersebut selain melakukan penanaman pohon kopi juga menyerahkan secara simbolis 50000 bibit tanaman kopi dari Kementerian Pertanian RI kepada perwakilan dari kelompok- kelompok tani kopi di kawasan lereng Gunung Merapi, Kabupaten Sleman yang hadir pada acara itu.

Sultan berharap dorongan yang diberikan Pemda DIY bisa membuat masyarakat di yang tinggal di lereng Gunung Merapi memiliki mata pencaharian khususnya di bidang pertanian sehingga selain perekonomian mereka meningkat juga tetap dapat selaras dengan kelestarian lingkungan.

"Jangan lagi (berpikir) menanam kopi untuk menambah penghasilan, karena asumsi (menganggap kopi hanya sebagai penghasilan sampingan) seperti itu membuat tanaman (kopi) tidak dirawat sungguh- sungguh," pinta Sultan.

Pada kesempatan yang sama, putri sulung Sultan HB X, GKR Mangkubumi yang hadir di acara itu menyambut baik pembagian bibit tanaman kopi kepada masyarakat tersebut.

"Semoga tanaman kopi yang ada di sini (Cangkringan) bisa semakin luas. Masyarakat bisa mengambil manfaatnya," kata GKR Mangkubumi.

Menurut Gusti Mangku (sapaan GKR Mangkubumi, red.), keberadaan kopi asal lereng gunung Merapi sebenarnya sudah dikenal luas. Namun, lanjutnya, permintaan pasar akan kopi Merapi saat ini masih sulit dipenuhi karena keterbatasan produksi.

"Hari ini ada penambahan 50000 bibit pohon kopi. Mudah- mudahan setiap tahun akan ada terus, bahkan jumlahnya lebih banyak lagi, lah. Jadi kita memaksimalkan lahan yang ada di (lereng) Merapi ini untuk (ditanami) kopi. Kopi Merapi sebenarnya sudah terkenal, tapi kapasitas produksinya yang belum mendukung. Mudah- mudahan dengan gerakan seperti ini (produksi) kopi Merapi bisa lebih banyak. Merapi juga bisa lebih hijau. Kemudian yang paling penting, hal ini adalah salah satu alih profesi masyarakat dari penambang (pasir) ke petani kopi. Karena kita semua juga membutuhkan (ketersediaan) air yang baik. Kalau (tanah) terus ditambang kan nanti airnya nggak ada" lanjut Gusti Mangku.

Senada, pegiat lingkungan RM Gustilantika Marrel Suryokusumo mengapresiasi dukungan yang diberikan oleh Kementerian Pertanian RI dengan memberikan bantuan bibit pohon kopi kepada para petani yang ada di lereng Gunung Merapi.

"Bantuan yang diberikan berupa bibit tanaman kopi tersebut sesuai dengan program Pak Gubernur juga Ngarso Dalem yakni "Gunung bali Gunung". Bantuan tersebut sangat dibutuhkan untuk membantu perekonomian masyarakat," jelas Marrel.

Cucu Sultan HB X tersebut juga menambahkan lingkungan di lereng Gunung Merapi banyak yang rusak akibat aktivitas penambangan. Menurut Marrel, kegiatan pembagian bibit tanaman kopi tersebut merupakan aksi nyata Pemda dan Kraton Yogyakarta serius menggarap permasalahan lingkungan dan memfasilitasi alih profesi bagi masyarakat di lereng Gunung Merapi yang sebelumnya terlibat di aktivitas tambang.

"Harapannya kedepan aksi seperti ini bisa terjadi terus menerus dan jangan sampai oknum- oknum perusak lingkungan ini bisa berjalan bebas di Jogja. (Lereng gunung) Merapi adalah kawasan penangkap air. Jangan sampai dalam 20 sampai 30 tahun kedepan Jogja kesulitan mendapatkan air," tambahnya.

Marrel berharap, generasi muda yang ada di Jogja lebih memiliki pemahaman dan bisa mulai mengikuti kegiatan- kegiatan penyelamatan lingkungan.

"Jangan sampai teman- teman yang selama ini bekerja atau sudah aktif di bidang pertanian surut semangatnya karena ada oknum- oknum yang terus menerus merusak lingkungan. Kita nggak mau itu terjadi di Jogja. Kita nggak mau lingkungan di Jogja tergerus terus menerus. Kita nggak mau oknum- oknum itu terus ada di masa depan," tandas Marrel.

Dilain pihak Wakil Bupati Sleman Danang Maharsa menyatakan pihaknya berkomitmen untuk mendukung penuh program Sultan HB X dalam menghijaukan kembali lingkungan lereng Gunung Merapi.

"Kegiatan ini merupakan bagian dari melanjutkan dawuh Ngarso Dalem. Yang utama, adalah memberikan kegiatan alternatif bagi warga. Gunung bali Gunung. Ekosistem lereng gunung Merapi sebagai penyangga bagi DIY ini akan kita pelihara," kata Danang. (*)

Artikel Terkait