Opini

Hari Kopi Internasional 1 Oktober,Jumlah dan Kualitas Produksi Kopi Indonesia Harus Ditingkatkan!

Oleh : luska - Sabtu, 01/10/2022 12:56 WIB

Penulis : Prayono Atiyanto (Pengamat dan Penggiat Diplomasi Kopi Indonesia)

Pembuka

Kemarin pagi (30/09/2022) kegiatan WFO (work from office) saya diawali dengan menyeruput kopi hitam pahit dari Jawa Barat “Palasari Honey Beans” perolehan dari kunjungan ke Bandung baru-baru ini. 

Tidak lama kemudian saya bertemu dengan Pak Darianto Harsono teman ngopi kalau di kantor. Beliau juga biasa disapa Pak Dir Dar adalah Direktur Amerika II di Kementerian Luar Negeri yang mengelola kawasan Amerika Selatan dan Karibia dan saat ini lagi sibuk mempersiapkan pelaksanaan Indonesia-Latin America and the Caribbean (Ina-LAC) Business Forum 2022, 17-18 Oktober 2022. Seperti biasa kami ngopi (minum kopi sambil ngobrol pintar). Kali ini saya menikmati salah satu kopi favorit yaitu kopi Argopuro, Jember. 

Intinya Indonesia memang memiliki begitu banyak varian kopi dengan cita rasa juara!

Mungkin tidak semua orang tahu bahwa hari ini tanggal 1 Oktober adalah harinya kopi. Tanggal 1 Oktober memang diperingati sebagai hari kopi internasional. Sebuah perayaan yang menjadi tradisi negara-negara anggota ICO (International Coffee Organization) sejak 2015 (dari berbagai sumber).

Hari kopi internasional juga dirayakan di Indonesia Untuk itu, hari ini saya sempatkan menyapa beberapa teman kopi antara lain Pak Daroe Handojo dan Pak Kirom. Saya juga ingin menyapa semua teman-teman coffee warrior lainnya juga.

Makna hari kopi

Perayaan ini adalah sebagai sebuah ekspresi penghargaan yaitu terhadap kerja keras dan kontribusi para petani kopi termasuk petani perempuan. Ini adalah salah satu catatan yang saya temukan dari berbagai tulisan dan artikel yang pernah ditulis oleh para pengamat perkopian sebelumnya. Selain itu, juga terkandung makna dukungan untuk memajukan perkebunan dan bisnis kopi.

Where are we?

Kalau kata orang sini (Jakarta) ga kemane-mane. Indonesia masih bercokol di peringkat 4 penghasil kopi di dunia (di bawah Brasil, Vietnam, Kolombia). Indonesia juga berada di peringkat 4 sebagai eksportir. Tetapi ada juga informasi yang menunjukkan bahwa dari segi nilai ekspor Indonesia berada pada posisi ke-13 (USD 851,7 juta) pada tahun 2021. (dikumpulkan dari berbagai sumber)

Bagi mereka yang mengikuti perkembangan kopi Indonesia mengetahui bahwa peringkat Indonesia sebagai penghasil dan eksportir kopi tersebut tidak berubah selama beberapa tahun terakhir. Artinya tidak ada perkembangan atau kemajuan. Harapannya tentu semoga jangan justru turun peringkat.

Progress is a must!

Hari Kopi Internasional tahun ini tidak boleh hanya sebatas selebrasi. Tanggal 1 Oktober perlu dijadikan sebagai momentum untuk meningkatkan makna kopi bagi kehidupan manusia dan dunia. Kopi telah menjadi salah satu komoditas unggulan yang mendukung perekonomian nasional dan perekomian rakyat khususnya di negara-negara penghasil kopi termasuk Indonesia. Kesejahteraan petani kopi harus tetap dikedepankan. Nilai strategis kopi juga terus dipertahankan dalam kerangka pelestarian lingkungan hidup dan pembangunan berkelanjutan.

Produksi (jumlah dan kualitas) kopi Indonesia harus terus ditingkatkan!

Yang saya ketahui bahwa Indonesia sampai sekarang masih terus mengupayakan kenaikan jumlah produksi kopi (dengan produksi sekitar 700 ribu ton per tahun). Targetnya adalah semoga bisa melampaui 1 juta ton per tahun melalui cara perluasan kebun, peremajaan perkebunan, dan inovasi teknologi sambil menghadapi tantangan perubahan iklim.

Luas lahan perkebunan kopi Indonesia adalah 1,2 juta ha (tahun 2020). Apa memang luasnya perlu ditambah atau cara produksinya yang perlu diperbaiki? Sebagai perbandingan Brasil memiliki luas lahan 1,8 juta ha dan bisa menghasilkan 3,8 juta ton per tahun. Vietnam memiliki 618 ribu ha dan Kolombia 776 ribu ha dan bisa menghasilkan kopi lebih banyak dari Indonesia.

Banyak (atau bahkan sangat banyak dan sering) forum yang sudah mendiskusikan soal produktifitas kopi Indonesia. Mungkin juga sudah banyak usaha yang dilakukan. Tetapi memang usaha tersebut belum berhasil memenuhi target.

Sementara itu konsumsi kopi di Indonesia juga cenderung meningkat terus. Bahkan saya pernah membaca sebuah artikel yang menyatakan “selama 4 tahun terakhir konsumsi kopi di Indonesia naik 50 persen” khususnya melalui penjualan take away dan platform online. Secara kasat mata kita memang juga bisa melihat kedai/kafe dibuka di berbagai penjuru kota di Indonesia. Istilahnya menjamur. 

Ini bagus. Tetapi situasi ini tentu perlu dicermati karena lagi-lagi kita masih berjuang untuk menaikkan produktifitas kebun kopi Indonesia. Jangan sampai kita terjerumus sehingga lebih banyak mengimpor ketimbang mengekspor.

Kenyataannya memang akhirnya kita bicara soal kualitas. Kopi dengan kualitas yang baik dalam arti pengelolaan kebun dan proses produksi yang ramah lingkunan serta keunikan cita rasa akan lebih banyak dicari. Kita paham bahwa konsistensi untuk mempertahankan kualitas kopi yang baik dan memenuhi standar internasional adalah sebuah tantangan termasuk di Indonesia.

Saya dan teman-teman penggiat diplomasi kopi Kementerian Luar Negeri saat ini sedang fokus pada promosi specialty coffee Indonesia. Sekali lagi yang kita perlu jaga adalah soal konsistensi yaitu ketersediaan produk dan kualitas. Ini adalah modal penting untuk berkompetisi di pasar global. 

Sebagai informasi, diplomat Indonesia juga semakin didorong untuk memiliki pemahaman yang baik mengenai kopi mulai dari sejarah kopi sampai cara meracik, menyeduh dan mencicipi kopi secara benar. Sejak tahun lalu pengetahuan mengenai kopi telah diajarkan dalam kelas Sekolah Dinas Luar Negeri.

Sekali lagi selamat Hari Kopi Internasional. Komitmen bersama kita harus semakin menguat. Bangga Buatan Indonesia! Bangga Kopi Indonesia!

Salam sehat untuk teman-teman “Coffee Warrior”, pecinta kopi, penikmat kopi, pemilik kedai/kafe kopi, para barista, roaster, cupper Indonesia. Salam sukses untuk teman-teman “ngopi (ngobrol pintar)” para Pemimpin Redaksi Media Online: Asri Hadi, Ahmed Kurnia, Otho Hernowo Hadi. Demikian juga teman-teman penggiat diplomasi kopi Indonesia utamanya Duta Besar Bagas Hapsoro, Duta Besar Djumantoro Purbo, dan Tim Percepatan Pemulihan Ekonomi (TPPE) Kementerian Luar Negeri, Ibu Direktur Mita (Sekolah Dinas Luar Negeri) serta para promotor diplomasi kopi di seluruh Perwakilan RI di luar negeri.

-------

*Opini ini adalah pendapat pribadi. Penulis pernah bertugas sebagai Duta Besar LBBP RI untuk Republik Azerbaijan (2012-2016) dan saat ini masih aktif sebagai Diplomat Ahli Utama pada Direktorat Kerja Sama Intrakawasan dan Antarkawasan Kementerian Luar Negeri. Sebelumnya pernah menjadi Direktur Amerika Selatan dan Karibia Kementerian Luar Negeri (2007- awal 2012) dan bertugas di KBRI London (1988-1992) dan Perutusan Tetap Republik Indonesia untuk Perserikatan Bangsa Bangsa (PBB) di New York (1995-1999, 2003-2007). Beberapa tahun terakhir menjadi penggiat diplomasi kopi Kementerian Luar Negeri RI.

TAGS : Kopi

Artikel Terkait