Jakarta, INDONEWS.ID - AI memainkan peran penting dalam proses deteksi, investigasi, dan respons insiden. Salah satunya adalah kemampuan mendeteksi ancaman.
Dalam hal ini, AI meningkatkan kesadaran situasional dengan menganalisis kumpulan data yang luas dan beragam serta mengidentifikasi pola perilaku pengguna yang tidak normal.
Selain itu, model AI dapat digunakan untuk mengembangkan alur kerja respons otomatis atau merekomendasikan tindakan respons yang sesuai berdasarkan pola sebelumnya.
International Business Machines Corporation atau yang dikenal dengan sikatan IBM, sebuah perusahaan asal Negeri Paman Sam yang memproduksi dan menjual perangkat keras dan perangkat lunak komputer, menyadari betul betapa penting peran AI dalam teknologi saat ini.
Saat ini, IBM sedang mengeksplorasi aplikasi AI tingkat lanjut yang menggabungkan akurasi dan kecanggihan tinggi dengan kemampuan otomatisasi.
"Meskipun AI dapat meningkatkan efektivitas dan akurasi alat keamanan individual, potensi sebenarnya terletak pada pengaturan dan otomatisasi respons di beberapa alat," demikian terang Chris Hocking selaku Chief Technology Officer IBM Security APAC dalam sesi wawancara Media Group di Grand Hyat, pada Jumat (26/5/23).
Chris dalam kesempatan tersebut menyampaikan, pihaknya memperkenalkan Zero trust, sebuah kerangka kerja dari teknologi IBM yang diharapkan dapat melindungi data-data pribadi untuk menghindari pencurian data yang dapat merugikan para penggunanya.
"Zero Trust memenuhi persyaratan keamanan dari pengaturan cloud hybrid yang berfokus pada data. Solusi ini memberikan organisasi perlindungan yang mudah beradaptasi dan berkelanjutan untuk pengguna, data, dan aset, serta kemampuan manajemen ancaman yang proaktif," paparnya.
Chris menjelaskan, IBM memanfaatkan AI dalam berbagai aspek keamanan siber, termasuk deteksi ancaman, investigasi, dan respons. AI meningkatkan pemahaman situasional dan meningkatkan deteksi ancaman dengan menganalisis kumpulan data yang luas dan mengidentifikasi pola perilaku pengguna yang tidak normal.
"AI juga dapat mengotomatiskan alur kerja respons atau merekomendasikan tindakan yang sesuai berdasarkan pola masa lalu, sehingga membantu dalam merespons insiden," ujar Chris.
Dalam kasus serangan ransomware terhadap BSI, Roy Kosasih selaku President & Director of IBM Indonesia menambahkan, aplikasi AI IBM yang canggih dapat memberikan langkah-langkah keamanan yang komprehensif yang didukung oleh AI.
"Dengan memanfaatkan algoritma pembelajaran mesin dan analisis perilaku untuk mendeteksi dan menanggapi ancaman yang muncul secara real-time," pungkasnya.
IBM menyadari bahwa strategi keamanan perimeter tradisional tidak lagi memadai dalam menghadapi ancaman yang terus berkembang dan adopsi infrastruktur cloud hybrid.
"Sejalan dengan pendekatan Zero Trust, yang berfokus pada perlindungan pengguna, data, dan aset dalam pengaturan cloud hybrid, IBM menekankan perlindungan yang dapat beradaptasi dan berkelanjutan," tukas Chris.
Dengan menggabungkan keamanan AI dengan prinsip-prinsip Zero Trust, Chris lebih lanjut memaparkan, solusi IBM menawarkan kemampuan manajemen ancaman yang proaktif, sehingga memungkinkan organisasi di Indonesia untuk terus melindungi sistem dan data mereka dari serangan siber.
AI telah berkembang secara signifikan sebagai sumber daya untuk mendukung operasi SOC, termasuk dalam kerangka kerja keamanan siber IBM. Awalnya, aplikasi AI dalam keamanan berfokus pada pengenalan pola, memberikan wawasan kontekstual, dan merekomendasikan tindakan kepada tim analis.
Namun, IBM telah membuat kemajuan yang substansial, terutama dengan solusi Endpoint Detection and Response (EDR) seperti QRadar Suite. Solusi-solusi ini memiliki kemampuan AI yang matang dan dapat secara otomatis memicu respons yang diatur tanpa campur tangan manusia, sehingga meningkatkan kecepatan dan efisiensi SOC.
"Dengan mengintegrasikan aplikasi AI secara mulus di seluruh portofolio dan antarmuka pengguna analis mereka, IBM memungkinkan organisasi untuk mendeteksi, merespons, dan memitigasi potensi ancaman secara efektif," tutupnya.