Nasional

Harta Terpendam di Buton

Oleh : indonews - Selasa, 22/10/2024 18:57 WIB


Oleh Laode Insan (Penulis novel Serdadu Pantai)

Jakarta, INDONEWS.ID - “Berkelanalah. Jika tidak dengan ragamu, maka dengan pikiranmu. Dunia ini terlalu sempit bagi cakrawala ilmu yang begitu luas.” Kata-kata tersebut terangkai dari perenungan selama saya di perantauan, dan kini terngiang kembali ketika sedang mudik di kampung halaman kota Baubau yang ada di pulau Buton, Sulawesi Tenggara. Kota Baubau merayakan HUT setiap 17 Oktober .

 

Ada rasa rindu menggelora dalam dada, ketika kembali menginjakkan kaki di tanah kelahiran. Dalam perspektif psikologi, rindu seperti ini sering disebut homesick, suatu perasaan kondisi naluriah seseorang yang membutuhkan kasih sayang, perhatian dan rasa aman nyaman. Dan rasa itu terpenuhi ketika bertemu dengan orang tersayang yaitu orangtua, kakak, adik, keluarga, dan teman masa kecil. Perasaan rindu ini akan semakin besar sejalan dengan semakin jauh dan lamanya orang merantau.

Selama mudik di pulau Buton, saya pun menyusuri kembali jejak-jejak masa lalu, menggali ingatan terdalam untuk sekedar mengenangnya. Dari yang seru, menarik, menegangkan, hingga yang lucu. Salah satu yang terlintas yaitu tentang kenangan ketika SMP harus berlari tergopoh-gopoh karena pintu gerbang sekolah sudah akan ditutup. Terlambat. Itulah yang terbayang-bayang bagai hantu menakutkan.

Pikiran berkecamuk dan sangat takut jika sampai terlambat, lalu dihukum dan dilihat satu sekolah. Betapa malunya. Seharusnya tidak terlambat karena sudah berjalan cepat dari rumah, mengalahkan pejalan cepat di arena atletik stadion. Selain itu juga setiap harinya memang sering jalan kaki, pulang pergi ke sekolah. Tapi hasilnya masih tetap terlambat jika tidak berlari walau berangkatnya lebih awal. 

Tidak hanya itu, jejak lain masa lalu yaitu lintasan kenangan saat SMA tentang bagaimana perasaan hati dengan jahatnya menghampiri dan memaksa untuk berani menuliskan surat buat seseorang yang menawan hati, meski akhirnya surat tersebut ditolak mentah-mentah dan bikin gairah makan hilang berminggu-minggu. Tapi justru di situlah keindahannya. Mengenang masa konyol dan lucu adalah bagian terindah dari hidup. Dan banyak lagi kenangan lainnya di kampung halaman, Buton.

Buton, ketika kata tersebut diucapkan, mungkin sebagian orang akan langsung teringat dengan ‘aspal’. Ya, memang Pulau Buton yang berada di sisi tenggara kaki Sulawesi merupakan salah satu penghasil aspal alam dengan kualitas terbaik. Penelitian eksplorasi yang pernah dilakukan menunjukan hasil bahwa deposit aspalnya mencapai 650 juta ton, berkadar 10-40 persen dan terletak hanya 1,5 meter di bawah permukaan tanah.

Bisa dibandingkan dengan aspal alam yang dikelola di Amerika yang hanya berkadar 12-15 persen, atau di Danau Trinidad, Perancis yang berkadar 6-10 persen, dengan letak ratusan meter di bawah permukaan tanah. Buton memiliki harta terpendam berupa kekayaan alam tambang, meski menjadi sebagai daerah penghasil aspal tapi kala itu justru jalannya banyak berlubang, bahkan belum diaspal. Ketika tahun 70-an penambangan aspal masih sangat gencar, tapi justru hampir semuanya dibawa keluar Buton. Sebuah ironi yang ada di nusantara ini.

Tetapi selain dikenal sebagai daerah penghasil ‘aspal’, sebenarnya masih ada lagi hal menarik lainnya di Buton. Apakah itu? Bagi orang Buton pasti sudah lazim dengan ini, tapi di luar pulau Buton mungkin banyak yang belum tahu. Di Buton ada satu warisan budaya berupa Benteng Keraton Buton. Benteng ini termasuk sebagai Cagar Budaya Nasional yang tercatat dalam rekor MURI. Juga tercatat dalam Guinness of Records sejak tahun 2006, dan diakui sebagai Benteng terluas di Dunia.

Benteng Keraton Buton yang ada di daerah perbukitan kota Baubau memiliki panjang keliling mencapai 3 kilometer dengan tinggi dinding benteng rata-rata 4-8 meter menyesuaikan ketinggian tanah, dan lebar atau ketebalan sekitar satu setengah meter, tersusun dari batu alami. Luasnya mencapai 22,7 hektar. Benteng Keraton Buton ini bukan warisan penjajah, tapi murni dibangun dari hasil kerjasama gotong royong rakyat Buton pada saat itu, dimulai pada masa kepemimpinan Sultan Buton ketiga bernama La Sangaji.

Kompleks Benteng ini merupakan eks wilayah Kesultanan Buton, dan termasuk salah satu kerajaan/kesultanan dari puluhan kerajaan yang ada di Nusantara.

Kerajaan Buton mulai berdiri pada abad ke-13 Masehi atau sekitar tahun 1332 sampai abad ke-16 Masehi berubah menjadi Kesultanan setelah masuknya Islam di Buton, sekitar tahun 1541 M. 

Buton mulai dikenal dalam Sejarah Nasional karena telah tercatat dalam naskah Negara Kertagama Karya Mpu Prapanca pada Tahun 1365 Masehi dengan menyebut Buton atau Butuni sebagai Negeri (Desa) Karesian atau tempat tinggal para resi dimana terbentang taman dan didirikan lingga serta saluran air. Rajanya bergelar Yang Mulia Mahaguru. 

Cikal bakal negeri Buton untuk menjadi sebuah Kerajaan pertama kali dirintis oleh kelompok Mia Patamiana (si empat orang) Sipanjonga, Simalui, Sitamanajo, Sijawangkati yang oleh sumber lisan di Buton mereka berasal dari Semenanjung Tanah Melayu pada akhir abad ke – 13.

Begitulah sekilas tentang salah satu harta terpendam yang ada di Buton yaitu adanya Benteng terluas di dunia. Tentu saja masih banyak harta lainnya yang menarik tentang Buton dan Buton tidak hanya mewariskan kekayaan budaya saja, tapi juga kekayaan alam yang tampak maupun terpendam di perut bumi. Masih banyak yang bisa diceritakan tentang Buton. Salah satunya diceritakan melalui novel Serdadu Pantai, sebagai upaya untuk mengenalkan Buton ke masyarakat luas.

Mengenalkan kota Baubau sebagai salah satu kotamadya di Buton yang merupakan tempat adanya Benteng Keraton Buton yang menjadi wilayah pusat pemerintahan Kesultanan Buton. Selamat hari jadi ke 483 untuk Kota Baubau dan hari jadi ke 23 sebagai daerah otonomi.

Perjalanan mudik akibat rindu, dapat menjadi bagian awal untuk menceritakan banyak hal tentang Buton. Bukan hanya raga yang hadir, tapi juga berbagai kenangan masa lalu seolah menghampiri tanpa henti dengan beragam perasaan. Setiap orang akan selalu rindu rumah, tempat ia tumbuh besar dengan berbagai macam perasaan suka dukanya. Tapi berhati-hatilah dengan rindu, jangan sampai rindu pada orang yang salah! Bisa terbang melayang piring di dapur!*

 

Artikel Lainnya