Nasional

Debat Cagub Jakarta, Prof Tjandra Yoga: Ada Lima Aspek Kesehatan yang Harus Diwujudkan

Oleh : very - Selasa, 29/10/2024 20:42 WIB


Prof Tjandra Yoga Aditama. (Foto: Ist)

Jakarta, INDONEWS.ID - Sebagai kota sehat atau healty cities, Jakarta harus diwujudkan sebagai kota yang sehat.

Karena itu, perlu disadari bahwa suatu kota, termasuk Jakarta, adalah meta-system yaitu kesehatan warga kotanya dipengaruhi oleh interaksi multipel (multiple interactions) dan umpan balik multidireksional (multidirectional feedback).

Prof Tjandra Yoga Aditama mengatakan, memperbaiki dan menjaga kesehatan di kota memerlukan berbagai aksi (multiple actions) oleh berbagai aktor (multiple actors) di berbagai tingkatan (every level).

“Untuk itu amat pentingnya advokasi pada pemangku kebijakan untuk melakukan pendekatan agar perencanaan pembangunan kota (urban development planning) dilakukan dengan memperhatikan aspek kesehatan dan kesejahteraan berkesinambungan (sustainable health and well-being),” ujarnya di Jakarta.

Kegiatan ini, pertama-tama, tentunya memerlukan partisipasi aktif masyarakat kota dan pendekatan seluruh kelompok sosial masyarakat.

Kedua, warga Kecamatan Cilandak yang kebetulan sedang berada di Phnom Penh untuk kegiatan Airborne Infection Defence Platform (AIDP) ini mengusulkan tentang dua hal tentang rumah sakit di Jakarta.

Pertama, tentang konsep rumah sakit tanpa dinding (hospital without wall) di Jakarta. Rumah Sakit itu tidak hanya melayani kesehatan pasien yang datang tetapi juga turut berperan dalam kesehatan wilayah di sekitarnya dengan berbagai cara yang mungkin.

Usul kedua adalah adanya "wing sehat" di rumah sakit di Jakarta, sehingga orang sehat dapat berkonsultasi di RS agar tetap sehat.

Ketiga, kata Prof Tjandra, kesehatan lingkungan tentu juga punya andil besar. Beberapa waktu yang lalu kita disibukkan dengan polusi udara di Jakarta, juga ternyata masih ada warga kota ini yang masih belum memiliki jamban memadai.

Karena itu, dia mengingatkan lagi untuk semua pihak untuk menganalisa dan mencegah kemungkinan gangguan kesehatan berupa Sindroma Gedung Sakit (sick building syndrome) pada penghuni dan pekerja gedung-gedung tinggi di Jakarta.

Keempat, katanya, setidaknya ada tiga hal yang perlu dilakukan pemerintah Jakarta untuk mengatasi polusi udara.

Pertama, pemerintah harus berupaya maksimal agar polusi udara dapat dikendalikan, agar warga dapat menghirup udara bersih dalam kehidupannya sehari-hari.

Kedua, memberi informasi tentang kadar polusi udara secara rinci dan berkala kepada masyarakat secara lebih luas dan mudah dipahami.

Ketiga, kalau ada warga negara yang mengalami gangguan kesehatan, atau kelompok berisiko yang rentan terkena gangguan akibat polusi udara, maka pemerintah berkewajiban agar semua warga negara punya akses pada pelayanan kesehatan yang dibutuhkannya tanpa harus membebani ekonominya. “Inilah yang disebut konsep ‘Universal Health Coverage – UHC’,” ujarnya.

Kelima, kata Direktur Pascasarjana Universitas YARSI dan Guru Besar FKUI ini, tentang pentingnya kesehatan di mega city atau kota metropolitan yang penduduknya lebih dari 10-an juta. Karena itu, perlu dua motto penting bagi Jakarta.

Kesatu, kesehatan harus menjadi aset terpenting sebuah kota (“health should be every city’s greatest aset”).

Kedua mega city yang ideal adalah kota metropolitan yang menjadi episenter terwujuddnya kesehatan, keselamatan dan kesejahteraan yang baik (“the ideal megacity is an epicenter for good health, safety, and wellbeing”).

“Semoga Jakarta akan terus berkembang menjadi kota tercinta dan kebanggaan serta tonggak kesejahteraan warga kota,” ujar mantan Direktur Penyakit Menular WHO Asia Tenggara ini. *

Artikel Lainnya