Jakarta, INDONEWS.ID-- Israel terus menggempur kota-kota di pinggiran Lebanon, bahkan serangan itu terus diperluas. Sisi lain, seruan berbagai negara untuk melakukan gencatan senjata tidak digubris Perdana Menteri (PM) Benjamin Netanyahu.
Menurut PM Lebanon Najib Mikati, dengan melakukan serangan terus-menerus dan meluas, sudah semakin jelas Israel menolak gencatan senjata.
"Pernyataan dan sinyal diplomatik Israel yang diterima Lebanon mengonfirmasi kekeraskepalaan Israel dalam menolak solusi yang diusulkan dan bersikeras pada pendekatan pembunuhan dan penghancuran," ucap Najib, diberitakan AFP, Jumat (1/11).
Najib mengatakan, dirinya optimistis gencatan senjata bakal tercapai. Sebab, pada Rabu (30/10), utusan AS Amos Hochstein telah memberi isyarat selama panggilan telepon bahwa gencatan senjata dalam perang Israel-Hizbullah mungkin dilakukan sebelum pemilihan umum AS diadakan Selasa depan.
Pada hari yang sama, pemimpin baru Hizbullah Naim Qassem mengatakan, pihaknya akan menyetujui gencatan senjata dengan Israel di bawah persyaratan yang "tepat dan sesuai".
Perkembangan selanjutnya, pada Kamis (31/10),
Netanyahu menerima AS Amos Hochstein dan Brett McGurk membahas kemungkinan kesepakatan gencatan senjata di Lebanon.
Netanyahu mengatakan kepada utusan bahwa setiap kesepakatan Lebanon harus menjamin keamanan jangka panjang Israel.
Namun, alih-alih mendengarkan masukan As, Netanyahu terus membombardir kota-kota di pinggir Lebanon.
"Perluasan cakupan agresi musuh Israel terhadap wilayah Lebanon, ancaman berulang terhadap penduduk untuk mengevakuasi seluruh kota dan desa," kata Najib.
"Penargetan ulang wilayah pinggiran selatan Beirut dengan serangan destruktif merupakan indikator yang mengonfirmasi penolakan musuh Israel terhadap semua upaya yang dilakukan untuk mengamankan gencatan senjata," sambungnya.
Diketahui, sejak pertempuran di Lebanon meningkat pada 23 September, hingga saat ini perang tersebut telah menewaskan sedikitnya 1.829 orang menurut data kementerian kesehatan.