Opini

Setiap Peristiwa Melahirkan Karya

Oleh : luska - Senin, 23/12/2024 08:49 WIB


Penulis: Lutfi Taufik

Kejadian gagal terlaksananya pameran lukisan karya Yos Suprapto di Galeri Nasional mengingatkan saya akan peristiwa reformasi 1998, dimana saya saat itu cukup intens mengikuti dan menghadiri berbagai kegiatan politik baik itu berupa diskusi, aksi sampai menghadiri pameran lukisan yang berbau politis tentunya karena memang sang pelukis memotret kejadian pada sebuah peristiwa politik yang kemudian diekspresikannya dalam bentuk lukisan.
Pada waktu reformasi 1998 Djokopekik membuat karya trilogi lukisan yang berjudul "Berburu Celeng" kemudian ia melakukan sejumlah pameran, salah satunya di Taman Ismail Marzuki pada awal bulan November 1999 yang waktu itu saya menyempatkan diri untuk melihat langsung pameran tersebut sekaligus dapat bertemu sang maestro. "Berburu Celeng" sendiri merupakan tiga seri lukisan yg menggambarkan situasi kala itu menurut pandangan Djokopekik sebagai pelukis, dimana lengsernya presiden Soeharto sekaligus runtuhnya rezim order baru dan dimulainya era reformasi.

Kurang lebih sama dengan Djokopekik 25 tahun lalu, saat ini pelukis Yos Soeprapto membuat sejumlah karya yang bertema hilangnya kedaulatan pangan, tapi tentu saja karya ini tidak lepas dari situasi gonjang ganjing politik saat ini setelah pemilihan presiden yang dianggap dalam prosesnya tidak beretika karena mantan presiden Jokowi mengajukan anaknya sebagai calon wakil presiden dengan mengakali konstitusi. 

Tapi bila kita lihat karya tersebut setidak yang beredar di media sosial persoalan yang coba diekpresikan dalam bentuk lukisan tersebut lebih dari sekedar persoalan pergantian presiden atau kedaulatan pangan yang menjadi tema utama. Hal inilah yang menjadi kontroversial karena pameran tersebut akhirnya dibatalkan oleh Galeri Nasional karena menurut kurator ada 5 lukisan yang tidak bisa dipamerkan karena tidak sesuai tema.

Akhirnya kejadian ini menjadi berita yang cukup viral karena Yos Suprapto sebagai pelukis menolak untuk men-take down kelima lukisan tersebut.

Seperti judul tulisan ini bahwa 'setiap peristiwa melahirkan karya' tapi kali ini ada yang berbeda, dulu "Berburu Celeng" karya Djokopekik tidak sampai viral seperti karya Yos Suprapto, hanya kalangan tertentu yang menikmati lukisan tersebut karena hanya segelintir orang yang datang ke sebuah pameran, atau publik hanya menikmatinya dari foto yang terlampir pada tulisan di media massa, itu pun pasti tidak banyak. Djokopekik pun kala itu tidak mendapatkan pelarangan pameran karena rezim order baru sudah runtuh.

Berbeda dengan masa kini di era media sosial dimana sebuah issue dapat langsung menyebar dengan kecepatan dan cakupan yang tak terbatas di media sosial.

Batalnya pameran Yos Suprapto justru menjadi sebuah berita yang menarik ketika kondisi politik masih terasa cukup panas meski belum tentu meletus menjadi sebuah revolusi. Pelarangan sebuah karya seni di era media sosial saat ini dalam kondisi politik yang masih hangat justru akan menjadi pemicu meluasnya atau viralnya karya tersebut.

Masyarakat akhirnya menjadi tahu akan karya dan peristiwa yang menyertainya  karena berseliweran di media sosial seperti Facebook, Instagram, X dll. Mereka setidaknya tidak perlu datang ke Galeri untuk melihatnya langsung karya tersebut. Zaman memang sudah berubah.

 

Artikel Lainnya