Tawau, INDONEWS.ID - “Menyimak latar belakang Peringatan Hari Ibu sebagai salah satu hari bersejarah Bangsa Indonesia, maka sangatlah tidak tepat bila kemudian kita mereduksi Peringatan Hari Ibu hanya sebagai kegiatan membebastugaskan perempuan dari tugas domestik sehari-hari yang dianggap merupakan kewajibannya, seperti memasak, merawat anak, dan urusan rumah tangga lainnya,” demikian disampaikan Konsul RI Tawau Aris Heru Utomo dalam sambutannya pada upacara Peringatan Hari Ibu di Konsulat RI Tawau yang dihadiri seluruh Homestaff, pegawai setempat, Dharma Wanita Persatuan (DWP) dan perwakilan anggota masyarakat Indonesia di Tawau, Senin, 23 Desember 2024.
“Oleh karena itu, mari kita jadikan Peringatan Hari Ibu sebagai momentum penting untuk menghargai peran dan kontribusi perempuan dalam keluarga dan masyarakat ataupun dalam berbangsa dan bernegara. Hilangkan stereotip bahwa perempuan hanya mengurusi tugas rumah tangga,” seru Konsul RI Tawau mengingatkan.
Konsul RI Tawau mengingatkan hal tersebut karena masih terdapat stereotip di masyarakat bahwa perempuan hanya bertanggung jawab atas pekerjaan rumah tangga. Padahal terdapat peran dan perjuangan perempuan yang lebih luas, seperti dalam melakukan perjuangan kesetaraan gender, hak-hak reproduksi, dan penghapusan kekerasan terhadap perempuan.
Konsul RI juga menambahkan Peringatan Hari Ibu seharusnya dimaknai jauh lebih luas lagi yaitu sebagai upaya menguatkan peran perempuan dalam upaya mencapai tujuan bangsa Indonesia yaitu melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia, memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa dan ikut melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi, dan keadilan sosial.
Konsul RI Tawau kemudian menyampaikan bahwa Peringatan Hasri Ibu di Indonesia sejatinya berbeda dengan Hari Ibu atau Mother’s Day di berbagai negara di dunia, yang umumnya diperingati setiap minggu kedua Mei setiap tahunnya. Peringatan Hari Ibu di Indonesia diperingati setiap tanggal 22 Desember merujuk pada Keputusan Presiden Nomor 316 Tahun 1959 tentang Hari-Hari Nasional yang bukan Hari Libur. Pertimbangannya adalah Hari Ibu merupakan salah satu hari bersejarah bagi nusa dan bangsa Indonesia.
Tanggal 22 Desember sendiri dipilih sebagai Hari Ibu karena merujuk pada tanggal berdirinya Federasi “Perserikatan Perkumpulan Perempuan Indonesia (PPPI) pada 22 Desember 1928 dan sekaligus pembukaan Kongres Perempuan I yang berlangsung di Yogyakarta pada 22-25 Desember 1928. Tanggal berdirinya Federasi PPPI dan pembukaan Kongres Perempuan I tersebut oleh Kongres Perempuan III tanggal pada tanggal 23-27 Juli 1938, di Bandung, Jawa Barat, ditetapkannya Hari Ibu.
“Para perempuan yang ikut Kongres Perempuan Pertama hingga Ketiga adalah para perempuan aktif dan pejuang yang tangguh seperti Nyi Hadjar Dewantara (istri dari Ki Hadjar Dewantara, Bapak Pendidikan Indonesia) dan Siti Sukaptinah Sunaryo Mangunpuspito,” ujar Konsul RI Tawau.
“Bahkan Ibu Siti Sukaptinah pada 29 Mei – 1 Juni 1945 menjadi salah seorang anggota Dokuritsu Zunbi Cusokai atau Badan Penyelidik Usaha Persiapan Kemerdekaan (BPUPK). Sebuah badan yang dibentuk untuk mempersiapkan Dasar Negara dan Konstitusi apabila Indonesia Merdeka. Ibu Siti Sukaptinah juga aktif memperjuangkan kesamaan hak wanita dan pria dalam konstitusi UUD-RI 1945,” tambah Konsul RI Tawau lagi kepada seluruh peserta upacara Peringatan Hari Ibu di Konsulat RI Tawau.
Upacara Peringatan Hari Ibu ke-96 tahun 2024 diakhiri dengan pemberian ucapan selamat kepada seluruh staf perempuan dan anggota DWP Konsulat RI Tawau dan berfoto bersama di halaman Konsulat RI Tawau.
Sebelumnya, dalam rangka memperingati Hari Ibu tahun 2024, DWP Konsulat RI Tawau telah menyelenggarakan kegiatan donor darah dan imunisasi human papillomavirus (HPV) bagi seluruh WNI di Tawau. Suatu kegiatan untuk menunjukkan keterlibatan aktif perempuan dalam kehidupan keluarga, masyarakat, maupun dalam pembangunan bangsa melalui bidang kesehatan. Kegiatan ini selaras dengan tema perintatan Hari Ibu 2024 yaitu "Perempuan Menyapa, Perempuan Berdaya, Menuju Indonesia Emas 2045".