Jakarta, INDONEWS.ID-Pemecatan Shin Tae-yong dari posisi sebagai pelatih Kepala Timnas Indonesia masih berbuntut panjang karena adanya pro dan kontra.
Tudingan miring dari pihak yang kontra terhadap pemecatan diarahkan kepada PSSI sebagai yang bertanggung jawab terhadap timnas Indonesia dan yang telah memecat pelatih asal Korea Selatan itu.
Juga ada yang mengatakan bahwa Shin Tae-yong dipecat karena berpotensi tidak memenuhi target Timnas Indonesia lolos ke Piala Dunia 2026.
Timnas Indonesia dinilai gagal mengamankan posisi di klasemen Grup C kualifikasi Piala Dunia 2026 zona Asia karena kalah 2-0 melawan China.
Pemecatan Shin Tae-yong juga dikaitkan dengan kegagalan di ajang Piala AFF, kalah dari Filipina hingga gagal ke semifinal.
Terkait itu semua, Arya Sinulingga, anggota Exco PSSI dalam program Catatan Demokrasi TVONE pada Selasa (7/1/2025), buka suara untuk memberi pemahaman bagaimana keputusan ini diambil.
Arya mengakui bahwa PSSI tidak melakukan langkah populer dan aman ketika memecat Shin Tae-yong dari kursi pelatih timnas Indonesia.
Menurutnya PSSI tidak mencari aman atau popularitas sehingga mengambil langkah seberani ini untuk memecat Shin Tae-yong.
Arya juga menuturkan target lolos ke Piala Dunia 2026 tidak pernah disampaikan oleh PSSI. Kalau target Piala Dunia 2030, lanjut dia, ya betul.
"Kalau kita mencari aman, mencari popularitas, maka paling enak adalah mempertahankan STY. Kalau nanti gagal di Piala Dunia, maka yang dimaki-maki adalah Erick Thohir," ujar Arya.
"Target lolos Piala Dunia 2026 tidak pernah kita omongkan, PSSI selalu ngomong (Piala Dunia) 2030," tambahnya.
Menurutnya, tidak ada yang diuntungkan dengan keputusan ini. PSSI pun merugi setelah pemecatan Shin Tae-yong karena kewajiban membayar denda sisa kontrak sang pelatih yang masih hingga 2027.
"Kalau kami pertahankan STY, nggak hilang puluhan miliar uang PSSI karena denda yang harus kami bayar (untuk sisa kontrak STY). Ini puluhan miliar, jangan ngomong mafia nggak ada lah mafia yang mau bayar segede ini," ujarnya.
Dengan putusan ini, lanjut dia, PSSI mengambil resiko yang tidak aman, namun semuanya demi memperbaiki kualitas timnas Indonesia.
Arya kembali menyinggung pernyataan Erick Thohir ketika laga lawan China memang terjadi dinamika hubungan pemain dan Shin Tae-yong.
Namun, PSSI tetap memperhatikan apa yang diinginkan STY. Misalnya soal keinginan pemain naturalisasi. PSSI memberikan 14 pemain naturalisasi. Hanya saja STY dinilai tidak memaksimalkan
"Shin Tae-yong diberi kemewahan dalam naturalisasi, 14 pemain pada zamannya Erick Thohir itu, levelnya makin lama makin tinggi, pengelolaan pemain ini agak beda," kata Arya.
"Makin tinggi levelnya, ini pemain makin unik, tidak gampang menanganinya, berbeda cara komunikasi, kultur, semuanya, ke pemain yang lokal, maaf, dengan pemain-pemain diaspora yang muda, makin lama makin tinggi."
"Belum Kevin Diks, Ole Romeny nanti lebih unik lagi, tambah lagi yang lain, nanti makin unik, ini tidak seperti mengatur pemain biasa, nah disinilah problem mulai terjadi," benernya.
"Shin Tae-yong diberi kemewahan dalam naturalisasi, 14 pemain pada zamannya Erick Thohir itu, levelnya makin lama makin tinggi, pengelolaan pemain ini agak beda," kata Arya.
Menurut Arya, makin tinggi level pemain yang ada makan makin unik pula karakteristiknya. Maka cara penanganannya juga tidak mudah.
"Pemain makin unik, tidak gampang menanganinya, berbeda cara komunikasi, kultur, semuanya, ke pemain yang lokal, maaf, dengan pemain-pemain diaspora yang muda, makin lama makin tinggi," tandasnya.
Dia menyebut level pemain seperti Kevin Diks dan Ole Romeny yang lebih unik lagi. "Tambah lagi yang lain, nanti makin unik, ini tidak seperti mengatur pemain biasa, nah disinilah problem mulai terjad," ucapnya.