Jakarta, INDONEWS.ID - Selama ini kita dibuai oleh janji negara akan mengurusi kesehatan mental, namun pada realitanya, apakah semudah dan sebagus itu layanannya? Novel Jurang Salak Satu, yang baru saja mendapat penghargaan Juara 2 Kompetisi Menulis Pensi dan meraih status Best Seller dari Teori Kata Publishing, menguak realita suram yang mungkin berbeda.
“Memang secara fisik, layanan kesehatan membaik, namun birokrasinya tetap ruwet. Untuk akses ke psikiater via jaminan kesehatan saja, misalnya, dokumen yang harus diurus berbelit-belit. Sementara penyandang gangguan mental dalam kondisi terstigma, bahkan didiskriminasi karena dianggap gila, atau bahkan bagian dari masalah sosial, dan kemudian ditangkapi. Itu menghambat mereka mendapat layanan, “ ungkap Hariadhi, penulis novel Jurang Salak Satu.
Novel ini memang tidak secara frontal meluncurkan kritik, namun justru perwujudan dalam bentuk cerita metafora pesawat jatuh, dan sebagian kecil penumpangnya terjebak di kedalaman jurang, tanpa pernah ditemukan oleh Tim SAR, telah membungkus kritik tersebut secara indah.
“Pendekatan fiksi memang yang terbaik, apalagi jika yang kita kritik adalah hal sensitif dan mungkin membuat merah telinga pemimpin dan para ahli. Tapi bagaimanapun, kritik itu dilandasi rasa sayang, karena kita ingin bangsa ini terus berubah jadi lebih baik, “ tambahnya lagi.
“Isu kesehatan mental memang menjadi trend baru yang banyak dibahas para content creator dan influencer. Dari ratusan peserta Pensi vol 15 yang diadakan Teori Kata Publishing, ada sekitar 10 yang menyinggung kesehatan mental. Selain saluran untuk bersuara, menulis itu juga sudah banyak diakui menjadi terapi tersendiri bagi para penulis. Kita tahu sendiri di Indonesia, perhatian atas kesejahteraan penulis kurang memadai. Sulit bagi mereka untuk mengakses layanan kesehatan mental jika kesejahteraannya saja tidak diperhatikan,“ demikian ungkap Hariadhi yang telah belasan tahun menjadi Konsultan Komunikasi di bidang pemerintahan dan politik, terutama untuk topik kesehatan.
Dari praktisi kesehatan sendiri, kritik ini diterima dengan positif, “Memang jika kita punya niat positif untuk bekerjasama, harus lapang dada menerima kritik semacam ini, apalagi penyampaiannya juga tidak secara kasar. Cara penulis mengajak kita memahami masalah yang dihadapi penyandang gangguan juga bagus, tidak menggurui. Tapi harus tetap diingat bahwa ini karya fiksi, tidak boleh dijadikan bahan untuk menganalisa gangguan mental di dunia nyata. Hal semacam itu hanya boleh dilakukan oleh psikolog klinis atau psikiater. Penulis sendiri mengakui dan mengingatkan hal seperti itu sejak awal tulisannya,” tanggap Dr dr (Kol) Hisnindarsyah, salah satu penulis buku Psikiatri Matra Laut melalui pernyataan tertulis pada tanggal 30 Januari 2025.
Terkait efek positif menulis bagi kesehatan mental, penulis lainnya yang juga menjadi peserta mengungkap banyak benefit yang didapat dari kegiatan ini, “Saya merasa ruang gerak saya lebih luas dan mampu berekspresi. Dari yang awalnya introvert dan tertutup, sekarang jadi lebih mudah bergaul, dikarenakan seringnya berinteraksi dengan sesama peserta,” aku Tiara Ananda Putri, penulis Novel Author X Main Character yang juga ikut serta dalam kompetisi ini.