Jakarta, INDONEWS.ID - Setelah sukses merayakan Seabad Pramoedya Ananta Toer, Toko Buku Natan bersama Program Magister Sastra Universitas Gadjah Mada (UGM) kembali menggelar acara bersejarah, kali ini untuk merayakan Seabad A.A. Navis, sastrawan besar yang karya-karyanya telah melegenda di jagat sastra tanah air. Salah satu karya yang paling dikenal adalah cerpen Robohnya Surau Kami.
Acara yang digelar dalam suasana bulan Ramadhan ini mengundang para pecinta sastra untuk berkumpul dan membicarakan kiprah serta karya-karya Navis yang masih relevan hingga saat ini.
Acara yang berlangsung di Rumah Budaya NDalem Natan, sebuah bangunan cagar budaya di Kotagede, Yogyakarta, menghadirkan sejumlah narasumber terkemuka. Di antaranya, Dhianita Kusuma Pertiwi, seorang penulis dan kurator pameran A.A. Navis di Jakarta serta di UNESCO, Paris; Prof. Dr. Aprinus, seorang pakar sastra; dan Nasir Tamara, Ph.D. Selain itu, acara ini dimeriahkan dengan penampilan cello dari Lintang Pramudia Swara.
Salah satu momen penting dalam acara ini adalah peluncuran buku Kesalahan dan Kejahatan dalam Berbahasa karya Aprinus Salam. Buku ini mengangkat pentingnya menjaga keberlanjutan bahasa Indonesia di tengah arus globalisasi. Aprinus juga menekankan bahwa dalam Sumpah Pemuda tertulis "Satu Nusa, Satu Bangsa, Satu Bahasa", namun sayangnya, sumpah yang ketiga—yaitu mengenai bahasa—seringkali terabaikan.
Aprinus juga mengkritik perbedaan sikap antara Indonesia dengan negara-negara Barat, seperti Perancis, yang memiliki Académie Française untuk menjaga kelestarian bahasa nasional mereka. Buku ini dianggap penting untuk para penulis dan kreator konten guna meningkatkan kualitas berbahasa.
Nasir Tamara dalam kesempatan itu juga mengusulkan agar Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia membuat program pendampingan bagi para penulis Indonesia dengan potensi besar, termasuk mereka yang dapat meraih Hadiah Nobel Kesusasteraan.
Acara ini juga menjadi ruang diskusi menarik, di mana Aprinus Salam membandingkan sikap kritis A.A. Navis dengan Pramoedya Ananta Toer. A.A. Navis, yang lebih banyak mengkritik masyarakat dalam karya-karyanya, tidak pernah dipenjara, sementara Pramoedya yang lebih mengkritik pemerintah Orde Baru harus merasakan pembuangan ke Pulau Buru selama bertahun-tahun.
Dhianita Kusuma Pertiwi dalam pemaparannya mengungkapkan proses riset yang dilakukan untuk menyiapkan pameran 100 tahun A.A. Navis. Riset tersebut menelusuri kehidupan masa muda Navis di INS Kayutanam, di mana selain akademik, Navis juga mengembangkan keterampilan non-akademis seperti musik dan seni patung.
Riset ini bertujuan untuk mengenalkan kembali sosok A.A. Navis kepada generasi muda, agar arsip foto dan tulisan tentangnya tidak hanya menjadi catatan sejarah, tetapi bisa dinarasikan dengan cara yang menarik dan relevan dengan konteks masa kini.
Acara ini kemudian dilanjutkan dengan diskusi terbuka bersama para pembicara dan pecinta buku. Penyair Afnan Malay juga turut membacakan karya terbarunya yang berjudul Babi, sementara Nasir Tamara membaca Gurindam 12, karya klasik Raja Ali Haji yang sarat dengan pesan moral.
Sebagai penutup, acara ini juga menyuguhkan pameran lukisan dari 11 seniman Minangkabau yang telah memberi kontribusi besar dalam perkembangan pemikiran dan perjuangan Indonesia. Di antaranya adalah lukisan-lukisan tentang tokoh-tokoh penting seperti Bung Hatta, Sjahrir, H. Agus Salim, dan Tan Malaka.
Kegiatan yang penuh keakraban ini diakhiri dengan takjil dan berbuka puasa bersama, memberikan nuansa kebersamaan yang hangat di antara para peserta.*