Nasional

Ceritakan Detik-detik Gempa Dahsyat, Korban Gempa: Seperti Kiamat Rasanya, Saya Masih Gemetar

Oleh : Rikard Djegadut - Minggu, 30/03/2025 10:13 WIB


Jakarta, INDONEWS.ID – Pada Jumat siang, 28 Maret 2025, Myanmar diguncang gempa dahsyat dengan magnitudo 7,7 yang meluluhlantakkan sejumlah wilayah.

Kyaw Myo, seorang warga yang tinggal di pusat kota Yangon, mengungkapkan detik-detik terjadinya bencana alam tersebut. Ia masih terguncang oleh kejadian yang membuatnya sangat kaget.

Kyaw Myo, yang saat itu berada di lantai sembilan apartemennya, merasakan guncangan kuat meskipun jaraknya cukup jauh, sekitar 384 mil dari pusat gempa yang berada di Sagaing.

"Begitu gempa terjadi, saya langsung berlindung di bawah meja kerja. Gempa berlangsung sekitar 15 menit, dan saya masih tak bisa menutupi rasa kaget saya," ujarnya. "Seluruh Myanmar terdampak gempa dahsyat. Rasanya seperti kiamat, mohon doakan kami," tambahnya.

Akibat kerusakan yang parah, pihak Junta Militer Myanmar segera mendeklarasikan status darurat setelah gempa. Enam wilayah yang mengalami kerusakan berat yakni Sagaing, Mandalay, Magway, Northeastern Shan State, Naypyidaw, dan Bago, menjadi fokus penanganan.

Video yang beredar di media sosial menunjukkan kerusakan hebat di Bandara Internasional Mandalay, dengan plafon bangunan yang berjatuhan dan pengunjung serta pekerja berlarian menyelamatkan diri sambil melindungi kepala mereka.

Selain itu, gedung utama di Mandalay University juga hancur dan terbakar akibat gempa. Keadaan di Mandalay semakin parah dengan jalan-jalan yang putus dan jembatan penghubung yang rusak.

Jembatan ikonik yang menghubungkan Ava dan Sagaing, yang dibangun pada era kolonial Inggris dan membentang di atas Sungai Irrawaddy, juga rusak parah.

Foto dan video yang beredar menunjukkan kerusakan besar pada struktur jembatan tersebut. Biara Maha Aungmye Bonzan, yang dikenal dengan nama Me Nu Brick Monastery dan merupakan tujuan wisata terkenal, juga mengalami kerusakan pada atapnya.

Junta Myanmar melaporkan bahwa jumlah korban tewas akibat gempa meningkat menjadi 694 orang, sementara lebih dari 1.670 orang mengalami luka-luka.

Pemimpin junta Myanmar, Min Aung Hlaing, yang mengunjungi daerah terdampak, menginstruksikan agar pencarian dan penyelamatan korban segera dilakukan. "Kami akan melakukan segala yang diperlukan untuk menangani dampak bencana ini," ujarnya.

Bantuan internasional mulai mengalir, dengan Rusia dan China mengirimkan tim penyelamat, dokter, serta peralatan khusus untuk membantu pencarian korban dan evakuasi.

Tim penyelamat internasional diharapkan dapat mempercepat upaya pencarian dan penyelamatan di tengah kondisi yang semakin sulit akibat kerusakan infrastruktur dan komunikasi yang terputus.

Dengan kerusakan yang meluas dan korban yang terus bertambah, Myanmar kini berada dalam masa darurat yang sangat berat. Dukungan internasional sangat dibutuhkan untuk membantu negara ini pulih dari bencana gempa dahsyat ini.

Artikel Lainnya