Jakarta, INDONEWS.ID - Lapangan Santo Petrus di Vatikan dipenuhi suasana haru dan kesakralan pada Sabtu (26/4), saat ribuan pelayat dari berbagai penjuru dunia menghadiri misa pemakaman Paus Fransiskus. Upacara ini menjadi salah satu momen paling bersejarah dalam Gereja Katolik modern, tak hanya karena besarnya jumlah pelayat—sekitar 200.000 orang—tetapi juga karena sebuah peristiwa simbolis yang belum pernah terjadi sebelumnya.
Untuk pertama kalinya dalam sejarah pemakaman seorang Paus, doa umat beriman atau Doa Umat dibacakan dalam bahasa Mandarin. Suara lembut Kardinal Agostino Liu Bo menggema dalam bahasa yang belum pernah digunakan dalam upacara seperti ini sebelumnya:
“Bagi kita yang berkumpul di sini, bahwa setelah merayakan misteri suci, suatu hari kita mungkin dipanggil oleh Kristus untuk memasuki kerajaan-Nya yang mulia.”
Penggunaan bahasa Mandarin tersebut menjadi cerminan nyata dari perhatian mendalam Paus Fransiskus terhadap umat Katolik di China. Selama masa kepemimpinannya, Paus Fransiskus kerap menyuarakan keinginannya untuk mengunjungi China—kerinduan yang belum terwujud hingga wafatnya pada 21 April lalu. Namun, dedikasi terhadap hubungan dengan China tidak pernah surut. Pada 2023, beliau mengunjungi Mongolia dan bertemu dengan umat Katolik serta uskup dari China, dalam salah satu upaya mendekatkan jarak rohani.
Langkah lain yang mencerminkan komitmen tersebut adalah pengangkatan Giorgio Marengo sebagai Kardinal Mongolia pertama pada tahun 2022. Kini, Kardinal Marengo menjadi salah satu pemilih dalam konklaf mendatang yang akan memilih penerus Paus Fransiskus.
Misa pemakaman dipimpin oleh Kardinal Giovanni Battista Re, dengan doa-doa disampaikan dalam tujuh bahasa: Italia, Prancis, Arab, Portugis, Polandia, Jerman, dan Mandarin. Sebanyak 130 delegasi asing hadir, termasuk 55 kepala negara, 14 kepala pemerintahan, dan 12 raja yang berkuasa.
Pemakaman ini bukan hanya mengenang seorang pemimpin rohani dunia, tetapi juga mempertegas warisan universal Paus Fransiskus: kasih tanpa batas, dan harapan untuk dialog lintas bangsa serta iman yang menjangkau hingga ke ujung dunia—termasuk Tiongkok, yang selalu berada dalam doanya.