Jakarta, INDONEWS.ID - Pemerintah Amerika Serikat secara resmi menerima pesawat mewah Boeing 747 dari Kerajaan Qatar, yang rencananya akan di-upgrade menjadi pesawat kepresidenan alias Air Force One. Hal ini disampaikan oleh Pentagon dalam keterangan resminya, Rabu (21/5).
Menurut juru bicara Kementerian Pertahanan AS, Sean Parnell, pesawat tersebut kini berada dalam pengawasan Angkatan Udara dan akan menjalani proses modifikasi guna memenuhi standar keamanan dan operasional yang ditetapkan untuk pesawat kepala negara.
“Kementerian Pertahanan akan bekerja untuk memastikan langkah-langkah keamanan yang tepat dan persyaratan misi fungsional yang akan dipertimbangkan,” ujar Parnell, dikutip dari Reuters.
Meski demikian, Pentagon belum mengungkapkan perkiraan biaya maupun durasi upgrade pesawat tersebut.
Penerimaan pesawat dari Qatar ini memicu kontroversi di kalangan politik AS, khususnya dari Partai Demokrat. Sejumlah politikus menilai pemberian barang mewah oleh negara asing berpotensi menyalahi etika pemerintahan dan membuka celah praktik korupsi diplomatik. Partai Demokrat bahkan secara resmi meminta agar pemberian pesawat tersebut diblokir.
Menanggapi kritik tersebut, pihak Qatar menyatakan bahwa pemberian pesawat tidak mengandung unsur imbal balik atau kepentingan tersembunyi. Dalam pernyataan resminya, Qatar menyebut bahwa tidak ada pertukaran keuntungan dalam bentuk apa pun dan menolak tuduhan yang mengarah pada praktik tidak etis.
Sementara itu, mantan Presiden AS Donald Trump memberikan komentar tajam terhadap pihak-pihak yang menolak pemberian pesawat tersebut. Dalam pernyataannya, Trump menyebut bahwa "bodoh bila tidak menerima Boeing 747 dari Qatar", menilai hal itu sebagai peluang logistik strategis yang sayang untuk dilewatkan.
Hingga kini, belum ada keputusan final mengenai kelanjutan penggunaan pesawat tersebut sebagai bagian dari armada kepresidenan. Namun, sorotan tajam dari publik dan politisi diperkirakan akan terus mengiringi proses transisi pesawat tersebut menjadi Air Force One yang baru.