Nasional

Jusuf Kalla: Pemimpin Hebat Harus Mampu Mengambil Keputusan Tepat di Saat Krisis

Oleh : very - Minggu, 25/05/2025 12:35 WIB


Wakil Presiden RI ke-10 dan ke-12, H.M. Jusuf Kalla, dalam acara Meet The Leader Universitas Paramadina bertajuk "Leading Through The Storm: Resilient Leadership in Time of Crisis", di acara peremian Universitas Paramadina Kampus Kuningan di Trinity Tower dan Auditorium Benny Subianto, Kamis (22/5). (Foto: Ist)

 

Jakarta, INDONEWS.ID - Peran pemimpin bukan sekadar memimpin, tetapi juga menginspirasi, mempersatukan, dan mengambil keputusan yang tepat di tengah situasi genting.

“Tugas pemimpin adalah menginspirasi, mempersatukan, memberikan dorongan semangat, dan harus bertanggung jawab karena dia harus mengambil keputusan,” ujar Wakil Presiden RI ke-10 dan ke-12, H.M. Jusuf Kalla, dalam acara Meet The Leader Universitas Paramadina bertajuk "Leading Through The Storm: Resilient Leadership in Time of Crisis", di acara peremian Universitas Paramadina Kampus Kuningan di Trinity Tower dan Auditorium Benny Subianto, Kamis (22/5).

Berbicara di hadapan hadirin yang terdiri dari mahasiswa, dosen dan masyarakat umum, JK – sapannya Jusuf Kalla - menekankan pentingnya ketegasan dan keberanian seorang pemimpin.

“Keputusan yang baik harus cepat, punya dasar, dan dipahami oleh bawahan,” tambahnya.

Dalam pidatonya, JK juga menyoroti kondisi global yang penuh gejolak. Ia menyebut konflik Rusia-Ukraina, Israel-Hamas, hingga ketegangan di Asia seperti China-Taiwan dan Korea Selatan-Korea Utara sebagai tantangan nyata bagi stabilitas dunia, yang juga berdampak terhadap perekonomian Indonesia.

“Perang Rusia dan Ukraina membuat pasokan gandum terhambat dan gas Rusia ke Eropa tersendat. Negara-negara seperti Jerman dan Prancis pun mengalami kelangkaan energi,” ujar JK.

Ia juga mengkritik kebijakan tarif tinggi mantan Presiden AS, Donald Trump, yang menurutnya justru merugikan rakyat Amerika sendiri.

“Trump belum paham, justru kebijakan tarif tinggi itu akan membebani rakyat USA,” katanya.

Ia menilai kebijakan semacam itu adalah bentuk “kebijakan bunuh diri” yang memperburuk perang dagang global.

Di tingkat nasional, Jusuf Kalla mengungkapkan bahwa efek dari krisis global memperlambat pertumbuhan ekonomi Indonesia. Ia menyebut pertumbuhan yang semula direncanakan 5,2% menjadi hanya 4,8%.

“Bukan salah Prabowo, tetapi ini akibat akumulasi masalah masa lalu dan tekanan global saat ini,” ujar JK.

Karena itu, pemerintahan saat ini harus mengambil langkah efisiensi, meski hal ini berdampak pada terhambatnya sejumlah program.

JK pun menyoroti kondisi dalam negeri yang memprihatinkan, seperti meningkatnya pemutusan hubungan kerja (PHK) dan melemahnya konsumsi rumah tangga.

Ia menyebut fenomena ini sebagai “negative cycle” yang memperparah kemerosotan ekonomi. Menurutnya, tumbuhnya premanisme juga merupakan dampak dari pengangguran massal akibat krisis ekonomi.

Menutup pidatonya, JK mengajak generasi muda untuk memahami dinamika kepemimpinan di tengah krisis.

“Pemimpin yang hebat bukan hanya mereka yang berhasil dalam kondisi normal, tetapi mereka yang mampu mengambil keputusan tepat saat badai datang,” pungkasnya. *

Artikel Lainnya