Jakarta, INDONEWS.ID - Nama Nguyet Anh Duong kembali mencuat ke publik setelah militer Amerika Serikat (AS) menjatuhkan bom penghancur bunker (bunker-buster) ke tiga fasilitas nuklir bawah tanah Iran pada Minggu, 22 Juni 2025. Meski tak terlibat langsung dalam operasi tersebut, Duong—ilmuwan senior berdarah Vietnam—dikenal luas sebagai sosok di balik pengembangan teknologi senjata serupa yang digunakan dalam serangan itu.
Duong, kini berusia 65 tahun, mendapat julukan “The Bomb Lady” karena kiprahnya merancang bom BLU-118/B, bom termobarik berpemandu laser yang dikembangkan pasca-serangan 11 September 2001. Bom ini dirancang untuk menghancurkan ruang tertutup seperti gua dan terowongan persembunyian Al Qaeda di Afghanistan, tanpa mengorbankan lebih banyak pasukan.
"Saat saya membaca rincian teknisnya, saya langsung merasa familiar," ujar Duong dalam wawancara dengan The New York Times dari rumahnya di Maryland. Ia mengenali bahan peledak yang digunakan dalam serangan ke situs nuklir Fordow dan Natanz di Iran sebagai bagian dari teknologi yang ia kembangkan puluhan tahun lalu.
Dari Pengungsi ke Pengembang Senjata Top
Nguyet Anh Duong lahir di Saigon, Vietnam Selatan, pada 1960 dan tumbuh besar di tengah Perang Vietnam. Ayahnya adalah pejabat tinggi bidang pertanian, dan kakaknya seorang pilot militer. Pada April 1975, tepat sebelum jatuhnya Saigon, keluarganya melarikan diri ke Filipina dan kemudian mendapat suaka di AS.
"Kami datang sebagai pengungsi tanpa apa-apa," kenangnya. “Tapi kami bertemu begitu banyak orang Amerika yang baik hati.”
Setelah mengatasi hambatan bahasa dan sosial, Duong menorehkan prestasi akademik gemilang. Ia lulus dengan predikat kehormatan dari University of Maryland dalam bidang teknik kimia dan meraih gelar magister administrasi publik.
Tahun 1983, Duong mulai bekerja sebagai insinyur kimia di Indian Head Naval Surface Weapons Center, laboratorium Angkatan Laut AS. Ia kemudian memimpin berbagai program riset peledak berkekuatan tinggi dan sejak 2009 menjabat sebagai Direktur Divisi Perbatasan dan Keamanan Maritim di Departemen Keamanan Dalam Negeri AS.
Merancang Senjata Penentu Sejarah
Usai tragedi 9/11, Duong diminta untuk menciptakan senjata yang mampu menghancurkan jaringan gua Al Qaeda di Afghanistan. Dalam waktu hanya 67 hari—dari riset hingga produksi—timnya berhasil mengembangkan bom BLU-118/B.
"Bom ini dirancang agar tentara kita tidak perlu masuk ke terowongan satu per satu. Itu tentang menyelamatkan nyawa mereka,” jelasnya.
Teknologi tersebut kemudian berkembang menjadi GBU-57 Massive Ordnance Penetrator (MOP), bom penghancur bunker yang digunakan dalam serangan ke Iran. Meski tidak terlibat langsung, Duong menyebut dirinya bagian dari komunitas kecil pembuat bahan peledak.
“Saya mengenali bahan peledaknya. Wajah-wajah sahabat lama langsung terbayang,” katanya. “Ini bukan cuma karya saya, tapi hasil kerja tim.”
Antara Perang dan Perdamaian
Duong menyadari pekerjaan sebagai pengembang senjata sering dianggap kontroversial, terutama karena latar belakangnya sebagai pengungsi perang. Namun, ia menolak anggapan bahwa menciptakan senjata berarti menciptakan perang.
“Senjata hanyalah alat. Perang atau damai adalah pilihan manusia, bukan teknologinya.” katanya.
Ia menekankan bahwa tugas utamanya adalah memastikan tentara bisa pulang dengan selamat. Salah satu momen paling mengesankan dalam kariernya terjadi pada 2013, ketika seorang prajurit menghampirinya dalam sebuah konferensi dan berkata: "Kau menyelamatkan hidupku dan kawan-kawanku."
“Saya yang harus berterima kasih karena kamu mempertaruhkan nyawamu,” kenangnya, menirukan responsnya.
Hidup Damai Setelah Masa Dinas
Sejak pensiun pada 2020, Duong hidup bersama suaminya—juga imigran Vietnam—dan keempat anak mereka di Maryland. Ia menyebut hidupnya di AS sebagai sebuah “keberuntungan besar”.
"Kadang butuh orang luar untuk menyadari bahwa meskipun tak sempurna, negara ini adalah surga," ucapnya. “Anak-anak saya bertanya kenapa saya bilang kita menang lotre. Saya jawab: karena kita tinggal di sini.”
Dengan warisan teknologi militer yang masih digunakan hingga kini, Nguyet Anh Duong tidak hanya mencatatkan namanya dalam sejarah pertahanan AS, tetapi juga dalam kisah inspiratif diaspora Vietnam yang mengubah tragedi menjadi kekuatan.