Oleh: Achmad Fadillah (Pemerhati Kebijakan Publik, Antropolog)
Di tengah gemerlap lampu dan hembusan sejuk pendingin udara pusat perbelanjaan, sebuah
komedi tragis sedang dipentaskan. Lakonnya adalah kita semua, atau setidaknya, cerminan
dari masyarakat kita. Para pemeran utamanya dijuluki dengan nama yang jenaka namun
menusuk: "Rojali" dan "Rohana". Anda mungkin pernah bertemu mereka, atau jangan-jangan,
kita sendiri adalah bagian dari rombongan itu. "Rojali", akronim dari "Rombongan Jarang Beli",
dan "Rohana", kependekan dari "Rombongan Hanya Nanya". Mereka adalah keluarga dan atau
sekumpulan sahabat yang memadati koridor mal, mengisi meja-meja cafe, berfoto dengan latar
belakang etalase mewah, namun pulang dengan tangan yang sebagian besar hampa.
Mereka adalah penikmat suasana, bukan pelaku transaksi. Mudah sekali untuk menertawakan
atau mencibir fenomena ini sebagai kelakuan iseng generasi baru. Beberapa pejabat bahkan menganggapnya sebagai hal yang lumrah, sekadar pilihan konsumen di era digital untuk melihat barang di toko fisik lalu membelinya secara daring. Namun, jika kita berhenti sejenak dan melihat lebih dalam, tawa itu akan tersangkut di kerongkongan. Sebab, "Rojali" dan "Rohana" bukanlah sekadar tren media sosial. Mereka adalah lonceng peringatan yang
berdentang nyaring, sebuah barometer sosial yang mengukur tekanan di dalam dompet dan jiwa masyarakat Indonesia. Mereka adalah gejala dari sebuah penyakit ekonomi yang lebih dalam dan cerminan dari jiwa yang rentan dalam menghadapi krisis.
Evolusi Mal: Dari Pusat Belanja Menjadi Ruang Sosial
Untuk memahami mengapa mal menjadi tujuan utama, kita perlu melihatnya bukan lagi sekadar
sebagai pusat transaksi, melainkan sebagai "ruang ketiga" (third place) bagi masyarakat urban Indonesia. Konsep yang digagas sosiolog Ray Oldenburg ini merujuk pada ruang sosial di luar
rumah (ruang pertama) dan tempat kerja (ruang kedua), yang vital untuk interaksi komunitas. Di
tengah kota-kota kita yang mungkin minim taman publik yang aman, bersih, dan gratis, malsecara de facto telah mengambil peran sebagai alun-alun modern. Ia menawarkan sebuah paket lengkap: lingkungan yang nyaman, aman, dan penuh hiburan visual. Bagi banyak keluarga, berjalan-jalan di mal adalah bentuk rekreasi paling terjangkau. Ini adalah tempat untuk melepas penat, bertemu teman, dan sejenak melarikan diri dari himpitan rutinitas.
Di sinilah letak dilema fundamental bagi para pelaku bisnis. Model bisnis mereka dibangun di atas transaksi, namun nilai sosial mereka dan yang terpenting, keramaian yang mereka ciptakan berasal dari aktivitas non-transaksional. Para peritel mengeluhkan omzet yang seret meski pengunjung ramai, namun mereka lupa bahwa "produk" yang kini paling banyak dikonsumsi oleh pengunjung bukanlah barang di toko, melainkan ruang mal itu sendiri.Suasananya, kenyamanannya, dan panggung sosial yang ditawarkannya.
Mengurai Akar: Perlambatan Pertumbuhan dan Erosi Daya Beli
"Fenomena Rojali” bukanlah embusan angin sesaat tanpa sebab. Ia adalah wujud kasat mata
dari data-data makroekonomi yang mungkin terasa dingin, namun dampaknya begitu menohok.
Mari kita bedah mesin ekonomi kita. Pada kuartal pertama 2025, pertumbuhan Produk Domestik Bruto (PDB) kita melambat ke angka 4.87%, laju terlemah sejak pertengahan 2021.
Sumber utama perlambatan ini? Konsumsi rumah tangga, pilar yang menopang lebih dari separuh ekonomi kita, ikut melemah pertumbuhannya. Para analis ekonomi serempak menunjuk satu biang keladi: "melemahnya daya beli domestik". Ini bukan sekadar jargon, ini adalah realitas yang dirasakan di meja makan dan di kasir supermarket. Tekanan ini datang dari berbagai arah. Inflasi memang tampak terkendali di angka utama, namun jika kita perhatikan lebih saksama, harga-harga kebutuhan pokok seperti makanan, biaya perumahan, dan
kesehatan terus merangkak naik.
Kenaikan ini paling memukul anggaran rumah tangga kelas menengah ke bawah. Kelompok
inilah yang paling banyak menjadi "Rojali". Di saat yang sama, pasar tenaga kerja kita menunjukkan kerentanan. Angka pengangguran absolut meningkat menjadi 7,28 juta orang pada Februari 2025. Yang lebih mengkhawatirkan, tingkat pengangguran di kalangan anak muda (15-24 tahun) mencapai angka yang mencengangkan, 16.16%. Bayangkan, belasan dari seratus anak muda kita yang siap bekerja, tidak memiliki pekerjaan. Ditambah lagi, hampir 60% tenaga kerja kita berada di sektor informal, dengan pendapatan yang tidak menentu dan tanpa jaring pengaman sosial.
Data Survei Konsumen dari Bank Indonesia melengkapi gambaran suram ini. Meskipun secara
umum masyarakat masih "optimis", namun ketika ditanya lebih spesifik, keyakinan mereka goyah. Persepsi terhadap ketersediaan lapangan kerja dan rencana untuk membeli barang tahan lama (seperti elektronik atau kendaraan) terus melemah. Ini adalah bukti statistik bahwa masyarakat secara sadar menunda belanja besar dan cemas akan masa depan pekerjaan mereka. Sebuah kondisi yang sempurna untuk menjelaskan mengapa mereka lebih memilih "window shopping" daripada benar-benar membuka dompet.
Gaya Hidup di Era Digital: Tekanan Sosial dan Performa Identitas
Tekanan ekonomi hanyalah separuh cerita dari cerita antara “Rojali” dan “Rohana”. Separuh
lainnya terletak pada labirin psikologi sosial kita, sebuah dunia di mana citra seringkali lebih penting daripada realitas. Perilaku konsumsi tidak pernah murni soal kebutuhan. Ia adalah bahasa, sebuah cara kita mengkomunikasikan status, identitas, dan aspirasi. Di Indonesia, dengan kelas menengah yang tumbuh pesat namun rapuh, tekanan untuk "menjaga gengsi" begitu kuat.
Terdapat sebuah istilah untuk menggambarkan kondisi ini: "kelas menengah yang rapuh" yakni
sebuah kelompok yang "terlihat mapan di luar, namun rentan di dalam". Pendapatan mereka
mungkin pas-pasan atau tidak stabil, tetapi gaya hidup yang diproyeksikan harus tetap terlihat
"wah" atau tetap relevan dengan pergaulan. Ketika dompet menipis, kebutuhan psikologis untuk
mempertahankan status ini tidak ikut lenyap.
Sebaliknya, ia mencari jalan keluar lain. Inilah
yang terjadi pada "Rojali". Mengunjungi mal, kafe bermerek, atau restoran kekinian menjadi cara untuk tetap merasa menjadi bagian dari dunia aspirasional tersebut, sebuah cara untuk melakukan performance sebagai konsumen modern, bahkan ketika kemampuan untuk berkonsumsi secara riil telah terkikis.
Tekanan ini diperparah secara eksponensial oleh panggung raksasa bernama media sosial.
Platform seperti Instagram dan TikTok telah menjadi "panoptikon digital", di mana kita secara
konstan mengamati dan diamati, menciptakan desakan luar biasa untuk menyesuaikan diri.
Para influencer, yang seringkali dianggap lebih otentik daripada iklan konvensional , menyajikan aliran gaya hidup ideal yang tak berkesudahan, yang seringkali terlepas dari kenyataan ekonomi pengikutnya. Paparan terus-menerus ini melahirkan kecemasan, rasa tidak puas, dan dorongan untuk membeli bukan karena butuh, tetapi demi konten. Kunjungan ke mal pun bertransformasi menjadi sebuah teater sosial. Mal menyediakan panggung dan propertinya para "Rojali" adalah aktornya. Mengambil foto secangkir kopi (yang mungkin dibeli patungan), membuat video singkat, dan sekadar "check-in" di lokasi-lokasi ini adalah tindakan partisipasi dalam budaya konsumerisme yang tak lagi mampu mereka masuki lewat pintu transaksi.
Hal Ini adalah mekanisme pertahanan diri (coping mechanism). Di tengah ketidakpastian finansial ,
tindakan performatif ini memberikan ilusi normalitas dan kontrol. Ini adalah cara untuk berkata pada dunia (dan pada diri sendiri), "Saya masih relevan, saya masih bagian dari ini," meskipun
secara ekonomi mereka mulai terpinggirkan.
Dampak pada Industri Ritel: Adaptasi di Tengah Pergeseran Konsumen Dampak fenomena ini menciptakan ironi di lantai-lantai mal: ada yang menangis, ada yang justru tertawa. Sektor Makanan & Minuman (F&B) adalah pihak yang diuntungkan. Himpunan Peritel dan Penyewa Pusat Perbelanjaan Indonesia (Hippindo) mencatat bahwa omset peritel
F&B justru naik 5-10% per bulan. Ketua Umum Hippindo, Budihardjo Iduansjah,menggambarkannya fenomena ini dengan gamblang: "Minum satu yang ngumpul lima orang."Kafe dan restoran telah menjadi markas besar para "Rojali" untuk bersosialisasi. Secangkir kopi atau teh seharga puluhan ribu rupiah telah menjadi "tiket masuk" untuk menikmati fasilitas mal selama berjam-jam.
Sebaliknya, sektor non-F&B seperti fesyen, department store, dan elektronik menjerit paling
keras. Hippindo mencatat sektor fesyen masih anjlok 10-15% dibandingkan level pra-pandemi.
Konsumen menjadi sangat selektif, menunda pembelian barang yang tidak esensial, dan jika
terpaksa membeli, mereka akan mencari produk termurah. Ketua Umum Asosiasi Pengelola
Pusat Belanja Indonesia (APPBI), Alphonzus Widjaja, mengakui bahwa target pertumbuhan
omzet 20-30% kini terasa mustahil, dan mereka harus puas dengan pertumbuhan satu digit. Hal
Ini menunjukkan sebuah pergeseran fundamental.
Masalahnya bukan keengganan total untuk
berbelanja, tetapi pergeseran radikal dalam apa yang dianggap bernilai oleh konsumen. Mereka
bersedia membayar, bukan untuk kepemilikan barang, tetapi untuk akses pada pengalaman
sosial. Nilai telah bergeser dari produk material ke modal sosial yang didapat dari asosiasi dengan sebuah tempat atau merek.
Kesimpulan: “Rojali” dan “Rohana”Adalah Kita
"Rojali" dan "Rohana" bukanlah tokoh antagonis dalam drama ekonomi kita. Mereka adalah kita, tetangga kita, anak-anak kita yang mencoba bertahan dalam sebuah lanskap ekonomi yang sulit sambil berpegang pada kebutuhan dasar manusia untuk bersosialisasi dan diakui.
Mereka adalah cermin yang menunjukkan retakan dan celah dalam model pembangunan kita.
Mengabaikan mereka sebagai lelucon berarti kita memilih untuk tidak melihat bayangan kita sendiri di cermin itu. Sudah saatnya kita berhenti tertawa dan mulai mendengarkan. Karena dibalik candaan "Rojali" dan "Rohana", ada suara jutaan rakyat yang berharap akan masa depan yang lebih aman, lebih adil, dan lebih sejahtera. Sebuah masa depan di mana pergi ke mal adalah sebuah pilihan rekreasi yang menyenangkan, bukan sebuah keharusan yang didorong oleh keterbatasan.