Nasional

Anak-anak, Perempuan, dan Kehidupan: Catatan Rasa dari Osaka Expo 2025

Oleh : Rikard Djegadut - Kamis, 31/07/2025 11:52 WIB


Jakarta, INDONEWS.ID - Dalam dunia yang sering kali dikuasai logika, data, statistik, dan jargon teknologi tinggi, membaca sebuah catatan yang bersumber dari "rasa" terasa seperti menemukan oasis—ruang hening untuk merenung kembali tentang apa yang sesungguhnya penting.

Markus RA `kepra` Prasetyo, dalam tulisannya “Anak-anak, Perempuan, dan Kehidupan: Catatan Rasa dari Osaka Expo 2025,” mengajak kita untuk menyimak ulang masa depan bukan dari sudut pandang kekuasaan atau kepentingan global, melainkan dari nurani manusia biasa yang berjalan di antara paviliun dunia.

Catatan Markus bukan laporan teknokratis. Ia adalah kesaksian batin tentang bagaimana dunia berbicara kepada mereka yang mau menyimak dengan hati terbuka.

Ia mencatat bahwa masa depan tidak hanya dibentuk oleh kecanggihan, tetapi juga oleh keberanian untuk merawat: merawat anak-anak sebagai penjaga masa depan, perempuan sebagai penjaga kehidupan, dan bumi sebagai rumah bersama yang kian renta.

Mari kita simak tulisannya sebagai ajakan kontemplatif untuk bersama-sama menumbuhkan masa depan, dimulai dari rasa. 

"Anak-anak, Perempuan, dan Kehidupan: Catatan Rasa dari Osaka Expo 2025"
oleh
Markus RA `kepra` Prasetyo*)

Di tengah cepatnya kemajuan teknologi dan isu keberlanjutan global, bagi saya, Osaka Expo 2025 hadir sebagai ruang kontemplasi. Saya bukan ilmuwan, bukan pula pengamat kebijakan internasional. Saya hanya seorang warga biasa yang selama dua hari di bawah terik matahari di Teluk Osaka, mencoba menyerap makna dari tiap langkah di antara paviliun-paviliun dunia. Dan dari pengalaman singkat itulah, saya menangkap benang merah yang kuat: anak-anak, perempuan, dan keberlangsungan kehidupan adalah fondasi utama masa depan.

Anak-anak, perempuan, dan kehidupan. Itulah tiga kata yang tertanam kuat dalam benak saya seusai dua hari mengunjungi Osaka Expo 2025. Tiga kata yang melekat bukan hanya karena slogan `Designing Future Society for Our Lives` yang saya baca, melainkan juga karena pengalaman yang saya rasakan langsung di daratan reklamasi Yumeshima, tempat gelaran akbar dunia ini berlangsung.

Dua hari memang terlalu singkat untuk menyimpulkan sesuatu secara akademis, dan saya pun bukan orang yang punya kapasitas keilmuan untuk melakukannya. Saya hanya orang biasa, dengan kepedulian yang kadang tak terlampiaskan, mencoba memahami berbagai kejadian di sekitar lewat satu alat yang saya miliki: rasa.

Expo Osaka 2025 terbentang di atas lahan seluas 155 hektar, menampung sekitar 188 paviliun dari berbagai negara, lembaga internasional, hingga swasta dan pemerintah Jepang. Untuk menelusuri semuanya, mungkin butuh waktu sebulan penuh. Dalam dua hari kunjungan saya, saya sempat menyambangi tujuh paviliun: Panasonic, Mitsubishi, Women`s, China, Bahrain, Filipina, dan Indonesia.

Hari pertama, begitu keluar dari stasiun kereta di gerbang Expo, saya berpapasan dengan barisan panjang anak-anak TK yang menuruni tangga, pulang dari kunjungan mereka. Di dalam area expo, saya kembali menjumpai kelompok-kelompok pelajar, dari usia anak hingga remaja. Hari kedua pun serupa. Anak-anak sekolah seolah menjadi warna dominan dalam lanskap expo ini.

Bukan kebetulan bila tema besar Expo Osaka 2025 adalah anak-anak, perempuan, kehidupan, bumi, dan alam semesta. Dan dalam seluruh narasi itu, teknologi menjadi simpul yang mengikat keberlangsungan hidup. Teknologi semestinya lahir untuk menjaga dan merawat kehidupan, bukan merusaknya.

Ia bukan alat penggali yang mempercepat kehancuran bumi, melainkan jembatan menuju keberlanjutan. Maka, ketika eksplorasi salah arah telah memicu krisis iklim, koreksi hanya bisa dimulai dengan menanamkan pola pikir yang benar. Di sinilah anak-anak menjadi kunci. Di tangan mereka, paradigma baru tentang bumi yang lestari dapat tumbuh.

Alam semesta bukan sekadar masa lalu yang sudah terjadi. Ia adalah kisah panjang, yang, menurut ilmu pengetahuan hari ini, dimulai sejak lebih dari empat setengah miliar tahun lalu. Dan kisah itu terus bergerak melalui proses evolusi, kadang bahkan revolusi alam semesta, yang melahirkan kehidupan seperti yang kita alami hari ini. Namun, waktu bagi alam semesta dan waktu bagi manusia bergerak dalam skala yang berbeda. Pemahaman akan hal ini bisa membentuk cara berpikir baru tentang keberlangsungan kehidupan. Dan semua itu, sekali lagi, bermula dari pola pikir.

Kebaikan demi kebaikan yang akan hadir di masa depan selalu berakar dari satu tekad: menjalani hidup yang baik. Dan hidup yang baik adalah hidup yang memahami nilai kesetaraan, terutama dalam hal akses terhadap kehidupan itu sendiri. Karena itulah anak-anak menjadi fondasi, dan perempuan adalah rahim kehidupan.

Di paviliun WOMEN`S saya membaca kutipan dari Tetsuko Kuroyanagi: "Don`t ever say you can`t do anything because you are a woman." Di sana juga, ditampilkan data ketimpangan perlakuan dunia terhadap perempuan, sekaligus sosok-sosok perempuan yang hadir sebagai agen perubahan.

Dari paviliun Panasonic dan Mitsubishi, saya menangkap pesan yang selaras: tentang pentingnya pola pikir, nilai kebaikan, dan keberlanjutan kehidupan di tengah kemajuan teknologi.

Paviliun China menunjukkan visi kemajuan yang seimbang. Dimulai dari filosofi kuno Tiongkok tentang keseimbangan dan harmoni, kemajuan teknologi ramah lingkungan, dan membuka diri berkolaborasi dengan negara-negara lain untuk mewujudkan pembangunan yang berkesinambungan. Ada gimmick-gimmick menarik seperti ajakan menanam pohon secara virtual.

Paviliun Bahrain tampil informatif, menyodorkan data ekonomi, potensi industri dan pariwisata, hingga peluang kolaborasi dan investasi. Ada semangat membuka ruang bagi generasi muda.

Filipina memilih pendekatan artistik yang apik. Paviliunnya diwarnai oleh rajutan, tenunan, dan anyaman. Sisi promosi pariwisata ditampilkan dalam visual antara lain sawah terasering yang menyerupai Ubud dan gugusan pulau mirip Raja Ampat. Ini membuat saya tersenyum. Pemilihan positioning dan angle kreatif pameran yang jeli, yang membuat paviliun Filipina punya karakter yang kuat.

Di paviliun Indonesia, saya merasa sangat subjektif. Yang saya rasakan di sana serupa dengan apa yang saya rasakan saat saya  menjalani kehidupan sehari-hari sebagai orang Indonesia yang tinggal di Jakarta.

Inilah sebuah kesimpulan rasa. Dalam rasa, tidak ada benar atau salah. Maka wajar bila kesan saya berbeda dengan yang lain. Dan tak kalah wajar, jika ternyata kita merasakan hal yang sama.

Expo ini memang ajang global, tapi sangat menyapa dan menyentuh sisi personal. Apa yang saya temui bukan hanya soal kemajuan teknologi atau narasi pembangunan, melainkan ajakan untuk memulai dari pola pikir; dari cara kita melihat anak-anak, memposisikan perempuan dengan benar, dan menjaga keberlangsungan kehidupan bumi serta alam semesta. Dunia tidak bisa berubah hanya lewat berbagai konferensi, tapi ia akan tumbuh dari benih-benih nilai yang ditanamkan dalam kesadaran sehari-hari. Dan semua itu, sesungguhnya, dimulai dari rasa.

*) Markus Rozano Antar Prasetyo yang biasa dipanggil Bung Kepra atau Kepra, adalah seorang praktisi di bidang komunikasi, penyiaran dan penyelenggaraan event. Pernah menjadi pembawa acara televisi di era 90an dan pada Desember 2014 sampai April 2017 menjadi Direktur Program dan Berita TVRI.

Artikel Lainnya