Nasional

Saatnya ILUNI UI yang "Agak Laen"

Oleh : Rikard Djegadut - Kamis, 14/08/2025 10:48 WIB


Markus RA ‘kepra’ Prasetyo (Foto: Dok. Pribadi)

 Oleh: Markus RA ‘kepra’ Prasetyo*)

Jakarta, INDONEWS.ID - Pemilihan Ketua Umum Ikatan Alumni Universitas Indonesia (Pilketum ILUNI UI) datang lagi. Di tengah kontroversi soal perangkat UI Connect, E-voting dalam hitungan hari akan dilaksanakan. Lebih dari 23 ribu alumni sudah masuk daftar pemilih. Tapi dari setengah juta alumni UI, suara yang benar-benar “tercatat” belum sampai 5%.

Dan seperti biasanya, yang paling heboh justru bukan Musyawarah Nasional (Munas) ILUNI UI, tapi Pilketumnya. Padahal Pilketum hanyalah satu agenda di Munas. Yang harusnya jadi sorotan adalah Sikap Resmi ILUNI UI terhadap isu besar bangsa, ilmu pengetahuan, dan masa depan Indonesia.

Munas adalah momen strategis. Tempat alumni UI menunjukkan kepedulian dan kelasnya. Tapi sayang, yang terdengar malah riuh rendah pilketumnya. Mirip seperti audisi talent show: ada jargon, yel-yel, fans club, gimmick di media sosial, sampai paket janji program yang seakan-akan para kandidat akan kerja full-time mengurus organisasi.

Padahal kita tahu, mereka adalah orang-orang sibuk. Hari-harinya penuh meeting ke sana-sini. Masa jabatan ketua umum cuma tiga tahun. Rapat pengurus biasanya padat di awal, lalu surut pelan-pelan. Weekend  yang tadinya untuk organisasi, balik lagi jadi hak pasangan dan anak-anak.

Karena itu, alumni perlu realistis. Pilih kandidat yang janji-janji dan programnya masuk akal. Kalau ada yang programnya bombastis, jangan langsung tepuk tangan. Tanyakan: realistis enggak? Apalagi untuk hal-hal yang tumpang-tindih dengan ILUNI UI Fakultas—yang secara emosional lebih kuat dan solid.

Lalu soal akses jadi Ketua Umum. Sekarang, untuk nyalon saja harus setor pendaftaran dan deposit puluhan juta rupiah. Kalau ada alumni yang cakap, mumpuni, punya waktu, dan sudah selesai dengan dirinya

sendiri, tapi tak punya dana ya selamat tinggal. Di mana kesetaraan peluangnya?

Kompetensi itu soal integritas, pengetahuan, keterampilan, dan sikap. Bukan isi rekening. ILUNI UI seharusnya berdiri di atas meritokrasi dan nalar publik, bukan ikut tren transaksional yang mengukur segalanya dengan uang.

Menghitung hari menuju Munas. Lupakan gaya lama. Saatnya lahirkan ILUNI UI yang “agak laen": yang relevan, berani bicara untuk kepentingan publik, dan bermanfaat nyata bagi Depok, Salemba, dan seluruh Indonesia.

(kp.13.08.2025)

*) Markus RA ‘kepra’ Prasetyo adalah praktisi komunikasi, penyiaran, dan penyelenggaraan event. Pernah menjadi pengurus di beberapa organisasi sosial, profesi, dan perkumpulan alumni. Kepra merupakan  alumni FEB UI

Artikel Lainnya