Jakarta, INDONEWS.ID – Duka menyelimuti keluarga besar Andika Lutfi Falah (16), pelajar asal Tigaraksa, Kabupaten Tangerang, Banten. Siswa kelas 11 SMK Negeri 14 Kabupaten Tangerang itu dilaporkan meninggal dunia usai diduga mengalami kekerasan ketika aksi demonstrasi di sekitar Gedung DPR/MPR, Senayan, Jakarta, pada Jumat, 29 Agustus 2025 lalu.
Andika sempat mendapatkan perawatan intensif di Rumah Sakit Dr. Mintoharjo, Jakarta. Berdasarkan keterangan tim medis yang disampaikan kepada keluarga, korban mengalami luka berat di bagian kepala belakang akibat benturan benda tumpul hingga tidak sadarkan diri. Setelah menjalani perawatan di ruang ICU selama hampir 24 jam, nyawanya tidak tertolong.
“Keluarga dapat informasi itu di hari Sabtu sore. Ketika dijenguk, kondisinya sudah kritis. Akhirnya dinyatakan meninggal dunia,” ujar Sugiono, Ketua RT 02/06 Puri Bidara Permai, Tigaraksa, Senin (1/9), dikutip dari Antara.
Sugiono menuturkan, kedua orang tua Andika sebelumnya tidak mengetahui bahwa almarhum ikut dalam aksi demonstrasi di Jakarta. “Korban hanya pamit berangkat sekolah. Keluarga sama sekali tidak tahu kalau ia pergi ke Senayan,” ucapnya.
Dalam musibah ini, pihak keluarga menyatakan ikhlas dan tidak akan melanjutkan kasus tersebut ke jalur hukum. Mereka juga menyampaikan permohonan maaf atas keterlibatan almarhum dalam kerusuhan massa.
“Pihak keluarga tidak ada menindaklanjuti kasus ini. Alhamdulillah sudah ikhlas dan menjadi pembelajaran agar tidak terulang kembali,” tutur Sugiono.
Andika dikenal berasal dari keluarga sederhana. Ayahnya bekerja sebagai penjual kopi keliling, sementara ibunya seorang ibu rumah tangga. Sosoknya disebut sebagai anak yang baik dan bertanggung jawab.
Ucapan belasungkawa mengalir dari berbagai pihak. Ketua DPRD Kabupaten Tangerang, Muhamad Amud, bersama sejumlah anggota dewan hadir di rumah duka untuk takziah dan tahlil. “Kami menyampaikan rasa duka mendalam. Semoga almarhum diterima amal ibadahnya dan keluarga diberi ketabahan,” kata Amud.
Sekretaris Daerah Kabupaten Tangerang, Soma Atmaja, juga menyampaikan keprihatinan sekaligus imbauan agar para orang tua, guru, dan sekolah lebih meningkatkan pengawasan terhadap pelajar. “Kita harus menjaga anak-anak agar tidak terprovokasi ajakan yang belum mereka pahami,” ucap Soma.*