Gaya Hidup

Apang Taufik: dari Nelengnengkung ke Gelar Doktor, Sebuah Perjalanan Hidup

Oleh : rio apricianditho - Jum'at, 05/09/2025 19:01 WIB


Jakarta, INDONEWS.ID - Hidup adalah perjalanan panjang, penuh tikungan dan tanjakan. Ada yang melangkah lurus sejak awal, ada pula yang harus berputar jauh sebelum akhirnya sampai di tujuan. Begitulah kisah Apang Taufik, SH, MH, seorang pejuang pendidikan dan wirausaha yang kini tengah menempuh studi doktoral di bidang hukum.

Sejak kecil, perjalanan Apang penuh dengan keterbatasan. Di masa lalu, sekolah bukanlah hal yang mudah. “Kalau dulu, istilahnya nelengnengkung—serba nanggung. Mau sekolah jauh, harus ke Bandung, lebih jauh lagi daripada ke Jakarta,” kenangnya. Namun keterbatasan itu justru membentuk dirinya. Ia belajar bahwa hidup harus dijalani dengan jujur, apa adanya, tanpa berpura-pura. “Yang penting jujur. Kalau tidak jujur, bilang saja. Itu kuncinya,” ucapnya.

Dari Sekolah Rakyat hingga Perguruan Tinggi

Apang memulai pendidikan dari Sekolah Rakyat (SR), melanjutkan ke SMP, lalu menempuh pendidikan setingkat SMA. Baginya, setiap jenjang bukan sekadar gelar, melainkan tangga menuju perubahan. Ia menekuni studi hukum, melanjutkan S1, lalu S2 di salah satu perguruan tinggi swasta di Jakarta. Kini, di usia dewasa dengan pengalaman hidup panjang, ia tengah mengejar gelar S3 hukum.

Belajarnya tak pernah lepas dari kerja keras. “Kata kuncinya jangan menyerah. Apapun kalau dikerjakan dengan sungguh-sungguh, insya Allah ada buahnya. Semua ada proses,” kata Apang.

Dari Logistik hingga Dunia Usaha

Selain menekuni pendidikan, Apang juga menempuh jalur wirausaha. Ia pernah terjun dalam dunia logistik internasional, menangani pengiriman barang dari Indonesia ke berbagai negara di Asia, Eropa, hingga Amerika. Tak sekadar barang umum, ia bahkan mengantongi izin khusus untuk menangani dangerous goods—barang berbahaya seperti baterai dan bahan kimia yang hanya bisa diurus oleh tenaga ahli bersertifikat.

Bisnisnya juga merambah ke sektor fesyen. Di ITC Permata Hijau, Jakarta Selatan, ia membuka usaha penjualan pakaian wanita dengan desain eksklusif. Lokasinya strategis, dekat Gelora Bung Karno, Hotel Mulia, hingga kawasan bisnis ibu kota. “Tidak semua orang bisa membeli. Walaupun ada uang, kalau tidak ada minat, ya tidak akan mengambil. Desain itu soal selera,” ujarnya.

Namun, lebih dari sekadar berdagang, Apang menanamkan nilai sosial dalam usahanya. Ia pernah menyisihkan hasil penjualan untuk membeli ribuan bata merah yang kemudian disumbangkan guna pembangunan masjid. “Mudah-mudahan Allah mengabulkan niat baik ini,” harapnya.

Filosofi Hidup: Jujur dan Bersyukur

Dalam setiap langkah, Apang memegang teguh prinsip kejujuran. Menurutnya, kejujuran adalah modal utama yang membuat orang percaya, kembali, dan memberikan amanah. “Kalau kita jujur, orang akan mencari kita lagi. Itu ibaratnya jembatan. Jangan lupa siapa yang membuat jembatan itu. Bersyukur selalu,” katanya.

Baginya, hidup juga bukan tentang menjadi individu yang terpisah, melainkan makhluk sosial yang harus berinteraksi. “Kalau tidak tahu, tanya. Malu bertanya, sesat di jalan. Dengan komunitas, hidup jadi terang benderang, jalan yang semula gelap bisa terbuka seperti jalan tol,” ucapnya penuh keyakinan.

Menapak Gelar Doktor

Kini, Apang Taufik menapaki jalannya menuju gelar doktor hukum. Gelar akademik baginya bukan sekadar simbol, melainkan amanah untuk bermanfaat bagi sesama. Dari masa kecil penuh keterbatasan, hingga kini berada di lingkaran akademisi tinggi, ia percaya bahwa tidak ada ilmu yang sia-sia.

“Apapun yang kita jalani, semua butuh proses. Tidak ada yang instan. Dari nelengnengkung hingga ke gelar doktor, semuanya karena kerja keras, doa, dan kejujuran,” tutupnya.

Artikel Lainnya