Oleh: Diana Widiastuti
Ketika Presiden Prabowo Subianto melihat seorang anak berusia 10 tahun dengan tubuh sekecil anak berusia lima tahun saat masa kampanye dulu, itu bukan sekadar potret kemiskinan, melainkan peringatan keras: ada generasi Indonesia yang sedang terancam masa depannya karena gizi buruk. Dari pengalaman itulah lahir tekad untuk meluncurkan program Makan Bergizi Gratis (MBG), sebuah intervensi negara yang langsung menyentuh jutaan anak Indonesia.
Antara Manfaat Besar dan Kekurangan Teknis
Sejak awal, kita tentu paham bahwa program sebesar MBG tidak mungkin bebas dari kendala teknis. Ada laporan keterlambatan distribusi, kelalaian dapur yang menyebabkan keracunan, hingga potensi penyimpangan anggaran. Namun mari jujur: apakah insiden seperti itu cukup untuk menyimpulkan program ini gagal?
Logika yang adil adalah membedakan antara program yang visioner dan kelalaian teknis yang bisa diperbaiki. Sama seperti kita tidak menghapus BPJS Kesehatan hanya karena ada satu-dua puskesmas yang pelayananannya buruk, maka kita juga tidak pantas menuntut MBG dihentikan hanya karena ada segelintir kasus.
Komitmen Perbaikan yang Tegas
Presiden sendiri sudah menegaskan: bila ada penyimpangan anggaran, manipulasi SOP, atau permainan birokrasi, semua akan ditindak tegas. Artinya, negara tidak menutup mata terhadap kelemahan, tetapi justru membuka ruang perbaikan agar tujuan besar—menekan stunting, meningkatkan kualitas fisik dan otak anak bangsa—bisa tercapai.
Kita harus bersabar, karena program sebesar ini butuh waktu menuju zero complaints. Evaluasi dan pembenahan berkelanjutan adalah kuncinya.
Kritik: Konstruktif atau Destruktif?
Dalam demokrasi, kritik itu sehat. Tetapi kritik yang layak adalah kritik yang menyertakan solusi. Menolak program MBG hanya karena alasan politik, atau karena gengsi menerima makanan gratis, sama sekali tidak produktif.
Bahkan, jika ada orang tua yang merasa sanggup memberi makan anaknya lebih berkualitas, silakan membuat surat resmi agar jatah MBG dialihkan untuk anak-anak lain yang lebih membutuhkan. Itu baru sikap yang konsisten, berpendirian, dan menunjukkan integritas.
Jangan Lupakan Esensi
Di balik hiruk pikuk kritik, mari kita ingat esensi MBG: jutaan anak Indonesia yang sebelumnya berangkat sekolah dengan perut kosong kini mendapatkan asupan bergizi setiap hari. Manfaat ini jauh lebih besar daripada beberapa kasus insidental.
Membela MBG bukan sekadar membela kebijakan presiden, tetapi membela hak dasar anak-anak bangsa untuk tumbuh sehat, cerdas, dan berdaya saing.
Penutup
Sebagai bangsa, kita sebaiknya tidak terjebak pada nalar sempit “menolak karena ada masalah kecil”. Lebih mulia jika kita bersama-sama mengawal, mengawasi, dan memperbaiki agar MBG benar-benar menjadi warisan berharga bagi masa depan Indonesia.
Makan Bergizi Gratis adalah bukti cinta negara kepada rakyatnya. Menyempurnakannya jauh lebih penting daripada menghentikannya.