Jakarta, INDONEWS.ID - Profesional itu dipupuk sejak dini dan tidak ada jalur cepat atau surat sakti menjadi profesional. Negeri dengan 200 juta lebih penduduknya tapi sulit mencari pemain sepakbola handal, Pemain Timnas era 70-an Anjas Asanara menilai pentingnya menggelar liga di usia dini, seperti liga Jakarta U-17 untuk mencari pemain nasional masa depan.
Liga Jakarta U-17 digagas sekelompok orang yang peduli sepakbola nasional, lalu mereka menggelar kompetisi kelompok umur 17 guna menemukan pesepakbola era mendatang. Liga JakartaU-17 Piala Gubernur 2025, jadi ajang pembibitan sekaligus penegasan Jakarta sebagai kota bola.
Liga tersebut telah bergulir sejak 19 April lalu dan berakhir pada tanggal 2 November 2025, di lapangan sepakbola eks Markas Besar TNI AU, Pancoran, Jakarta Selatan atau dikenal sebagai gedung Dirgantara. Diikuti 16 Sekolah Sepakbola (SSB) di Jabotabek, menggunakan skema kompetisi penuh untuk mencari peraih Piala Gubernur Jakarta.
Sabtu (11/10) Anjas Asmara hadir kala Bina Jaya bertemu Bina Mutiara, pertandingan dimenangkan Bina Jaya dengan skor 3 - 1. Ia pun mengomentari liga tersebut. Menurutnya, liga Jakarta U-17 adalah liga yang baik dan pantas untuk skala nasional.
"Ini liga bagus, dikelola secara baik dan benar. Sebaiknya memang seperti itu kalu kita ingin menemukan bibit pemain nasional harus sejak usia remaja", ungkap mantan pemain Timnas yang nyaris membawa Indonesia tampil di Olimpiade Montereal, Kanada.
Lalu ia mengatakan, di liga tersebut kita bisa temukan pemain depan, tengah, belakang hingga penjaga gawang. Banyak bibit di liga ini tinggal kita membina mereka. Seharusnya induk olahraga ini melirik dan menjadikan ini ketingkat lebih tinggi, kalau bisa nasional.
Lalu ia berkaca pada timnas yang nanti malam akan bertemu Irak, seusai dikalahkan Arab Saudi 2 - 3. Timnas kita tidak punya penyerang murni, lihat saja pemain "bule-bule" itu selalu kesulitan membobol gawang lawan. Di liga U-17 kita bisa lihat bagaimana anak-anak itu piawa membobol gawang, ada 4 gol di pertandingan yang baru saja selesai.
Karena itu, ia bersyukur ada pihak yang mau menggelar liga remaja, sehingga kita bisa terus menemukan bibit baru pemain timnas. "Bukan naturalisasi pemain liga kelas 3, kelas 4 yang gugup menyarangkan bola ke gawang lawan", tambah mantan pemain depan timnas menutup komentarnya.