Seorang ahli kejiwaan di suatu seminar mengatakan, ada 3 rasa yang diberikan ke manusia pertama rasa lapar, rasa haus dan rasa sayang. Menurutnya, kita akan merasa lapar, merasa haus, dan punya kasih sayang, 3 rasa itulah yang akan terus ada selama kita hidup.
Rasa lapar dan rasa haus tak akan selalu ada, bahkan seorang ODGJ pun akan mencari makan dan minum meski pikirannya terganggu, rasa itu tak 'mati' begitu saja meski akal pikirnya terganggu.
Sementara rasa ketiga yang dianugerahi ke kita kadang berubah menjadi horor, kala rasa ini tak menemukan ke hati yang dituju. Banyak cerita seram akibat rasa ini, dan datang ke semua orang tanpa pandang bulu, anak-anak, remaja, dewasa atau para sesepuh menerima rasa tersebut.
Kehadirannya tanpa permisi tapi datang seperti tsunami, meyapu akal, nurani dan logika kita. Bila tak siap menerima rasa sayang ini, penerimanya bisa saja berubah sikap dan perilakunya. Dari yang lembut menjadi bringas, yang urakan berubah santun, kadang ada pula yang ekstrim menjadi pemangsa sesamanya (manusia adalah srigala bagi manusia lain).
Banyak kita jumpai perubahan sikap akibat 'terpapar' rasa sayang, seperti kawan yang lama kukenal, ia mendadak menjadi pujangga meski ia benci membaca puisi, dan kadang ia bersenandung lagu sendu padahal yang kutahu koleksi lagunya adalah musik cadas nan hingkar bingkar.
Dari hari ke hari keanehan itu ia perlihatkan, pada suatu ketika ia pun tak tahan menahan gelombang rasa sayang. Ia pun bercerita bahwa perasaannya terganggu saat melihat perempuan dari tanah Pasundan asyik bicara dengan seorang pengacara kondang, senyum dan tingkahnya membuat temanku seketika dadanya bergetar.
Namun sungguh disayangkan, temanku tak pernah sempat berkenalan dengannya tapi hatinya sudah tertambat di perempuan asal Sukabumi. Karena itulah perilakunya berubah akibat tak mampu menahan gejolak hatinya. 4 bulan sudah perilakunya masih seperti itu, mungkin hanya setahap lagi dia bisa disebut ODGJ.
Perlu kah kita mengolah rasa? Iya bila kita tak mampu mengatasi perasaan tersebut fatal akibatnya baik buat orang yang menahan perasaannya dan juga untuk orang lain. Maka perlu menumpahkan tekanan rasa itu, bisa dengan teman yang dia percaya atau pergi ke psikiater, bisa juga self healing (menyembuhan sendiri) meditasi menetralisir tekanan itu.
Rasa sayang (cinta) itu anugerah, tinggal bagaimana kita menyikapinya, mampukah kita menerima berkah nan besar itu jika tidak petaka yang akan kita alami. Banyak orang menyarankan bagi yang menerima anugerah itu tetap mengolahnya dengan logika, kenyataanya rasa sayang sering bertolak belakang dengan logika, ia menghasilkan ilusi.
Luapkan saja jangan pernah disimpan dalam hati, paling baik adalah ke mereka yang menimbulkan perasaan itu jika seperti kasus temanku yang gagal berkenalan, cari orang yang kita percaya untuk mengeluarkan perasaan itu. Atau melangkah lah ke psikiater guna mencegah hal buruk, jika enggan ke ahli jiwa ambil cata lain dengan meditasi.
Tersiksa,? Iya, berat? Iya tapi itu semua harus diolah karena perjalan kita panjang dan harus tetap hidup. Olah lah rasa itu jangan kita dikontrol oleh ilusi, dibius angan meski berat melakukannya tapi wajib diolah rasa itu agar anugerahNya tak berubah petaka.