Nasional

PNM Mekaar Dukung Ibu Rantiyem Hidupkan Kembali Warisan Batik Keluarga

Oleh : Rikard Djegadut - Jum'at, 21/11/2025 07:45 WIB


Jakarta, INDONEWS.ID - Di balik geliat ekonomi ultra mikro di Indonesia, terselip kisah inspiratif seorang perempuan tangguh bernama Ibu Rantiyem, nasabah Program Membina Ekonomi Keluarga Sejahtera (Mekaar) binaan PT Permodalan Nasional Madani (PNM).

Perjalanan usahanya bukan kisah singkat. Lebih dari 30 tahun lalu, sekitar tahun 1990, Rantiyem kecil sudah akrab dengan dunia batik. Ia membantu orang tuanya yang memiliki usaha membatik rumahan, mulai dari memproses pola, mencelup warna, hingga menjemur kain batik. Keterampilan itu sempat terputus ketika ia merantau mengikuti suami dan berdagang di pasar demi mencukupi kebutuhan keluarga.

Saat mulai berdagang di pasar, Rantiyem terkendala modal. Di titik itulah ia bergabung menjadi nasabah PNM Mekaar. Melalui program ini, ia mendapatkan pembiayaan sekaligus pendampingan usaha. Modal pertama itu digunakan untuk memperkuat usaha dagang di pasar, menambah stok barang, dan memperluas jangkauan pelanggan.

Seiring waktu, setelah melewati pasang surut berdagang, keinginan untuk kembali ke dunia batik yang telah dikenalnya sejak kecil mulai tumbuh. Ia merasa keterampilan yang diwariskan orang tuanya tidak boleh hilang begitu saja.

Dengan dukungan pendamping PNM Mekaar dan berbagai pelatihan yang diikuti, Rantiyem mulai merintis kembali usaha batik rumahan. Baginya, langkah ini bukan sekadar membangun bisnis, tetapi juga menghidupkan kembali warisan keluarga.

“Saya sudah bisa membatik sejak dulu bantu orang tua. Setelah mendapat pendampingan dan dukungan dari PNM, saya beranikan diri mulai mengurus izin usaha batik ini. Semua dokumen dan prosesnya dibantu, jadi saya lebih yakin mengembangkan usaha,” ujar Rantiyem.

PNM tidak hanya membantu dari sisi legalitas usaha, tetapi juga memberikan ruang bagi Rantiyem untuk berkembang melalui berbagai pelatihan dan fasilitasi keikutsertaan dalam bazar UMKM. Dari bazar-bazar tersebut, ia mulai dikenal sebagai pembatik rumahan dengan motif khas, dan memperoleh banyak pemesan baru.

“Saya ingin batik ini jadi peninggalan untuk anak cucu. Saya dulu belajar dari orang tua, dan sekarang saya ingin nerusin supaya keluarga saya punya usaha yang bisa bertahan lama. Berkat PNM saya jadi yakin meninggalkan warisan usaha batik yang sudah memiliki izin usaha,” tambahnya.

Sekretaris Perusahaan PNM, L. Dodot Patria Ary, menegaskan bahwa perjalanan Rantiyem menjadi contoh nyata bagaimana perempuan prasejahtera dapat berkembang ketika mendapatkan akses, ruang, dan pendampingan yang tepat.

“PNM terus berupaya membuka kesempatan bagi keluarga prasejahtera untuk hidup lebih baik. Kami percaya, usaha yang dibangun dengan pendampingan yang tepat dapat menjadi pijakan masa depan keluarga. Siapa tahu, usaha batik Bu Rantiyem kelak bisa menjadi warisan yang diteruskan oleh generasi berikutnya,” ungkap Dodot.

Hingga kini, PNM telah memberdayakan lebih dari 22 juta perempuan prasejahtera melalui pembiayaan ultra mikro dan program pemberdayaan berkelanjutan. Kisah Ibu Rantiyem menjadi bukti bahwa pemberdayaan bukan hanya soal modal, tetapi juga tentang membuka pintu bagi perempuan Indonesia untuk menghidupkan kembali mimpi dan warisan terbaik dalam hidup mereka.

#PNMPemberdayaanPerempuan

Artikel Lainnya