Opini

Melihat Ketangguhan Kepemimpinan Eka Putra di Tengah Ujian Bencana

Oleh : luska - Selasa, 09/12/2025 13:09 WIB


Penulis: Hijrah Adi Sukrial
Masyarakat Tanah Datar

Siang malam dia berjalan dari satu titik pengungsian ke titik lainnya, dari satu lokasi longsor ke lokasi lainnya, dari satu jembatan putus ke jembatan lainnya, dari satu jalan amblas ke jalan lainnya, dari satu Nagari ke Nagari lainnya. 

Dia tidak ikut memegang cangkul pura-pura membersihkan rumah warga, tidak membawa parang, pura-pura gotong royong, tidak memikul beras, pura-pura empati. 

Tapi, Eka Putra hadir merasakan bagaimana penderitaan rakyatnya, memastikan apa kebutuhan warganya, memberikan rasa aman pada mereka, melihat langsung kondisi mereka. 

Lalu, dia mengambil keputusan, dia berkoordinasi, dia memberi komando. 
Dia pantau dan terus follow up perkembangannya dari waktu ke waktu. 

Saya telah berkali-kali mendampingi Bupati Eka Putra turun ke lapangan ketika bencana menerjang Tanah Datar. Apa yang saya lihat langsung membuat saya merasa perlu menuliskan ini, karena Eka Putra menjadi satu-satunya Bupati Tanah Datar yang pernah memimpin di masa pandemi Covid-19, galodo Marapi, di masa efisiensi anggaran, hingga bencana hidro meteorologi. 

Dia harus mengatasi kekacauan dalam segala keterbatasan namun tetap menjalankan program unggulan, memberikan pelayanan kepada masyarakat, dan membangun Tanah Datar dengan sepenuh jiwa. 

Pengalaman beliau menghadapi galodo Gunung Marapi tahun 2024 benar-benar menempa kemampuan, ketenangan, serta ketegasannya dalam memimpin. Maka ketika banjir, longsor, dan banjir bandang akhir November 2025 kembali menghantam berbagai nagari, saya melihat seorang pemimpin yang tidak lagi gagap oleh tekanan—tetapi justru berdiri semakin kuat, semakin terlatih, dan semakin matang.

Bagi saya, Eka Putra adalah pemimpin yang hadir—siang dan malam, tanpa jeda—bersama rakyatnya.

Di tengah hujan yang tak kunjung reda, jalan yang terputus, serta suasana masyarakat yang diliputi kecemasan, beliau tidak hanya mengeluarkan instruksi dari kantor. 

Beliau datang langsung ke titik-titik terdampak bersama TNI, Polri, BPBD, dan seluruh perangkat daerah. Saya melihat sendiri bagaimana beliau menyusuri rumah-rumah warga yang amblas, meninjau tanggul yang jebol, berdiri di tepi sungai yang melebar, dan berbicara dengan keluarga yang mengungsi. Kehadirannya bukan simbolik—tapi nyata, penuh empati, dan memberi rasa aman.

Satu hal yang saya catat sebagai pelajaran kepemimpinan:
Eka Putra tidak menunggu bantuan datang dari pusat. Ia menggerakkan seluruh kemampuan yang dimiliki Tanah Datar terlebih dahulu.

Beliau mengerahkan Satgas Penanggulangan Bencana, mengaktifkan seluruh OPD, dan menyusun sistem piket ASN di posko-posko. Menyusun SOP, menyajikan data, mengatasi masalah. 

Mereka bekerja tanpa henti: mendata pengungsi dan kerusakan, membuka akses nagari yang terisolasi, mengatur logistik, bahkan memikul bantuan ke titik-titik yang sulit dijangkau. Semua bergerak karena instruksi beliau jelas, tegas, dan langsung.

Beliau juga mengajak PKK, Bundo Kanduang, hingga guru-guru untuk terlibat dalam dapur umum, layanan ibu-anak, serta trauma healing bagi anak-anak yang ketakutan akibat bencana. Saya melihat sendiri bagaimana pengungsian berubah menjadi tempat aman bagi anak-anak untuk menggambar, bermain, dan kembali tersenyum — sebuah detail kecil, tetapi sangat berarti.

Di sisi keamanan dan penanganan lapangan, beliau hampir tidak pernah terpisah dari Dandim dan Kapolres. Mereka bertiga selalu tampak bersama di titik-titik kritis — memimpin evakuasi, mengatur pembukaan jalan, memastikan distribusi logistik berjalan tertib, dan memberi semangat kepada warga serta relawan.

Dalam manajemen tanggap darurat, beliau memimpin dengan tertib dan transparan. Status “tanggap darurat” ditetapkan dengan cepat, dan dari posko utama beliau memaparkan data yang lengkap dan terbuka: jumlah pengungsi, korban jiwa, rumah rusak, fasilitas umum terdampak, hingga kerusakan pertanian. Transparansi ini membuat Tanah Datar dapat bergerak cepat dan tepat sasaran.

Beliau tetap berkoordinasi dengan BNPB dan pemerintah pusat, tetapi bukan dalam posisi menunggu — melainkan dalam posisi bekerja, bergerak, dan siap menyambut bantuan yang datang. Inilah yang membuat Tanah Datar tidak limbung: sinergi antara kemandirian dan koordinasi.

Semua ini membuat saya yakin, sepenuh hati:
Eka Putra bukan hanya menjalankan tugas sebagai bupati. Ia menjaga tanah kelahirannya seperti menjaga bagian dari dirinya sendiri.

Di saat banyak orang hanya melihat hasil, saya menyaksikan prosesnya — dan proses itu dipenuhi dedikasi, ketegasan, empati, dan cinta yang tulus kepada masyarakat Tanah Datar.

Semoga Tanah Datar selalu diberi kekuatan.
Dan semoga pemimpin yang bekerja dengan hati seperti Eka Putra selalu diberi kesehatan dan kemampuan untuk terus mendampingi rakyatnya.

Meski terus ada yang mencaci maki dan mencari kesalahannya, namun dia terus berjalan dengan senyum dan keyakinan akan janji Allah SWT : Bahwa  beserta kesulitan ada kemudahan. Sesungguhnya beserta kesulitan ada kemudahan.

 

TAGS : Tanah datar

Artikel Lainnya