Jakarta, INDONEWS.ID – Israel pada Senin tetap mempertahankan status siaga maksimum di seluruh wilayahnya sebagai antisipasi kemungkinan serangan militer Amerika Serikat terhadap Iran. Langkah ini diambil di tengah kekhawatiran adanya serangan balasan dari Teheran yang berpotensi menyasar Israel.
Stasiun penyiaran publik Israel, KAN, melaporkan bahwa status “siaga maksimum” telah diberlakukan selama lebih dari sepekan menyusul meningkatnya kemungkinan aksi militer AS terhadap Iran. Kekhawatiran tersebut diperkuat oleh pernyataan pejabat militer Israel yang menyebut Iran dapat menargetkan Israel sebagai respons atas serangan Amerika.
“Teheran dapat menanggapi serangan Amerika apa pun dengan mencoba menargetkan Israel,” ujar Kepala Komando Utara Israel, Mayor Jenderal Rafi Milo, dalam pernyataannya yang disiarkan Channel 12, seperti dikutip Anadolu.
Milo menambahkan bahwa pasukan AS saat ini telah ditempatkan di kawasan Teluk Arab, meskipun belum ada kejelasan mengenai langkah selanjutnya dari Washington. Ketegangan antara AS dan Iran sendiri meningkat sejak gelombang protes anti-pemerintah meluas di Iran pada bulan lalu.
Di sisi lain, media Amerika Serikat CBS News melaporkan bahwa kapal induk USS Abraham Lincoln bersama tiga kapal perusak pengawalnya telah tiba di Samudra Hindia pada Jumat lalu dan bergerak menuju Teluk Oman sebagai bagian dari antisipasi kemungkinan serangan AS terhadap Iran. Seorang pejabat AS mengatakan gugus tempur kapal induk tersebut telah memasuki wilayah Komando Pusat AS yang mencakup kawasan Timur Tengah, termasuk Iran.
Gugus tempur tersebut terdiri dari kapal induk USS Abraham Lincoln serta tiga kapal perusak rudal berpemandu, yakni USS Frank E. Petersen, Jr., USS Spruance, dan USS Michael Murphy. Di atas kapal induk tersebut ditempatkan sejumlah alutsista canggih, termasuk jet tempur F/A-18E/F Super Hornet, EA-18G Growler, F-35C, serta helikopter MH-60R/S.
Namun demikian, pasukan angkatan laut AS tersebut belum sepenuhnya berada di posisi akhir yang direncanakan. Presiden AS Donald Trump pada Sabtu turut mengonfirmasi pergerakan armada tersebut dan menyatakan Washington memantau secara ketat perkembangan situasi di Iran.
Pemerintahan AS menegaskan seluruh opsi, termasuk tindakan militer, masih terbuka dalam menghadapi Teheran. AS dan Israel disebut memiliki kepentingan untuk mengubah sistem pemerintahan Iran. Menanggapi hal itu, pejabat Iran memperingatkan bahwa setiap serangan AS akan dibalas dengan respons yang cepat dan menyeluruh.
Media Nournews, yang dekat dengan Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran, melaporkan peringatan dari Jenderal Mohammad Pakpour kepada AS dan Israel agar tidak melakukan kesalahan perhitungan. “Garda Revolusi Islam dan Iran tercinta lebih siap dari sebelumnya, siap siaga untuk melaksanakan perintah dan arahan Panglima Tertinggi,” ujar Pakpour.
Ketegangan terbaru ini mengingatkan pada konflik pada Juni lalu, ketika Israel dengan dukungan AS melancarkan perang selama 12 hari melawan Iran. Konflik tersebut memicu serangan balasan berupa drone dan rudal dari Teheran sebelum akhirnya Washington mengumumkan gencatan senjata.
Selama bertahun-tahun, Israel dan Iran saling memandang sebagai musuh utama dan kerap terlibat dalam tudingan aksi sabotase serta serangan siber. Israel, AS, dan sejumlah negara Barat menuduh Iran berupaya mengembangkan senjata nuklir. Namun Teheran membantah tudingan tersebut dan menegaskan program nuklirnya semata-mata untuk tujuan damai, termasuk pembangkit listrik.
Sementara itu, Israel secara luas diyakini sebagai satu-satunya negara di kawasan Timur Tengah yang memiliki persenjataan nuklir. Meski demikian, Tel Aviv tidak pernah secara resmi mengakui hal tersebut dan tidak berada di bawah rezim inspeksi Badan Energi Atom Internasional (IAEA).