Opini

Garuda Tak Gentar Terbang Sendiri: Monumen Ingatan untuk Letjen (Purn) Agus Widjojo, Sang Pelopor Paradigma

Oleh : luska - Selasa, 10/02/2026 09:10 WIB


Oleh Pande K. Trimayuni, Ketua FOKAL UI

Ingatan adalah arsip dan kesaksian manusia adalah bukti sejarah. Ingatan bukanlah lumbung data yang statis namun denyut nadi yang membentuk anatomi sejarah. Saat narasi sejarah yang dimiliki publik terjebak dalam kabut distorsi dan tidak bisa murni bercerita tentang apa yang terjadi di masa lalu, maka ingatan orang-orang dapat memberikan bukti alternatif. Ingatan kolektif masyarakat merupakan darah dan daging yang akan mengisi catatan perjalanan suatu bangsa. Tidak sekedar catatan administrasi, ingatan manusia merekam suasana kebatinan suatu peristiwa. Ingatan kolektif sejatinya adalah penjaga sejarah dan identitas masyarakatnya.

Dalam konteks inilah, penting rasanya untuk menuliskan pemikiran dan sikap yang dimiliki seorang anak bangsa yang akan terus ada dalam ingatan publik, yaitu Letjen (Purn) Agus Widjojo yang baru saja wafat pada 9 Februari 2026.  Seseorang yang memiliki kombinasi langka dan dahsyat antara kedisiplinan ala militer, kecerdasan intelektual dan keberanian moral untuk menyatakan kebenaran. 

Seorang pemikir dan pejuang demokrasi yang berani melawan arus, apalagi untuk seseorang yang dibesarkan dalam tradisi militer. Beliau adalah seorang militer dan Ayahandanya adalah Pahlawan Revolusi, Mayjen (Purn) Sutoyo Siswomiharjo. Masyarakat mencatat bahwa beliau adalah tokoh kunci dibalik paradigma baru TNI yang mengakhiri dwifungsi ABRI dan percaya pentingnya supremasi sipil melalui reformasi sektor keamanan. Di tangan beliau reformasi sektor keamanan bukan sekedar slogan, melainkan sebuah manifestasi pengabdian kepada demokrasi. Beliau secara tegas mengkritik pelibatan tentara dalam birokrasi, kekuasaan dan politik. Dalam kapasitasnya sebagai Ketua Lemhanas, beliau juga mengambil peran untuk menggerakkan dialog dan rekonsiliasi peristiwa 1965. Dharma baktinya terakhir adalah sebagai Duta Besar RI untuk Filipina.  

Secara pribadi saya mengikuti pemikiran beliau dalam berbagai kesempatan. Secara keorganisasian, kami dari organisasi FOKAL UI pernah mengundang beliau beberapa waktu yang lalu untuk bertukar pikiran tentang analisis situasi nasional terkini. Diskusi saat itu sangat seru dan dinamis dan membahas mulai dari persoalan hubungan sipil-militer sampai klaim laut China Selatan. Diskusi kami kemudian menjadi lebih lama dari yang direncanakan. Namun demikian beliau tidak apa-apa waktunya terambil, malah tetap fokus menjawab keingintahuan teman-teman dan mengelontarkan guyonan-guyonan.  Saya merasakan pikiran menjadi sangat sehat, waras dan bersemangat dengan diskusi tersebut. Ini tidak terlepas dari sikap beliau yang memang sangat terbuka dan mau menerima perbedaan pendapat, sehingga semua orang, dari berbagai latar belakang merasa nyaman.

Saat menemukan kembali photo acara kami saat itu, ada kilatan rasa sedih yang mendalam. Rekaman ingatan tentang acara diskusi saat itu terputar kembali di pikiran. Masih terbayang antusias teman-teman untuk menghadiri diskusi. Saat beberapa orang sudah balik duluan karena hari sudah terlalu larut, banyak yang masih bertahan hingga diskusi berakhir. Itupun yang mengakhiri adalah waktu yang sudah tidak mungkin lagi. 

Di photo dokumentasi turut berphoto dua orang yang juga sudah wafat mendahului kita, yaitu Mas Budi Djarot, tokoh aktivis yang terkenal keberanian dan idealisme tingginya melalui “Gerakan Jaga Indonesia” serta senior kami dari Psikologi UI, Mas Imo yang mendedikasikan dirinya tanpa batas untuk kemanusiaan. Saya bersaksi mereka orang-orang Baik dan menjadi inspirasi bangsa untuk tetap mencintai Indonesia dan berkontribusi terbaik untuk bangsa. Mari kita menundukkan kepala berdoa dan berterima kasih untuk orang-orang hebat ini.

Keterangan Photo:
Photo 1, Photo FOKAL UI bersama Letjen (Purn) Agus Widjojo, Photo 2, Saat saya menyerahkan kenang-kenangan sebuah ukiran Burung Garuda kepada Letjen (Purn) Agus Widjojo. Burung Garuda adalah simbol kecerdasan, keberanian dan tidak takut terbang sendiri untuk suatu kebenaran. Dalam sastra diceritakan tentang Garuda yang mencari tirta amerta (air kehidupan) dengan gagah berani dan mampu bernegosiasi dengan para dewa yang menunjukkan kecerdasan intelektual dan kemampuan diplomasi yang tinggi.

Pande K. Trimayuni, Feb 10th, 2026

Artikel Lainnya