Jakarta, INDONEWS.ID - Pemimpin Redaksi Indonews.id sekaligus Ketua Dewan Pakar Bulir.id, Asri Hadi, menjadi salah satu undangan yang menghadiri peluncuran buku Satu Abad Ibu Rahmi Hatta: Pribadi Unik yang Mendidik dan Meneladani, Senin (16/2/2026), di kediaman keluarga Mohammad Hatta, Jalan Diponegoro Nomor 57, Menteng, Jakarta Pusat.
Acara yang digelar dalam rangka peringatan 100 tahun kelahiran Rahmi Hatta ini dihadiri puluhan tokoh nasional lintas bidang. Buku tersebut disunting oleh Meutia Hatta, putri tertua Bung Hatta.
Tampak hadir Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (Menteri PPPA), Arifah Fauzi dan Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional (PPN)/Kepala Bappenas Prof. Dr. Ir. Rachmat Pambudy, M.S., alumni SMA Negeri 3 Teladan Jakarta seperti Dewi Motik, Miranda Gultom, dan Ella Rosihan Anwar. Turut hadir Guntur Soekarno Putra.
Pantauan di lokasi, sejumlah karangan bunga tampak berjejer di sekitar rumah, salah satunya berasal dari Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah.
Peringatan satu abad Rahmi Hatta diselenggarakan oleh keluarga besar Bung Hatta bersama Yayasan Hatta. Acara ini dirancang sebagai ruang refleksi lintas generasi untuk mengenang perjalanan hidup, keteladanan, dan kontribusi Rahmi Hatta bagi bangsa Indonesia—bukan hanya sebagai pendamping Proklamator, tetapi juga sebagai figur perempuan dengan identitas dan kiprah mandiri di ruang sosial dan kebudayaan.
Selain peluncuran buku, digelar pameran dokumentasi yang menampilkan arsip keluarga, foto, surat, serta pemberitaan media pada masanya. Keistimewaan pameran ini adalah penampilan perdana Bintang-Bintang Jasa milik Bung Hatta dan Rahmi Hatta kepada publik, termasuk tampilan fisik Kiswah pemberian Abdulaziz bin Abdul Rahman Al Saud, serta berbagai barang pribadi lainnya.
Rangkaian peringatan ini akan berlanjut dengan diskusi, talkshow, dan pameran hingga 12 Agustus 2026. Panitia berharap, peringatan Satu Abad Rahmi Hatta menjadi momentum untuk merawat ingatan sejarah dan meneladani nilai kesederhanaan, ketangguhan, serta pengabdian yang diwariskan Rahmi Hatta—sebagai inspirasi bagi masyarakat Indonesia dalam menjiwai pengabdian kepada bangsa.
Siapa Rahmi Hatta
SITI Rahmiati Hatta adalah sosok perempuan luar biasa yang berhasil mencuri hati Mohammad Hatta, Wakil Presiden pertama Indonesia. Dikenal dengan nama asli Rahmi Rachim, ia lahir di Bandung pada 16 Februari 1926. Kisah cintanya dengan Bung Hatta menjadi salah satu cerita inspiratif dalam sejarah Indonesia. Yuk, kenali lebih dekat Siti Rahmiati Hatta dan pesona yang membuat Bung Hatta jatuh cinta!
Siti Rahmiati Hatta, atau yang akrab disapa Yuke, adalah putri sulung dari Abdul Rachim, seorang pegawai kereta api di Bandung, dan Siti Satiah Annie, keturunan Aceh yang aktif dalam organisasi perempuan Wanito Sejati. Ia tumbuh dalam keluarga yang peduli pada pendidikan dan kebangsaan. Rahmi menempuh pendidikan di Europeesche Lagere School, Het Christelijk Lyceum, dan Meer Uitgebreid Lager Onderwijs di Bandung. Selama masa pendudukan Jepang, ia bekerja di Institut Pasteur Bandung, tempat ia pertama kali bertemu Bung Hatta.
Pertemuan Siti Rahmiati Hatta dengan Mohammad Hatta terjadi di Institut Pasteur, Bandung. Saat itu, Bung Hatta, yang dikenal sebagai tokoh perjuangan kemerdekaan, langsung terpesona oleh kecerdasan dan kharisma Rahmi. Namun, Bung Hatta memiliki prinsip kuat untuk tidak menikah sebelum Indonesia merdeka. Setelah Proklamasi Kemerdekaan pada 17 Agustus 1945, ia akhirnya melamar Rahmi dengan bantuan Soekarno. Pada 18 November 1945, mereka menikah di Megamendung, Bogor, saat Rahmi berusia 19 tahun dan Bung Hatta 43 tahun.
Apa yang membuat Siti Rahmiati Hatta begitu istimewa di mata Bung Hatta? Selain kecantikannya, Rahmi dikenal cerdas dan memiliki wawasan luas. Ia mampu berbicara dalam bahasa Belanda, yang sering menjadi topik diskusi menarik dengan Bung Hatta. Rahmi juga dikenal sederhana, berwibawa, dan mendukung penuh perjuangan suaminya untuk Indonesia. Ia selalu setia mendampingi Bung Hatta, baik dalam suka maupun duka, termasuk saat masa pengungsian di Yogyakarta pada 1946-1949.
Sebagai istri Wakil Presiden pertama Indonesia, Siti Rahmiati Hatta memilih hidup sederhana meski berstatus sebagai keluarga elit. Ia fokus pada pendidikan karakter untuk ketiga putrinya: Meutia Hatta, Gemala Hatta, dan Halida Hatta. Rahmi menanamkan nilai-nilai kejujuran, kedisiplinan, dan tanggung jawab. Selain itu, ia aktif dalam kegiatan sosial, memberikan kontribusi pada masyarakat meski lebih banyak berperan di ranah domestik.
Siti Rahmiati Hatta memiliki pandangan kuat tentang pendidikan karakter. Ia percaya bahwa kejujuran, toleransi, dan semangat kebersamaan adalah kunci untuk membangun generasi yang kuat. Nilai-nilai ini ia terapkan dalam mendidik anak-anaknya, yang kemudian menjadi pribadi sukses dan berdedikasi untuk Indonesia. Gagasannya tentang pendidikan karakter tetap relevan hingga kini, menginspirasi banyak orang untuk hidup jujur dan menghindari korupsi.
Siti Rahmiati Hatta meninggal dunia pada 13 April 1999 di usia 73 tahun. Ia dimakamkan di samping makam Bung Hatta di TPU Tanah Kusir, Jakarta. Hingga akhir hayatnya, ia dikenang sebagai perempuan yang tidak hanya menjadi pendamping setia Bung Hatta, tetapi juga simbol kekuatan dan kesederhanaan dalam sejarah Indonesia.
Kisah Siti Rahmiati Hatta adalah bukti bahwa di balik pria hebat, ada perempuan hebat pula. Ia tidak hanya meluluhkan hati Bung Hatta, tetapi juga meninggalkan warisan nilai-nilai luhur bagi generasi berikutnya. Kisah cinta dan dedikasinya untuk keluarga serta bangsa menjadi inspirasi abadi bagi masyarakat Indonesia.