Nasional

Kajian Ramadhan di Politeknik STIA LAN Jakarta: "Al-`Asr di Ramadhan: Bonus Hidup, Jangan Sia-Siakan"

Oleh : Rikard Djegadut - Kamis, 19/02/2026 15:53 WIB


Jakarta, INDONEWS.ID - Suasana khidmat menyelimuti musholla Nurul Ilmi Politeknik STIA LAN Jakarta saat civitas akademika mengikuti kajian Ramadhan bertema “Al-‘Asr di Ramadhan: Bonus Hidup, Jangan Sia-Siakan”. Kegiatan ini menjadi bagian dari rangkaian pembinaan rohani yang rutin digelar setiap bulan suci. Kajian Ramadhan hari pertama disampaikan Direktur Politeknik STIA LAN Jakarta, Prof. Dr. Nurliah Nurdin, MA. yang dihadiri civitas akademika dosen, tenaga kependidikan dan mahasiswa.

Direktur dalam kajian Ramadhan menyampaikan Tafsir lengkap Surat Al-Asr menurut Ibnu Katsir. Dalam Surat Al-Asr (QS 103) adalah surat Makkiyah pendek (3 ayat), turun setelah Surah Al-Insyirah. Ibnu Katsir dalam Tafsir al-Qur`an al-`Azhim menekankan surat ini sebagai ringkasan ajaran Islam: waktu (`asr) adalah modal utama hidup; manusia rugi jika sia-siakannya.

Ayat 1: وَالْعَصْرِ (Wal `Asr)
"Demi masa."
Ibnu Katsir: Allah bersumpah demi al-`asr (waktu sore/dekade/usia manusia), karena waktu adalah saksi aktivitas harian. Orang Arab jahiliyah kumpul Asr untuk gosip sia-sia, anggap waktu itu "celaka". Sumpah ini tegur: Waktu berharga, akhir hari saat muhasabah—seperti ASN hitung KPI sore hari. Hadits pendukung: "Agtnam khamsan qabla khams..." (Manfaatkan 5 sebelum 5: hidup sebelum mati, dll.) [HR. Hakim].

Ayat 2: إِنَّ الْإِنْسَانَ لَفِي خُسْرٍ (Innal insaana lafii khusr) "Sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam kerugian."
Ibnu Katsir: Pernyataan mutlak—semua manusia (kaum, agama, jabatan) rugi di dunia (kehilangan peluang) & akhirat (neraka), kecuali 4 syarat ayat 3. Khusr seperti pedagang rugi total modal. Relevan ASN: Rutinitas birokrasi tanpa makna = rugi produktivitas (mirip data McKinsey: meeting sia-sia 20-30% waktu).

Ayat 3: إِلَّا الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ وَتَوَاصَوْا بِالْحَقِّ وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْرِ (`Illalladziina aamanuu wa `amilus shaalihaati wa tawaasau bil haqqi wa tawaasau bis shabr)
"Kecuali orang-orang yang beriman, mengerjakan kebajikan, saling menasihati kebenaran, dan saling menasihati kesabaran."
Ibnu Katsir rinci:
• Āmanū: Iman benar (hati, lisan, amal) ke Allah, Rasul, akhirat.
• `Amilus shalihaat: Amal saleh wajib/sunnah (sholat, puasa, sedekah); kuantitas & kualitas.
• Tawaashau bil haqq: Nasehat patuh syariat (amar ma`ruf nahi mungkar); timbal balik komunitas.
• Tawaashau bis sabr: Sabar wajib (lawan musibah, dosa, bid`ah); pondasi 3 sebelumnya.

Keempat syarat saling terkait—seperti rantai: Iman dorong amal, nasehat perkuat, sabar tahan. Imam Syafi`i: "Cukup Al-Asr petunjuk umat."

Kesimpulan Ibnu Katsir: Surat ini inti Qur`an—hindari rugi via 4 pilar. Kaitan Ramadan: Bonus tahunan latih syarat ini (puasa = sabar/amal).

Pada akhir kajiannya, Direktur menyampaikan bagaimana pesan Surah Al-Asr relevan untuk bulan Ramadan.

Pesan Surah Al-Asr sangat relevan untuk Ramadan karena bulan suci ini adalah "bonus waktu" tahunan yang sempurna untuk menerapkan empat syarat kesuksesan agar terhindar dari kerugian total (khusr), sesuai sumpah Allah demi al-`asr (waktu yang terus berlalu).

Surah Al-Asr (QS 103:1-3) beri rumus anti-rugi: iman, amal shalih, tawashau bil haqq (nasehat kebenaran), tawashau bis sabr (nasehat kesabaran).

Manfaatkan Ramadan Sesuai Al-Asr: Bonus Hidup yang Rapuh

Ramadan adalah bonus hidup setahun sekali, perintah puasa (QS Al-Baqarah:183) untuk takwa. Seperti al-‘asr, ia tuntut iman (taqwa puasa), amal (sholat malam, sedekah), nasehat (dakwah keluarga/kolega), sabar (lawan lapar/nafsu). Disebut bonus karena ajal tak tertebak: malaikat maut bisa jemput kapan saja—saat tidur nyenyak, kecelakaan lalu lintas, atau COVID-19 yang tebus jutaan nyawa global (2020-2022, >7 juta kematian WHO). Dokter top dunia pun tak bisa tunda ajal; manusia hanya berikhtiar.

Waktu Berlalu Cepat: Realitas Pribadi

Waktu serasa percepatan: setahun lalu Ramadan 2025, kini Februari 2026—tetiba tiba! Bagi saya sebagai Direktur Poltek STIALAN Jakarta, ini Ramadan terakhir mengabdi di sini. Bulan ini jadi penutup bersama kawan-kawan; pasca-Lebaran, kembali homebase IPDN. Pengalaman ini tajamkan analisis: Hidup pegawai ASN penuh target, tapi tanpa makna Al-Asr, kita sia-siakan bonus jabatan/kesehatan. Seperti jarum jam, setiap detik mendekat ajal—COVID ambil ribuan ASN Indonesia 2020-2021, kecelakaan lalu lintas >30 ribu jiwa/tahun (NTSC data).

Makna Mendalam Ramadan: Maksimalkan Hidup

Ramadan tuntut refleksi: Analisis kehidupan, waktu bukan milik kita tapi amanah Allah (QS Al-Asr). Maksimalkan dengan muhasabah harian: pagi tahajud, siang sabar kerja, malam tarawih/nasehat rekan. Jangan seperti mayoritas merugi—gunakan bonus ini bangun legacy: dosen beri ilmu bermanfaat, staf jaga amanah, pegawai beri pelayanan ikhlas. InsyaAllah, kita selamat dari rugi, masuk golongan pengecualian.

Kajian Ramadhan ditutup dengan doa bersama agar seluruh civitas akademika diberi kekuatan untuk mengisi Ramadhan dengan amal terbaik. Dengan semangat Surah Al-‘Asr, diharapkan momentum Ramadhan menjadi titik balik untuk memperbaiki diri dan memaksimalkan “bonus hidup” yang telah dianugerahkan.

Artikel Lainnya