Bogor, INDONEWS.ID - Bulan Ramadan tidak hanya menjadi waktu ibadah, tetapi juga merupakan momentum penting untuk menyembuhkan dan memperkuat komunikasi dalam keluarga.
Hal itu disampaikan Pakar Komunikasi Keluarga IPB University, Dr Susri Adeni melalui pernyataan tertulis, di Bogor, Senin (23/2/2026).
Dia mengatakan bahwa puasa dan aktivitas Ramadan harus menjadi sarana membangun keharmonisan keluarga.
Dr Susri menjelaskan bahwa Rasulullah Saw telah mencontohkan pentingnya memanfaatkan bulan suci sebagai kesempatan memperkuat hubungan keluarga.
“Momentum Ramadan memberikan pahala berlimpah dan malam Lailatul Qadar yang nilainya seribu bulan. Rasulullah mencontohkan memberikan nafkah lebih untuk keluarga, membangunkan anggota keluarga untuk sholat malam, sahur, dan tadarus,” katanya.
Kegiatan tersebut, katanya, menjadi sarana komunikasi yang lebih intens dan melambangkan keharmonisan keluarga.
Sarana Empati dan Kesabaran
Selain menjaga rasa lapar dan haus, Dr Susri mengatakan bahwa puasa mengajarkan anggota keluarga untuk menjaga emosi dan saling mengingatkan satu sama lain.
“Hari demi hari selama sebulan, lisan dan perbuatan harus dijaga. Ini menumbuhkan empati dan kesabaran dalam keluarga, sehingga komunikasi tetap harmonis,” terang Dr Susri.
Momen sahur dan buka puasa memiliki intensitas komunikasi yang berbeda dari hari-hari biasa. Ayah, ibu, dan anak menempati peran masing-masing. Ayah mencontohkan niat puasa dan waktu berbuka, ibu menyiapkan hidangan dengan bantuan anak, sementara anak belajar berpartisipasi dalam kegiatan keluarga.
“Dalam sahur, ayah bisa menceritakan pengalaman berpuasa dahulu, ibu berbagi pengalaman menyiapkan makanan. Cerita-cerita ini menguatkan komunikasi dan menanamkan nilai religius pada anak,” tambahnya.
Menghadapi Tantangan dan Perbedaan
Tantangan muncul ketika anak belum mampu berpuasa penuh, atau ketika kondisi keuangan keluarga terbatas sehingga muncul perbedaan kebutuhan dan permintaan selama Ramadan.
“Di sinilah pentingnya kedua orang tua kompak, menyampaikan pesan yang sejalan, dan berdiskusi dengan anak agar semua memahami prioritas dan makna Ramadan,” ujar Dr Susri.
Diskusi dan Keterlibatan Anak
Komunikasi efektif dapat dilakukan dengan melibatkan anak dalam pengambilan keputusan. Misalnya dalam memilih menu buka puasa, menentukan kegiatan Hari Raya, atau menetapkan reward dan punishment selama Ramadan.
Aktivitas berbagi kepada sesama, seperti menyediakan makanan dan minuman untuk orang lain, juga menjadi bagian penting dari pembelajaran empati.
“Targetnya, hasil selama sebulan berpuasa sikap, emosi, kepedulian, perhatian, dan perbuatan baik dapat terus dipraktikkan setelah Ramadan. Dengan begitu, bulan puasa menjadi momentum yang relevan dan berkelanjutan untuk memperkuat komunikasi, keharmonisan, dan nilai-nilai keluarga Islami,” tutup Dr Susri. *