(Part 1)
Jakarta, INDONEWS.ID - Duta Besar RI di Nairobi, T.B.H Witjaksono Adji, telah menyampaikan Keynote Speech (Pidato Kunci), dalam acara ‘Diplomatic Day’, di salah satu perguruan tinggi terkemuka di Kenya: Daystar University, Machakos County (11/3/2026).
Dubes RI Nairobi yang tahun ini juga menjabat sebagai Chair of ASEAN Committee in Nairobi (ACN) itu disampaikan dihadapan sekitar 1000 peserta kegiatan, terdiri dari Pejabat Pemerintah, Kalangan Diplomatik dan Perwakilan Organisasi Internasional, Think-Tank/Experts/Akademisi, CSOs/NGOs, Media, dan pemangku kepentingan terkait di Kenya.
Acara dibuka secara resmi oleh Deputy Vice Chancellor, Daystar University, Prof. Samuel Muriithi, dilanjutkan dengan sambutan dari Deputy Director General and Head of Policy, Research and Strategic Analysis Directorate, Mr. Mustafa Ibahim, yang hadir mewakili Principal Secretary Kementerian Luar Negeri dan Diaspora Kenya, Dr. Abraham Korir Sing’oei.
Pada sambutannya, Mr. Mustafa Ibrahim menekankan pentingnya pengembangan Blue Economy sebagai salah satu prioritas nasional Kenya, yang tercermin dalam dokumen ‘Blue Economy National Strategy 2025–2030’. Pemerintah Kenya akan mengoptimalkan potensi ekonomi kelautan, dan mendorong konservasi keanekaragaman hayati, serta memperkuat kerja sama internasional dalam pengembangan Blue Economy Kenya.
Dalam pidatonya, Dubes Witjaksono Adji menyoroti potensi kolaborasi negara-negara ASEAN dan Kenya dalam pengembangan Blue Economy berkelanjutan. Ia juga menekankan bahwa lautan bukan merupakan pemisah, tetapi menjadi penghubung antara Afrika dan Asia, serta menjadi jalur penting bagi perdagangan, pertukaran budaya, dan kerja sama antar kawasan.
“Kemanan maritim, stabilitas, dan diplomasi, merupakan pondasi penting bagi pembangunan ekonomi dan keberlanjutan ekonomi biru (blue economy)”, ujar Dubes Witjaksono Adji.
Sebagaimana diketahui, saat ini telah terdapat berbagai kerja sama dalam kerangka ASEAN, misalnya inisiatif regional yang fokus pada perikanan berkelanjutan, pariwisata, dan energi laut. Peran aktif pada kerja sama tersebut komitmen Indonesia sebagai negara kepulauan, untuk menyatukan visi ekonomi biru (blue economy), di mana manfaat pertumbuhan ekonomi diseimbangkan dengan kesehatan ekosistem laut.
Indonesia menekankan pentingnya menjaga kesehatan ekosistem laut (seperti mangrove dan terumbu karang) sambil memanfaatkan sumber daya maritim untuk pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan, meliputi pengembangan perikanan berkelanjutan, penelitian kelautan, energi terbarukan, dan bioteknologi kelautan. Indonesia juga aktif mendorong Blue Economy di kancah internasional, khususnya melalui ASEAN Blue Economy Framework (ABEF), dengan fokus pada perikanan berkelanjutan, dan energi terbarukan.
Melalui kerja sama ‘Selatan-Selatan’ (South-South Cooperation), Indonesia berbagi pengalaman, kapasitas perikanan, dan pengembangan pesisir kepada negara Afrika, serta memimpin inovasi biru di ASEAN untuk mendorong pertumbuhan ekonomi yang inklusif.
Indonesia senantiasa mendorong kolaborasi Blue Economy dengan negara-negara yang memiliki pemikiran dan kepentingan yang sejalan (like-minded countries), untuk mengelola laut secara arif bijaksana, dan berkelanjutan, yang dapat mendukung ketahanan pangan, energi terbarukan, dan kesejahteraan bersama.
“Indonesia juga berbagi pengalaman melalui kerja sama regional ASEAN, serta mendorong peningkatan kolaborasi lintas kawasan antara negara-negara Asia dan Afrika dalam pengelolaan laut yang berkelanjutan”, pungkas Dubes Witjaksono Adji.
Sebagai pembicara ahli, acara menghadirkan: Mr. Joseph Boinet, mantan Inspektur Jenderal Polisi Kenya, mewakili Dirketur Eksekutif (designate) UNODC; Letkol Ernest Ndirangu, Wakil Komandan Kenya Naval Training College; dan Dubes Nancy Karigithu, Utusan Khusus Kenya untuk Maritim dan Blue Economy, mewakili Cabinet Secretary (Menteri) Pertambangan, Blue Economy, dan Kelautan Kenya, YM Hassan Joho.
Acara juga dilengkapi dengan Panel Diskusi, dengan menghadirkan Dubes Malaysia, Dubes Filipina, Dubes Nancy Karigithu, Charge d’Affaires Thailand dan Sri Lanka untuk Kenya, Dr. Solomon Njenga (Direktur Riset dan Program, Mashariki Research and Policy Centre), Mr. Paul Kariuki (Armed Forces Programme Advicer, ICRC), dan Mr. Kiruja Micheni (perwakilan IMO), yang berbagi perspektif mengenai perspektif dan kebijakan masing-masing terkait keamanan maritime, Blue Economy, serta upaya mendorong kemakmuran melalui kerja sama maritim.
Kegiatan menghasilkan pemahaman bersama mengenai pentingnya penguatan kerja sama dalam pengembangan Blue Economy, tidak hanya antar negara di kawasan Afrika, tetapi juga melalui kerja sama inter-regional dengan negara-negara ASEAN dan Asia. Ke depan, kerja sama di bidang keamanan maritim, pembangunan ekonomi berbasis kelautan, serta pertukaran pengetahuan dan kapasitas menjadi area yang dapat terus diperkuat untuk kemaslahatan dan kemakmuran bersama.
Forum terbuka tersebut menjadi wahana yang inklusif dan efektif untuk bertukar pikiran mengenai potensi dan tantangan pengembangan Blue Economy. Parisipasi aktif KBRI Nairobi di acara itu telah menjadi best practices, serta menginspirasi seluruh peserta kegiatan untuk mencari solusi terbaik, sekaligus memetakan jalan dalam mengelola Blue Economy secara berkelanjutan, yang akan bermanfaat bukan hanya untuk generasi saat ini, tetapi juga generasi mendatang.