Nasional

Mengenang Bung Hatta: Warisan Pemikiran, Perjuangan, dan Integritas Sang Proklamator

Oleh : Rikard Djegadut - Sabtu, 14/03/2026 06:26 WIB


Jakarta, INDONEWS.ID – Sosok Mohammad Hatta atau yang akrab disapa Bung Hatta terus dikenang sebagai salah satu tokoh utama dalam sejarah perjuangan kemerdekaan Indonesia. Pemikirannya tentang demokrasi, kedaulatan rakyat, dan ekonomi kerakyatan hingga kini masih relevan bagi perjalanan bangsa.

Lahir di Bukittinggi, Sumatera Barat, pada 12 Agustus 1902 dari pasangan Mohammad Djamil dan Siti Saleha, Bung Hatta dikenal sebagai tokoh nasional yang memiliki peran penting dalam perjuangan kemerdekaan dan pembangunan negara. Ia dikenang sebagai Pahlawan Proklamator, sekaligus dijuluki Bapak Koperasi Indonesia, Bapak Kedaulatan Rakyat, dan Bapak Palang Merah Indonesia.

Dalam perjalanan kariernya, Bung Hatta menjabat sebagai Wakil Presiden pertama Republik Indonesia sejak 18 Agustus 1945 hingga 1 Desember 1956. Ia juga pernah menjadi Perdana Menteri Indonesia ke-3 pada 1948–1949 dan Perdana Menteri Republik Indonesia Serikat (RIS) pertama pada 1949–1950. Selain itu, ia pernah menjabat Menteri Pertahanan dan Menteri Luar Negeri secara ad interim pada masa awal republik.

Peran Bung Hatta tidak hanya terlihat dalam pemerintahan, tetapi juga dalam pembentukan institusi penting negara. Ia menandatangani pendirian Tentara Keamanan Rakyat (TKR) pada 5 Oktober 1945 yang kemudian berkembang menjadi Tentara Nasional Indonesia (TNI). Selain itu, pada 25 Juli 1955 ia turut menandatangani pembentukan Resimen Pasukan Komando Angkatan Darat yang kini dikenal sebagai Kopassus.

Di tingkat internasional, Bung Hatta aktif memperjuangkan kemerdekaan Indonesia. Saat menempuh pendidikan ekonomi di Belanda, ia menjadi tokoh penting dalam organisasi Perhimpunan Indonesia. Pada 1927 ia bahkan ditangkap oleh pemerintah kolonial Belanda di Den Haag. Dalam persidangan, pidato pembelaannya yang terkenal berjudul “Indonesia Vrij” (Indonesia Merdeka) berhasil membebaskannya dari tuntutan.

Namun perjuangannya tidak berhenti di situ. Hatta kembali ditangkap dan diasingkan oleh pemerintah kolonial Hindia Belanda ke sejumlah tempat, termasuk Boven Digoel dan Banda Neira. Dari masa pengasingan itu lahir banyak gagasan dan tulisan penting tentang demokrasi dan ekonomi kerakyatan. Salah satu ucapannya yang terkenal adalah, “Tak masalah jika aku harus dipenjara. Namun aku ingin dipenjara bersama buku, karena dengan buku aku menjadi bebas.”

Dalam bidang pendidikan dan pemikiran, Bung Hatta memperoleh gelar doktorandus ekonomi dari Nederlandsche Handelshoogeschool di Rotterdam pada 1932. Sepanjang hidupnya ia juga menerima sejumlah gelar kehormatan dari berbagai universitas di Indonesia, termasuk Universitas Gadjah Mada, Universitas Padjadjaran, Universitas Hasanuddin, dan Universitas Indonesia.

Bung Hatta wafat pada 14 Maret 1980 di Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo, Jakarta, dan dimakamkan di Tanah Kusir, Jakarta Selatan sesuai wasiatnya agar dimakamkan di tengah rakyat yang diperjuangkannya sepanjang hidup.

Hingga kini, berbagai kutipan pemikiran Bung Hatta masih sering dijadikan inspirasi bagi generasi muda. Salah satunya berbunyi, “Perjuanganku melawan penjajah tidaklah seberat perjuangan kalian nanti, karena kalian akan melawan bangsa sendiri.” Kalimat tersebut menjadi pengingat bahwa tantangan terbesar bangsa bukan hanya melawan penjajah, tetapi juga menjaga integritas, kejujuran, dan persatuan dalam kehidupan bernegara.

Warisan pemikiran dan keteladanan Bung Hatta menjadikannya salah satu tokoh paling dihormati dalam sejarah Indonesia—seorang negarawan yang mengedepankan kejujuran, demokrasi, dan kesejahteraan rakyat sebagai fondasi utama bangsa.

Artikel Lainnya