Jakarta, INDONEWS.ID - Ketegangan di Timur Tengah kembali meningkat setelah militer Amerika Serikat melancarkan serangan ke Pulau Kharg, fasilitas vital ekspor minyak milik Iran yang selama ini menjadi jalur utama distribusi minyak negara tersebut ke pasar internasional.
Pulau Kharg diserang pada Jumat (13/3/2026). Pulau yang menjadi pusat sekitar 90 persen ekspor minyak Iran itu memiliki kapasitas penyimpanan sekitar 30 juta barel dan diperkirakan menampung sekitar 18 juta barel minyak mentah pada awal Maret, berdasarkan laporan JP Morgan yang mengutip data Kpler.
Presiden Donald John Trump melalui media sosial menyatakan bahwa pasukan AS telah “benar-benar menghancurkan setiap target militer” di Kharg. Ia juga memperingatkan bahwa infrastruktur minyak Iran dapat menjadi sasaran berikutnya jika Teheran terus mengganggu jalur pelayaran di Selat Hormuz.
Sebelum serangan terjadi, Iran diketahui meningkatkan produksi minyaknya. Data dari TankerTracker.com dan Kpler menunjukkan Iran tetap mengekspor minyak pada kisaran 1,1 juta hingga 1,5 juta barel per hari, meski konflik dengan Israel dan Amerika Serikat meningkat sejak serangan gabungan pada 28 Februari 2026.
Para pelaku pasar energi kini memantau dampak serangan tersebut terhadap jaringan pipa, terminal, dan tangki penyimpanan di Kharg. Gangguan kecil saja pada fasilitas tersebut dinilai dapat memperketat pasokan minyak global yang saat ini sudah berada dalam kondisi bergejolak.
Kepala investasi Pickering Energy Partners, Dan Pickering, memperingatkan bahwa kerusakan serius pada infrastruktur Kharg dapat menghilangkan hingga 2 juta barel minyak per hari dari pasar global hingga jalur distribusi kembali pulih.
Sementara itu, militer Iran menegaskan akan membalas setiap serangan terhadap infrastruktur energi negaranya. Media Iran melaporkan bahwa Teheran berpotensi menargetkan fasilitas energi milik perusahaan minyak yang bekerja sama dengan AS di kawasan tersebut.
Analis GasBuddy, Patrick De Haan, menilai situasi tersebut berpotensi meningkatkan eskalasi konflik. Menurutnya, Iran yang berada dalam tekanan kemungkinan akan merespons secara lebih agresif.
Di tengah ketegangan itu, Iran dilaporkan hampir menutup jalur pelayaran di Selat Hormuz—jalur strategis yang dilalui sekitar 20 persen perdagangan minyak dunia. Jalur tersebut merupakan rute penting bagi pengiriman minyak menuju Asia.
Pulau Kharg sendiri terletak sekitar 26 kilometer dari pantai Iran dan sekitar 483 kilometer barat laut Selat Hormuz. Perairan di sekitar pulau cukup dalam sehingga memungkinkan kapal tanker berukuran besar berlabuh untuk memuat minyak.
Sebagian besar minyak Iran yang dikirim melalui Kharg selama ini menuju China, importir minyak mentah terbesar di dunia. Tahun ini, minyak Iran tercatat menyumbang sekitar 11,6 persen dari impor minyak China melalui jalur laut.
Data Kpler juga mencatat Iran telah mengekspor sekitar 1,7 juta barel minyak mentah per hari sepanjang tahun ini, dengan sekitar 1,55 juta barel per hari di antaranya dikirim melalui Pulau Kharg. Sebelum konflik memanas, ekspor Iran sempat meningkat menjadi sekitar 2,17 juta barel per hari pada Februari.*