Nasional

Lailatul Qadar Ibarat Midnight Sale yang Mengharuskan Umat Berbelanja Ibadah

Oleh : luska - Senin, 16/03/2026 22:10 WIB


Jakarta, INDONEWS.ID – Sekretaris Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Prof. Dr. Abdul Mu'ti, M.Ed., menyampaikan ceramah yang sarat makna sekaligus menyegarkan pada malam ke-28 Ramadan 1447 H di Masjid At-Tanwir, Gedung Pusat Dakwah Muhammadiyah Jalan Menteng Raya 62 Jakarta. Dalam ceramahnya, Abdul Mu'ti menggunakan analogi dunia pemasaran (marketing) untuk menjelaskan urgensi menghidupkan malam-malam terakhir di bulan suci Ramadan. Mu'ti mengibaratkan kemuliaan Lailatul Qadar dan berbagai keutamaan di akhir Ramadan seperti fenomena _Midnight Sale_ atau obral tengah malam di pusat perbelanjaan. Menurut Abdul Mu'ti, Allah SWT memberikan "bonus" dan "diskon" pahala yang luar biasa besar untuk memotivasi umat agar tidak melewatkan sisa waktu Ramadan. 

"Dalam teori marketing, diskon dan bonus hanya bermakna bagi mereka yang membeli produknya. Begitu juga dengan Lailatul Qadar; semurah atau semulia apa pun bonus pahala yang ditawarkan, ia hanya akan didapatkan oleh mereka yang benar-benar 'berbelanja' dengan melakukan ibadah dan iktikaf," ujar Abdul Mu'ti dengan gaya khasnya yang jenaka juga menjelaskan tiga makna kata "Qadar" yang merujuk pada pandangan Prof. Quraish Shihab yaitu, 
* Kesatu-Mulia: Lailatul Qadar adalah malam yang penuh kemuliaan.
* Kedua-Takaran atau Ukuran: Malam di mana Allah menurunkan aturan-aturan (Al-Qur'an) sebagai panduan hidup manusia.
* Ketiga-Sempit: Sempit karena waktunya yang terbatas hanya hingga fajar, serta sempit karena banyaknya malaikat yang turun ke bumi sehingga berdesak-desakan. 

Selanjutnya Mu'ti menekankan bahwa kemuliaan hidup manusia sangat bergantung pada sejauh mana mereka mampu mengamalkan aturan-aturan Allah yang ada dalam Al-Qur'an dengan segenap kemampuan (qadar) yang dimiliki. "Jika kita mengamalkan syariat Allah dengan sungguh-sungguh, maka kita akan mendapatkan kemuliaan dalam kehidupan," tegasnya
Pada akhir ceramahnya, Mu'ti juga menyinggung tentang harapan agar seluruh umat Islam dapat merayakan Idulfitri 1 Syawal secara bersama-sama. Beliau mengingatkan bahwa perbedaan pendapat di kalangan umat adalah sebuah rahmat yang harus disikapi dengan bijaksana.

Ceramah yang berlangsung selama sekitar 26 menit tersebut (mohon maaf jika tergolong yang diminta tadi berupa Kultum yang dimaknai dengan 2 versi yaitu: 'kuliah tujuh menit' atau 'kuliah terserah antum'), dihadiri oleh jamaah Masjid At-Tanwir kantor PP Muhammadiyah Jakarta dengan khidmat, diselingi tawa segar merespons humor-humor cerdas yang menjadi ciri khas tokoh Muhammadiyah ini. (Nadri)

Artikel Lainnya