Jakarta, INDONEWS.ID - Kasus penyiraman air keras terhadap Wakil Koordinator Komisi untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan (KontraS) Andrie Yunus masih diselimuti misteri. Polisi kini telah meningkatkan penanganan perkara tersebut ke tahap penyidikan setelah menemukan dugaan tindak pidana dalam peristiwa tersebut.
Direktorat Reserse Kriminal Umum Polda Metro Jaya menyebut penyidik telah memeriksa tujuh saksi, mengumpulkan sejumlah barang bukti, serta menganalisis sedikitnya 86 rekaman CCTV dari berbagai lokasi di sekitar tempat kejadian.
Diduga Dilakukan Empat Pelaku
Berdasarkan hasil analisis CCTV, polisi menduga aksi penyiraman dilakukan oleh empat orang yang menggunakan dua sepeda motor. Keempat pelaku disebut sempat menunggu korban di depan restoran KFC Cikini.
Direktur Reserse Kriminal Umum Polda Metro Jaya Iman Imanuddin mengatakan para pelaku kemudian membuntuti korban dari kawasan tersebut menuju Jalan Diponegoro hingga ke Jalan Salemba 1, lokasi terjadinya penyiraman.
“Diduga empat orang terduga pelaku yang menggunakan dua sepeda motor menunggu korban di depan KFC Cikini,” ujar Iman dalam konferensi pers, Senin (16/3).
Meski demikian, hingga kini polisi belum melakukan penangkapan. Penyidik masih menunggu hasil uji laboratorium forensik terhadap sejumlah barang bukti yang ditemukan, termasuk helm yang diduga digunakan pelaku serta wadah yang diduga berisi cairan kimia.
Polisi berharap dari pemeriksaan forensik dapat ditemukan sidik jari maupun DNA pelaku yang menempel pada barang bukti tersebut.
Pelaku Sempat Berkumpul di Gambir
Rekaman CCTV juga mengungkap pergerakan para pelaku sebelum kejadian. Mereka diduga berangkat dari wilayah Jakarta Selatan lalu berkumpul di kawasan Stasiun Gambir di Jalan Medan Merdeka Timur, Jakarta Pusat.
Dari lokasi itu, para pelaku sempat berkeliling di sekitar kawasan Tugu Tani sebelum menuju kantor Yayasan Lembaga Bantuan Hukum Indonesia (YLBHI), tempat korban menghadiri kegiatan.
Saat korban selesai kegiatan dan menuju SPBU Cikini Raya untuk mengisi bahan bakar, para pelaku masih terus mengikuti.
Sekitar pukul 23.37 WIB pada Kamis (12/3), aksi penyiraman air keras terjadi di Jalan Salemba 1, persimpangan Jalan Talang, Jakarta Pusat.
Kabur ke Berbagai Arah
Setelah melancarkan aksinya, para pelaku langsung melarikan diri ke arah berbeda. Salah satu motor melawan arus di Jalan Salemba Raya menuju kawasan Senen, lalu bergerak ke Jalan Kramat Raya hingga Tugu Tani dan menuju wilayah Jakarta Selatan.
Sementara motor lainnya kabur menuju Jalan Pramuka Sari 2, kemudian bergerak ke kawasan Matraman, Jatinegara hingga Jalan Otto Iskandardinata di Jakarta Timur.
Dari analisis rekaman CCTV dan data komunikasi digital, polisi menduga para pelaku kemudian berpencar ke wilayah Kalibata, Ragunan hingga Bogor. Salah satu pelaku bahkan diduga sempat mengganti pakaian saat melarikan diri.
Pelaku Diduga Terlatih
Penyidik menilai para pelaku kemungkinan memiliki pengalaman atau latihan tertentu. Hal ini terlihat dari cara mereka bergerak yang dinilai tenang dan terkoordinasi baik sebelum maupun setelah kejadian.
“Dari analisis digital, para pelaku terlihat tenang dalam perjalanan dari satu titik ke titik lain menjelang kejadian,” kata Iman.
Diduga Sebarkan Foto AI untuk Mengaburkan Penyelidikan
Polisi juga menduga para pelaku mencoba mengacaukan penyelidikan dengan menyebarkan foto hasil rekayasa Artificial Intelligence (AI) di media sosial.
Foto tersebut disebut sengaja diedarkan untuk mempengaruhi opini publik sekaligus mengaburkan identitas pelaku sebenarnya.
“Foto tersebut adalah hoaks karena hasil rekayasa AI. Kami menduga ini bagian dari upaya pelaku dan jaringannya untuk mengaburkan fakta hukum,” ujar Iman.
Kondisi Terbaru Korban
Sementara itu, pihak RSUP Nasional Dr. Cipto Mangunkusumo (RSCM) menyatakan kondisi Andrie Yunus saat ini sudah stabil dan tidak dalam kondisi yang mengancam jiwa.
Korban sebelumnya mengalami luka bakar akibat paparan cairan kimia di wajah, leher, dada, punggung serta kedua lengan, disertai gangguan penglihatan pada mata kanan.
Pemeriksaan medis menunjukkan korban mengalami luka bakar sekitar 20 persen pada tubuh serta trauma kimia tingkat tiga pada mata kanan yang menyebabkan kerusakan pada permukaan kornea dan penurunan tajam penglihatan.
Tim medis telah melakukan pembersihan jaringan rusak pada mata serta transplantasi membran amnion untuk membantu proses penyembuhan. Saat ini Andrie masih menjalani perawatan intensif di unit perawatan luka bakar dengan pengawasan tim dokter multidisiplin.