Jakarta, INDONEWS.ID – Anggota Komisi I DPR RI TB Hasanuddin mendesak agar proses hukum kasus penyiraman air keras terhadap Wakil Koordinator KontraS, Andrie Yunus, dilakukan secara transparan dan menyeluruh.
Desakan itu disampaikan menyusul kabar dari Puspom TNI yang telah menahan empat prajurit TNI yang diduga terlibat dalam kasus tersebut.
“Kita mengacu kepada Panglima Tertinggi, Presiden Republik Indonesia, Prabowo Subianto, bahwa pelaku penyiraman terhadap Andrie harus ditangkap dan diproses sesuai hukum yang berlaku,” ujar TB Hasanuddin, Rabu (18/3).
Politikus PDI Perjuangan yang akrab disapa Kang TB itu menegaskan bahwa penanganan kasus tidak boleh berhenti pada pelaku di lapangan saja. Ia meminta aparat penegak hukum juga mengungkap pihak yang diduga menjadi otak di balik aksi kekerasan tersebut.
“Motif di balik tindakan ini juga harus diungkap, termasuk siapa yang memberi perintah. Kasus ini harus diusut tuntas,” tegasnya.
Alumnus AKABRI 1974 itu meyakini bahwa aksi penyiraman air keras tersebut tidak dilakukan secara spontan, melainkan ada indikasi perintah dari pihak tertentu.
“Saya meyakini ini bukan inisiatif sendiri. Harus ditelusuri apakah ada perintah dari pihak tertentu. Jangan sampai prajurit yang bertugas di lapangan justru menjadi pihak yang dikorbankan, sementara aktor intelektualnya tidak tersentuh hukum,” ujarnya.
TB Hasanuddin juga menekankan pentingnya transparansi dalam proses hukum guna memastikan keadilan bagi korban serta menjaga kepercayaan publik terhadap penegakan hukum di lingkungan militer.
Sebelumnya, Puspom TNI mengungkap empat terduga pelaku penyiraman air keras terhadap Wakil Koordinator KontraS Andrie Yunus berasal dari Badan Intelijen Strategis (BAIS).
"Kami ingin sampaikan empat terduga pelaku ini semua dari satuan Denma BAIS TNI. Jadi, bukan dari satuan mana-mana," kata Yusri, Rabu.
Adapun, Puspom TNI sebelumnya menerima penyerahan empa prajurit dari Denma BAIS TNI yang diduga sebagai pelaku penyiraman air keras. Menurut Yusri, inisial empat terduga pelaku penyiraman ialah NDP, SL, BHW, dan ES dan berasal dari TNI AL dan AU.
"Jadi, di Denma itu ada berbagai macam matra. Jadi, saya sampaikan matranya dari AL dan AU," katanya.
Yusri melanjutkan empat terduga pelaku saat ini masih ditahan dan diperiksa mendalam oleh Puspom TNI menyikapi kasus penyiraman. "Kami masih mendalami apa motifnya," ujar jenderal bintang dua itu.