Opini

DIPLOMASI IDEAL & REAL POLITIK

Oleh : luska - Jum'at, 20/03/2026 15:18 WIB


Oleh : JIMMY H SIAHAAN

John F Kennedy, berkata, "jangan pernah bernegosiasi karena takut, tetapi jangan takut untuk bernegosiasi"

Awal Diplomasi Indonesia dilakukan, tanggal 25 Maret 1947, berlangsung penandatangan Persetujuan Linggarjati di Istana Rijswijk ( kini Istana  Negara). 

Ketua delegasi Belanda, Prof Schemerhoren ke Troonzaal, delegasi Indonesia PM Sjahrir, alias "Bung Kecil Pasific", bahkan disebut sebagai "Bom Atom Asia". Piawai sebagai juru runding.

Dia berpidato, "Di Indonesia kita menyalakan obor kecil, obor kemanusiaan, obor akal yang sehat, yang hendak menghilangkan suasana gelap, suasana sesak. Marilah kita pelihara obor ini supaya dapat  menyala terus supaya menjadi lebih terang. Mudah-mudahan ia akan merupakan permulaan terang diseluruh Dunia."

Kiasan politik luar negeri Indonesia yang "berdiri di antara dua kaki" atau sering disebut sebagai Mendayung di Antara Dua Karang merujuk pada prinsip Bebas Aktif. 

Artinya, Indonesia tidak memihak blok kekuatan besar mana pun (Bebas), namun tetap terlibat secara aktif dalam menjaga perdamaian dunia (Aktif). 

Memahami Konsep "Dua Kaki" dalam Diplomasi
Metafora ini pertama kali dipopulerkan oleh Mohammad Hatta dalam pidatonya tahun 1948. 

Diplomasi ideal Sjahrir

Bagi dia bahwa "ideas have legs". Ide adalah yang utama. Sjahrir menyinggung soal kekuasaan. "Kita belajar menjalankan alat-alat kekuasaan, tetapi tidak memuja kekuasaan. Kita percaya pada masa depan kemanusiaan dimana tiada tempat lagi bagi kekuasaan yang menghimpit kehidupan. Dia tidak percaya  makna kehidupan digerakkan oleh dahaga haus akan kekuasaan." 

Diplomasi real Kissinger

Mantan Menteri Luar Negeri AS dan penerima Hadiah Nobel Perdamaian yang dikenal karena Realpolitik, menghasilkan banyak kutipan yang menyoroti dinamika kekuasaan, diplomasi, dan kepemimpinan.

Terkenal karena pragmatismenya, wawasan Kissinger sering berfokus pada penyeimbangan kekuasaan, perlunya keputusan sulit, dan menavigasi krisis internasional.

Sebagai pendukung pendekatan pragmatis terhadap geopolitik yang dikenal sebagai Realpolitik.

Kissinger mempelopori Kebijakan détente dengan Uni Soviet, mengatur pembukaan hubungan dengan Tiongkok, terlibat dalam "diplomasi ulang-alik " di Timur Tengah untuk mengakhiri Perang Yom Kippur,dan menegosiasikan Perjanjian Perdamaian Paris,yang mengakhiri keterlibatan Amerika dalam Perang Vietnam .

Kissinger juga dikaitkan dengan kebijakan AS yang kontroversial termasuk pemboman Kamboja, keterlibatan dalam kudeta Bolivia tahun 1971 dan Chili tahun 1973 , dan dukungan untuk junta militer Argentina dalam peran "Perang Kotornya" Indonesia dalam invasi ke Timor Timur, dan Pakistan selama Perang Pembebasan Bangladesh dan genosida di Bangladesh .

Jelas bagi seorang Henry Kisingger "Kekuasaan adalah afrodisiak utama."
"Yang ilegal kita lakukan segera. Yang tidak konstitusional membutuhkan waktu sedikit lebih lama."

Diplomasi  Berhenti

Theodore Roosevelt menyatakan sebaiknya "Pemimpin bekerja secara terbuka dan bos secara diam-diam. Pemimpin memimpin, bos mengendalikan.

Dilain pihak  Pertengahan Febuari lalu,  Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio mengatakan Gedung Putih ingin Eropa mengurangi ketergantungannya pada kekuatan Amerika dan bahwa Washington "tidak meminta Eropa untuk menjadi negara bawahan." 

Rubio berbicara di Slovakia sehari setelah ia memberikan jaminan kepada para pemimpin Eropa yang gelisah pada Konferensi di Munich.

Konferensi Keamanan Munich (MSC) yang dulunya merupakan acara internasional yang serius telah menjadi sirkus yang mengutamakan "pertunjukan daripada substansi." Itu diungkapkan Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi. 

Para penyelenggara tahun ini mencabut undangan untuk para pejabat senior Iran menyusul kerusuhan hebat yang melanda Republik Islam. 

Sebagai gantinya, MSC mengundang Reza Pahlavi, putra Shah Iran yang diasingkan dan didukung AS, yang digulingkan dalam Revolusi Islam 1979, untuk berbicara. 

Pahlavi menggunakan kesempatan itu untuk menyerukan kepada Barat untuk melakukan perubahan rezim di Iran, menghadiri demonstrasi, dan memberikan wawancara kepada Reuters, mendesak AS untuk membom negaranya daripada mengadakan pembicaraan. 

Uni Eropa Tak Lagi Memiliki Kekuatan Geopolitik “Sedih melihat Konferensi Keamanan Munich yang biasanya serius berubah menjadi ‘Sirkus Munich’ ketika menyangkut Iran,” kata Araghchi.

“UE tampak bingung, berakar pada ketidakmampuan untuk memahami apa yang terjadi di dalam Iran… UE yang tanpa tujuan telah kehilangan semua bobot geopolitik di kawasan kita.” 

“Lintasan keseluruhan Eropa sangat buruk, setidaknya,” tambah menteri luar negeri itu. Blok tersebut adalah kekuatan “tanpa tangan dan terpinggirkan” yang tidak relevan dengan pembicaraan.

Perunding utama AS Witkoff dan Kusner, sebagai orang luar dalam Diplomasi, ternyata sebagai juru runding yang gagal.

Saat pembicaraan dengan Iran berlarut-larut, muncul pertanyaan tentang berapa lama Trump akan terus menjalankan diplomasi.

Kesimpulan dari seorang mantan diplomat Amerika Latin? “Mereka sebenarnya tidak peduli dengan kepentingan negara lain mana pun.”

Perang meledak diakhir bulan Febuari 2026. Dilain pihak Menlu Oman yang ikut perundingan Iran dan AS, berkata bahwa, Perdamaian 'dalam jangkauan'. Namun yang terjadi adalah berhentinya misi Diplomasi.

Artikel Lainnya