Jakarta, INDONEWS.ID - Jabatan kadang memabukan dan membuat kita lupa diri, demi kedudukan dan ketenaran jiwa pun dijual, bahkan keluarga pun dijadikan tumbal. Film Aku Harus Mati mengulik nafsu kita akan jabatan dan populeritas, demi hal itu perjanjian pun disepekati meski maut terus membayangi darah dagingnya hingga ajal menjemput.
Film produksi Rolink menggelar gala premier di XXI Epicentrum, Jakarta, dihadiri sejumlah fim maker antara lain produser Irsan Yapto dan Nadya Yapto, sutradara Hestu Saputra, dan jajaran pemain Hana Saraswati, Amara Sophie, Prasetya Agni, Mila Rosinta, Bambang Paningron, Retno Yunitawati, Tuminten, dan Agus Sunandar.
Aku Harus Mati mencoba menjelaskan alur cerita lewat tokoh sentral Mala (Hana Saraswati) namun scene tak ada perbedaan antara masa kini dengan peristiwa yang sudah terjadi, akhirnya yang tergambar film dengan alur berantakan, lompat-lompat. Tapi ada scene saat Mala pegang kain begitu diturunkan lokasi pindah tempat, seharusnya dibuat seperti tapi hanya di scene itu saja yang ada perbedaan lokasi dan pencahayaan.
Ibarat kompetisi sepakbola, Aku Harus Mati tanpa tahap awal langsung main di final, penonton tak paham apa penyebabnya seluruh keluarga Mala mati, hanya diceritakan ibunya bersekutu dengan iblis tapi tanpa alasan kenapa bisa menjual jiwanya ke penguasa kegelapan.
Film dibuka dengan kekejaman dalam keluarga, seorang ibu yang menghunus pisau untuk menghabisi anak bungsunya, namun ia tak mampu menuntas itu, bahkan ia sendiri yang terbunuh. Puteri bungsungnya berhasil lari dari rumah namun tetap dikejar iblis dan diseret ke altar persembahan. Tapi di scene berikutnya hal itu berbeda, Mala kecil dibantu seorang tua yang jadi ayah angkat sekaligus pelindung dari ancaman iblis.
Tanpa menjelaskan sebab, scene melompat ke Mala yang sudah dewasa tinggal di Jakarta dan kembali ke panti asuhan di Yogya. Ia kembali bertemu dengan para teman se-panti, Tiwi (Amara Sophie) dan Nugra (Prasetya Agni), saat melihat benda yang menggantung di atas pintu, ada sesuatu dengan perasaan Mala, ia pun melihat lengannya dan benda itu sama dengan yang ada di pergelangan tangannya.
Lalu Mala mendatangi ayah angkatnya mengikuti pesan Tiwi bahwa Mala sudah ditunggu ayah angkatnya yang tahu dia akan datang dalam waktu dekat. Saat bertemu ayah berpesan, dirinya tak kuat lagi menjadi pelindung Mala dan memberikan buku lawas berisi kliping koran terkait peristiwa pembunuhan, dan ritual gaib. Untuk menyelusuri pertanyaan Mala tentang keluarganya yang terus ia tanyakan pada ayah angkatnya.
Buku itu membuat Mala penasaran asal usulnya, hari-harinya disibukan dengan laptop untuk mencari penjelasan berdasarkan buku itu, hingga suatu malam ia diganggu sosok yang menyerupai ibunya dan ingin mencekiknya. Teriakan Mala membangunkan Tiwi yang kaget melihat sahabatnya terkapar di lantai namun tetap sadar. Dari situlah Mala memutuskan untuk menelusuri petunjuk di buku itu ke rumah lamanya. Begitu Mala kembali, malamnya ayah angkatnya terbunuh makhluk gaib.
Tiga sahabat itu akhirnya mendatangi rumah yang pernah ditempati Mala fan keluarganya, semua pintu dan jendela terkunci, mereka pun mencari pintu yang tak terkunci, dan tiba-tiba mereka dikagetkan dengan seorang tua yang mengaku penjaga rumah itu, dan mereka dijinkan masuk.
Di rumah itu, mata batin Mala yang sebelumnya dibuka ayah angkatnya kala mereka bertemu mulai bekerja. Sayangnya scene ini dibuat sama antar pengliatan mata batin dan kondisi Mala saat itu, bahkan kondisi rumah itu sama padahal berjarak puluhan tahun. Dan itu tak hanya sekali tapi ada beberapa kali scene yang sama kecuali saat Mala menemukan kain batik, antara Mala saat itu dan pengliatan mata batinya berbeda.
Pengliatan itu membuat Mala penasaran, petunjuk di buku tak ditemukan di rumah itu, lalu ia keluar mengikuti nalarnya. Saat di hutan Tiwi yang menemani Mala dirasuki makhkuk yang dibisik sosok dukun wanita dari jauh. Lalu mereka kembali ke rumah dan sosok yang merasuki Tiwi makin kuat dan ia berusaha membunuh dua sahabatnya. Sosok dalam diri Tiwi berhasil ditaklukan Nugra anak panti yang hafal ayat-ayat suci (tak dijelaskan dari mana ia hafal itu) dan tangannya diikat Mala di kaki ranjang.
Tubuh Tiwi dingin, Mala berusaha menghangatkan dengan mencari kain, padahal di sekitar ranjang ada kain namun Mala mencari di lemari dan ketemu kain. Ia bentangkan, saat diturunkan mau dilipat, Mala ada di tempat lain. Mata batinya kembali melihat peristiwa ibunya penyebab ibunya membunuh dua kakaknya di pengliatan sebelumnya, ibunya ingin tersohor sebagai pejabat, yang harus mengorbankan darah dagingnya. Permintaan yang berikutnya, ibunya harus mengorbankan anak bungsu yang tersisa yaitu Mala.
Meski ibunya mengorbankan diri sebagai tumbal bukan Mala anak yang masih tersisa namun dukun itu tetap menginginkan Mala. Ia diberi pilihan jadi tumbal atau 2 sahabatnya mati, Mala pun memilih jadi tumbal namun saat ritual berjalan datang Nugra yang menggagalkan upacara tersebut.
Hal itu membuat kemarahan si dukun memuncak, Nugra pun punggungnya tertancap keris, lalu Mala lari kembali ke rumah dan sudah ditunggu Tiwi yang saat ditinggal dalam kondisi lemas tertidur, begitu Mala datang ia sudah ada di atas penutup ranjang dan siap menerkam Mala. Mala dicekik lalu berhasil diselamatkan Nugra yang menyusul Mala kembali ke rumah. Saat Mala lari ke luar rumah Tiwi masih mengejar tapi dicegah Nugra, Tiwi tetap ngotot dan berusaha lepas dari pegangan Nugra, akibatnya Tiwi jatuh dan tewas di depan Mala yang siap keluar rumah.
Mala mengurungkan niatnya dan kembali masuk, di sana ada sosok ibunya yang siap dengan pisau meminta Mala membunuh diri. Mala mengambil pisau lalu ia buang dsn lari menabrakan diri ke tembok dan berkata "aku gak sudi jadi tumbalmu", mati lah Mala.
Meski alurnya berantakan dan ingin penonton berfikir namun tak dibarengi dengan setingan yang menunjukan itu, akhirnya penonton berkesimpulan, alurnya gak jelas, lompat-lompat dan tanpa penjelasan kenapa itu terjadi. Namun sebagai tontonan film cukup menghibur dan layak jadi tontonan di bioskop.