Jakarta, INDONEWS.ID - Perang antara Iran dengan Amerika Serikat dan Israel kini tak hanya berlangsung di medan tempur, tetapi juga merambah dunia maya. Banjir konten berbasis kecerdasan buatan (AI), terutama deepfake, membuat batas antara fakta dan rekayasa semakin kabur.
Fenomena ini memicu krisis kepercayaan publik terhadap informasi visual yang beredar di media sosial. Bahkan, video asli pun kerap dituding sebagai hasil manipulasi AI.
Salah satu kasus yang ramai diperbincangkan adalah video Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, yang viral karena terlihat memiliki enam jari. Video tersebut sempat memicu spekulasi liar, termasuk teori konspirasi bahwa Netanyahu telah tewas atau terluka akibat serangan Iran dan digantikan dengan rekayasa digital.
Namun, para peneliti forensik digital memastikan video itu asli. “Jari keenam” yang terlihat hanyalah ilusi optik akibat pencahayaan yang membuat bagian telapak tangan tampak seperti jari tambahan. Meski demikian, klarifikasi tersebut tenggelam di tengah derasnya arus disinformasi.
Ahli komunikasi dari Maynooth University, Constance de Saint Laurent, menyebut fenomena ini sebagai pergeseran berbahaya dalam cara publik memandang informasi.
“Masalahnya bukan lagi sekadar orang percaya pada disinformasi, tetapi mereka mulai tidak percaya pada berita yang benar,” ujarnya, dikutip dari AFP.
Fenomena ini dikenal sebagai liar’s dividend, yakni kondisi ketika kemajuan teknologi justru memberi keuntungan bagi penyebar kebohongan karena publik menjadi ragu terhadap kebenaran apa pun.
Upaya Netanyahu membantah tuduhan dengan mengunggah video dirinya di sebuah kafe justru memperparah situasi. Warganet kembali mencurigai video tersebut sebagai hasil AI, dengan alasan volume kopi di cangkirnya tidak berkurang setelah diminum.
Sejak konflik memanas, AFP mencatat telah membantah lebih dari 500 informasi palsu secara global, dengan sekitar 20 persen di antaranya melibatkan teknologi AI. Konflik lain seperti perang Rusia-Ukraina, Israel-Gaza, hingga India-Pakistan juga memicu gelombang konten serupa.
Namun, yang membedakan konflik kali ini adalah volume dan tingkat realisme konten AI yang sangat tinggi, sekaligus murah untuk diproduksi. Platform media sosial seperti X turut mempercepat penyebaran konten sensasional karena algoritma yang mengutamakan keterlibatan pengguna.
Salah satu contoh ekstrem adalah video AI yang menampilkan gedung Burj Khalifa runtuh, yang sempat ditonton hingga 12 juta kali sebelum diberi label verifikasi.
Dewan Pengawas Meta memperingatkan bahwa konten palsu bukan sekadar hiburan, tetapi dapat memicu kekerasan nyata dan memperkeruh konflik.
Ironisnya, alat pendeteksi AI pun belum sepenuhnya akurat. Dalam kasus video Netanyahu, satu alat menyebut kemungkinan AI mencapai 96,9 persen, sementara alat lain menyatakan sebaliknya.
“Inilah yang diinginkan aktor jahat: membuat orang berpikir bahwa segala sesuatu bisa dipalsukan, sehingga mereka tidak bisa mempercayai apa pun,” ujar Hannah Covington dari News Literacy Project.
Kondisi ini diperparah dengan munculnya konten manipulatif lain, termasuk gambar yang diduga AI terkait serangan di Minab, Iran, hingga video meme yang menggambarkan kemenangan militer fiktif.
Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, bahkan menyebut AI sebagai “senjata disinformasi” yang dimanfaatkan Iran. Namun di sisi lain, ia juga kerap membagikan konten berbasis AI untuk kepentingan politik dan narasi pribadi.
Di tengah kekacauan ini, operasi disinformasi global juga ikut bermain. Jaringan yang terkait dengan Rusia dilaporkan menyamar sebagai media tepercaya seperti BBC untuk menyebarkan informasi palsu.
Kini, dunia menghadapi tantangan baru: ketika teknologi yang seharusnya mempermudah akses informasi justru mengaburkan kebenaran. Dalam situasi ini, publik dituntut semakin kritis agar tidak terjebak dalam arus disinformasi yang kian masif.