Jakarta, INDONEWS.ID - Yayasan Bubuara Jelekong Indonesia (YBJI) menyelenggarakan perhelatan budaya berskala nasional bertajuk “Ngabaladahan” di Kampung Seni Jelekong Baleendah, Bandung Selatan , Sabtu (11/4/2026).
Kegiatan ini merupakan”panen raya” kreativitas sekaligus pembuktian eksistensi Kampung Seni Jelekong , melalui pameran mahakarya lukisan kolektif berukuran 11 kali 4 meter yang dikerjakan 60 seniman lokal. Mahakarya megah ini menjadi simbol pembukaan dari ”perhelatan” besar yang menampilkan 112 karya masterpiece seniman Jelekong.
”Ngabaladahan” merujuk pada tahap awal mengolah kanvas kosong dalam dialek lokal. Namun, bagi YBJI istilah ini bermakna lebih dalam sebagai metafora praktik seni komunal yang menitikberatkan pada proses kebersamaan masyarakat. Menghidupkan ”Jelekongism” sebagai
identitas Nusantara. Hal tersebut dikemukakan Ketua Yayasan YBJI Arya Sudradjat pada peresmian pameran lukisan Jelekong di Jelekong, Bandung Selatan. Program ini menjadi manifestasi dari gagasan “Jelekongism”, sebuah gerakan untuk memposisikan senirupa Indonesia agar tidak lagi melulu berkiblat pada sejarah seni barat.
Menurut Ketua Yayasan Bubuara Jelekong Indonesia, Arya Sudradjat, “Jelekongism” adalah
pembacaan kembali tradisi visual Nusantara yang diadaptasi ke konteks sosial budaya saat ini.
Kita punya sejarah panjang , mulai dari temuan lukisan gua tertua di dunia di Sulawesi, hingga
evolusi Kampung Jelekong sejak tahun 1970-an yang dipelopori Abah Odin tegas Arya. Sejarah
mencatat transformasi Jelekong dari masyarakat agraris menjadi komunitas pelukis mandiri.
Hingga kini, tegas Arya, berbagai teknik autentik seperti gaya sebring, beludru,spon hingga gaya
kontemporer terus berkembang secara dinamis.
Lukisan raksasa yang dipamerkan memiliki keunikan pada material. Para seniman menggunakan media daur ulang karung terigu sebagai pengganti kanvas konvensional. Tinta yang digunakan merupakan racikan resep turun temurun pelukis Jelekong yang mencampur cat mentahan, cat besi, serbuk sinquit.
Misi global dan kesejahteraan seniman Pengurus dan juga pendiri Yayasan Bubuara Jelekong Indonesia, Susrinah Sanyoto, berharap yayasan ini dapat menjadi jembatan bagi pelukis Jelekong menuju pasar nasional maupun internasional.
Peningkatan kualitas karya sangat penting agar memiliki nilai jual tinggi, yang pada akhirnya akan meningkatkan taraf hidup para seniman itu sendiri, tuturnya
Senada dengan hal tersebut, Sari Ramdani yang juga Pengurus Yayasan Bubuara Jelekong
Indonesia melihat potensi besar dalam ekosistem ekonomi kreatif di Jelekong. Desa ini bisa
berkembang pesat juga melalui pengenalan kuliner lokal, pertunjukan wayang golek, kesenian lainnya, hingga produksi mandiri cat, bingkai kayu, serta kanvas oleh warganya. Bersama Vincent Rumahloine, yang juga pengurus dan pendiri yayasan, membuat program residensi dan pelatihan di mana wisatawan juga dari mancanegara dapat menginap dan belajar melukis langsung di sini, jelasnya.
Penghargaan untuk Maestro
Dalam acara ini, YBJI juga memberikan penghargaan kepada tokoh-tokoh pelukis legendaris
Jelekong. Salah satunya Abah Odin, sang maestro yang mentransformasi disiplin bela diri silat
ke dalam seni lukis—mengubah jurus menjadi goresan. Dari tangan dinginnyalah lahir generasi
pelukis yang menjaga teknik sekaligus jiwa karya Jelekong.
Perhelatan ini dimeriahkan oleh penampilan tari dari Lentik Rolas dan Cahaya Sawargi, serta demonstrasi teknik melukis khas Jelekong secara langsung di hadapan para pencinta seni dan
pejabat setempat yang hadir.
Sekilas mengenai Yayasan Bubuara Jelekong Indonesia (YBJI) ) Yayasan Bubuara Jelekong Indonesia (YBJI) adalah yayasan yang berdedikasi untuk memperkenalkan identitas lukisan Jelekong ke dalam kancah nasional dan internasional melalui kampanye “Jelekongism” , wadah bagi pelukis dan pemerhati seni yang fokus pada inisiatif riset ,edukasi, dan pengarsipan kampung lukis Jelekong.
Didirikan pada 10 Oktober 2025 oleh Susrinah Sanyoto, Iwet Ramadhan, Arya Sudradjat, Vincent Rumahloine dan Sari Ramdani, dan telah berbadan hukum, Organisasi Non-Profit YBJI berkomitmen memberdayakan ekosistem seni lokal, mulai dari
produksi bahan baku (kanvas, pigura dan cat) hingga pengembangan sumber daya manusia.
Yayasan ini mengembangkan sumber daya manusia melalui program residensi. YBJI fokus pada peningkatan nilai tawar seniman lokal serta pengaktifan ekonomi kreatif holistik di wilayah
kampung seni Jelekong. Saat ini jumlah pelukis yang berasal dari Desa Jelekong sebanyak 500 orang lebih.