Nasional

Menlu Abbas Araghchi Tuding AS Plin-Plan, Sengaja Bikin Negosiasi Damai Gagal Total

Oleh : Rikard Djegadut - Senin, 13/04/2026 09:31 WIB


Menlu Iran Abbas Araghchi. Foto: (AFP/Ramil Sitdikov)

Jakarta, INDONEWS.ID – Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, menuding Amerika Serikat bersikap tidak konsisten dan keras kepala sehingga perundingan damai kedua negara gagal mencapai kesepakatan.

Melalui unggahan di platform X, Araghchi menyebut Washington mengubah-ubah posisi dan menerapkan pendekatan maksimalis saat pembicaraan berlangsung di Islamabad, Pakistan.

“Dalam pembicaraan intensif di tingkat tertinggi dalam 47 tahun, Iran terlibat dengan iktikad baik untuk mengakhiri perang. Namun, ketika hampir mencapai ‘MoU Islamabad’, kami menghadapi perubahan target dan blokade,” tulis Araghchi, Senin (13/4/2026).

Perundingan langsung antara AS dan Iran yang berlangsung selama 21 jam itu merupakan yang pertama sejak Revolusi Islam 1979. Meski diharapkan menjadi titik balik menuju perdamaian, pembicaraan yang dimediasi Pakistan tersebut berakhir tanpa kesepakatan.

Pihak AS, melalui Wakil Presiden JD Vance, menyatakan kegagalan terjadi karena Iran menolak tuntutan utama Washington, termasuk penghentian program nuklir Teheran.

Namun, sumber dari tim Iran justru menilai AS sengaja mencari alasan untuk meninggalkan meja perundingan dengan tidak memenuhi syarat yang telah diajukan sebelumnya.

Tuntutan Iran Jadi Sorotan

Dalam negosiasi tersebut, Iran mengajukan sejumlah tuntutan strategis, di antaranya pencairan aset negara yang dibekukan di luar negeri, termasuk di Qatar dan sejumlah bank asing.

Selain itu, Teheran juga menuntut kendali atas Selat Hormuz, pembayaran ganti rugi perang, serta gencatan senjata di seluruh kawasan, termasuk Lebanon.

Iran juga berencana memberlakukan biaya transit bagi kapal-kapal yang melintasi jalur pelayaran vital tersebut.

Kegagalan perundingan ini memperpanjang ketegangan antara kedua negara yang telah berlangsung selama puluhan tahun. Selat Hormuz kembali menjadi titik krusial, mengingat perannya sebagai jalur utama distribusi minyak dunia.

Situasi ini memicu kekhawatiran global, terutama terkait stabilitas keamanan kawasan dan dampaknya terhadap ekonomi dunia.

Araghchi pun menutup pernyataannya dengan nada tegas, menekankan bahwa hubungan antarnegara akan ditentukan oleh sikap masing-masing pihak.

“Niat baik akan dibalas dengan niat baik. Permusuhan hanya akan melahirkan permusuhan,” tegasnya.*

Artikel Lainnya