Opini

Anak Muda di Balik Kamera dan Kota yang Memberi Luka

Oleh : luska - Minggu, 19/04/2026 10:34 WIB


Oleh Dikdik Sadikin_

_*"Camera... action!"*_

PERINTAH itu meluncur ringan, hampir seperti permainan. Tapi bagi saya, 61 tahun, usia yang, kata orang, mulai menghitung sisa, saya justru dipanggil untuk memulai sesuatu yang tak saya rencanakan.

Di sebuah ruang warmindo (Warung Makan Indomie)  kecil yang disulap menjadi set pada 16--17 April 2026, saya berdiri di depan kamera. Di belakangnya, bukan sineas profesional, melainkan anak-anak berusia 19 tahun, kelahiran 2007, yang bahkan belum selesai memahami arti waktu, tapi sudah cukup berani mengarahkan hidup orang lain. Termasuk saya.

Mereka adalah mahasiswa Program Studi Vokasi Produksi Media atau disingkat Promed (D4/Sarjana Terapan) Semester Dua, Universitas Indonesia. Saya ada di sana karena anak bungsu saya, Farrel, salah seorang dari mereka. Ia mengajak saya bukan sebagai ayah, melainkan sebagai aktor: "Bapak" dalam film pendek mereka.

Dan saya menurut.

Ada sesuatu yang diam-diam berubah: otoritas usia runtuh pelan-pelan di hadapan keyakinan muda.

Mereka bekerja dengan cara yang hampir kuno: patungan. Peralatan disewa, sebagian dipinjam dari kakak tingkat. Tidak ada investor, tidak ada kepastian. Hanya keinginan agar film itu ada. Di dunia industri, film pendek bisa menelan biaya hingga USD 10.000--50.000. Mereka bekerja jauh di bawah itu, bahkan nyaris tanpa angka.

Namun di situlah justru sesuatu muncul: solidaritas yang tak tercatat dalam neraca mana pun.

Aimee, sutradara, memberi aba-aba tanpa ragu. Ian menjaga kamera seperti menjaga ingatan. Delany menulis naskah yang terasa lebih tua dari usianya: sebuah kegelisahan yang tampaknya diwariskan oleh zaman. Ada juga Rara sebagai produser. Laila, yang saat kecil dulu lebih akrab dengan permainan "benteng" ketimbang cermin, kini memoles wajah saya dengan ketelitian seorang yang menemukan dirinya sendiri. Diva bergerak tanpa sorotan: jenis kerja yang sunyi, tapi menentukan segalanya.

Saya melihat sesuatu yang sederhana, tapi jarang: mereka bekerja bukan karena pasti berhasil, melainkan karena merasa harus mencoba.

***

FILM itu sendiri tidak rumit. Dan mungkin karena itu ia jujur.
Seorang bapak datang ke Jakarta, membawa kebanggaan. Ia percaya anaknya sukses. Kota selalu menjanjikan itu, dengan gedung-gedung tinggi yang tampak seperti janji yang sudah ditepati. Namun kenyataan lebih dingin: anaknya baru saja di-PHK.

Cerita itu bukan sekadar fiksi. Ia adalah statistik yang diberi wajah.

Di Indonesia, tingkat pengangguran terbuka memang sekitar 5%, tetapi untuk usia muda melonjak hingga lebih dari 16%. 

Kota menyedot manusia dari desa, tapi tidak selalu menyediakan tempat bagi mereka untuk tinggal. Apalagi untuk bermimpi.

Jika kita menengok keluar jendela nasional, narasi tentang anak muda yang dihantam kerasnya tembok urban dan pengangguran adalah nestapa global hari ini.

Di Tiongkok, rekor pengangguran kaum muda yang sempat melampaui 20% pada tahun-tahun terakhir melahirkan gerakan Tang Ping ("berbaring santai") sebagai sebentuk protes diam-diam terhadap ekspektasi yang tak lagi masuk akal.

Di Korea Selatan, generasi muda mengenal istilah Sampo Generation, yakni mereka yang menyerah pada asmara, pernikahan, dan memiliki anak demi bertahan hidup di kota-kota yang kejam.

Angka-angka statistik di negara maju seperti Spanyol pun kerap menunjukkan betapa lulusan perguruan tinggi sering kali harus puas menjadi barisan pengangguran terdidik di tengah kota besar.

Jakarta dan kisah PHK yang diangkat anak-anak ini, pada hakikatnya, adalah denyut nadi dari krisis global tersebut.

Film pendek yang dibuat para remaja itu berjudul "Gambar dan Angka". Di balik bidikan kameranya, Ian sang cameraman, menyimpan tujuan dan kegelisahannya sendiri tentang mengapa karya ini harus dilahirkan.

Bagi Ian, proyek ini adalah sebuah langkah untuk mengikuti ajang perdana Jakarta Youth Film Festival dari Jakarta Film Week, dengan tenggat waktu pengumpulan pada 25 April untuk acara puncak di bulan Mei. Di balik kamera, Ian berdiri bukan sekadar sebagai perekam gambar, melainkan sebagai seseorang yang ingin menangkap sesuatu yang lebih sulit ditahan: kegelisahan tentang kota. 

Bagi mereka, film ini bukan semata-mata proyek lomba, meski ia memang akan dikirim ke sebuah festival, melainkan cara untuk bertanya: apa sebenarnya yang tersisa dari Jakarta selain riuhnya?

Barangkali itu sebabnya cerita yang mereka pilih terasa begitu dekat, hampir seperti potongan kehidupan yang terselip di antara statistik.

Ketika sang bapak menemukan anaknya di kota kehilangan pekerjaan, film ini berhenti menjadi cerita. Ia berubah menjadi cermin: retak, tapi jujur.

Tentang urbanisasi yang tak selalu berujung pada kemajuan, tentang kota yang lebih sering menguji daripada menampung, dan tentang kebanggaan seorang bapak yang harus belajar pelan-pelan menerima kenyataan.

Ian melihat panggung ini sebagai medium krusial bagi anak muda untuk lebih mengapresiasi dan melukiskan kultur Jakarta di dalam kanvas sinema. Entah itu kepingan memori masa kecil atau denyut khas daerah yang riuh, Ian dan kawan-kawan sebayanya dari Promed UI ingin menangkap jiwa asli dari kota yang tak pernah tidur itu.

Bagi Delany, sang penulis cerita, Jakarta adalah sebuah survival game: kota super sibuk yang menyimpan realitas yang teramat keras, meski tetap menjadi tempat orang-orang berani menggantungkan harapan. Dan itu bukan sekadar imajinasi. Ia adalah potongan kecil dari kenyataan global. Seperti pernah dikatakan Karl Marx, manusia di kota modern bisa menjadi asing bagi hidupnya sendiri.

Namun, di atas segala kemuraman narasi film itu, terselip sebuah harapan yang sublim. Aimee menuturkan bahwa di tengah kondisi yang tidak stabil ini, keluarga sering kali menjadi satu-satunya jangkar dan pegangan yang tersisa. Melalui tokoh bapak dan anak yang terpisah _generation gap_ (kesenjangan generasi), film ini ingin memperlihatkan bagaimana seorang bapak bersedia menurunkan gengsinya, menanggalkan egonya, demi sekadar merangkul dan memberikan kasih sayang sejati kepada anaknya.

Di sini Aimee menyikapi naskah ini sebagai sebuah cermin retak; tentang ribuan orang yang menghabiskan energi, waktu, dan materi dengan ilusi kesempatan kerja di kota, namun justru menemui jalan buntu yang memaksa mereka kembali pulang dalam arus "ruralisasi" yang senyap.

***

NAMUN yang paling mengesankan bukanlah cerita itu, melainkan prosesnya.

Mereka bekerja tanpa bayaran. Tanpa jaminan film ini akan menang lomba. Bahkan tanpa kepastian akan ditonton banyak orang.

Namun mereka tetap melakukannya.

Saya teringat Albert Camus: dalam dunia yang absurd, manusia tetap harus membayangkan dirinya bahagia saat mendorong batu ke puncak.

Anak-anak ini melakukan itu: dengan kamera, dengan naskah, dengan cahaya seadanya.

Di akhir hari kedua, ketika lampu dimatikan dan perkakas film dirapikan, ada keheningan yang tertinggal.

Saya datang sebagai aktor dadakan. Saya pulang sebagai saksi.

Saya melihat sesuatu yang tidak muncul dalam laporan ekonomi, tidak masuk dalam grafik pertumbuhan: harapan yang bekerja diam-diam.

Mereka membuat film tentang kegagalan kota menampung harapan. Namun dalam prosesnya, mereka justru memperlihatkan bahwa harapan itu belum habis.

Bukan di gedung-gedung tinggi. Bukan di angka-angka statistik. Melainkan di tangan anak-anak yang percaya, meski dengan dana patungan, bahwa cerita harus tetap dikisahkan.

Sebagai manusia dari zaman yang berbeda, saya menyaksikan sendiri api yang menyala di dada anak-anak ini. Saya merasakan semangat tanpa pamrih, solidaritas yang begitu rekat, dan keyakinan diri yang membara untuk memberikan karya yang terbaik bagi bangsa.

Mereka mungkin membuat film tentang generasi yang dipukul mundur oleh kota. Namun dalam realitasnya, melalui kerja keras dengan dana patungan dan peluh di lokasi syuting itu, mereka justru tengah membuktikan bahwa mereka tak akan pernah mudah dikalahkan oleh zaman. Mereka menulis sejarah mereka sendiri, frame demi frame.

Dan saya, lelaki 61 tahun itu, berdiri di antara mereka, memahami sesuatu yang sederhana, dan mungkin terlambat saya sadari: masa depan tidak selalu datang dengan gemuruh.

Ia kadang datang pelan, hampir tak terdengar: dalam dua hari syuting, di Warung Warmindo kecil yang disulap jadi dunia, di tangan mereka yang belum selesai memahami hidup, tapi sudah cukup berani untuk tidak menyerah kepadanya.

_*Bogor, 18 April 2026*_

Artikel Lainnya