Jakarta, INDONEWS.ID - Dalam rangka semacam safari sastra ke sejumlah daerah, Ibnu Wahyudi diberi kesempatan pertama memberi kuliah umum di Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Hasanuddin pada Kamis, 23 April 2026. Bertempat di Aula Mattulada FIB Unhas, dosen dan sastrawan ini memaparkan ihwal sastra yang secara tidak langsung mampu mencatat dinamika zaman.
Dibuka oleh Dr. Wahyudin selaku Wakil Dekan III dan dihadiri lebih dari 70 peserta, kuliah umum berjalan lancar dan akrab. Sesekali Ibnu mengajukan pertanyaan mengenai entitas sastra Indonesia yang jika dijawab tepat, si penjawab akan memperoleh satu kumpulan puisi.
Intinya, kuliah umum ini memberi penegasan bahwa benda, hasil teknologi, kecerdasan setempat, dan semacamnya, akan berperan sebagai pencatat satu masa dengan lebih apa adanya lewat sastra. Kendati kemutakhiran lebih banyak terekam dalam sastra populer, sastra serius pun kerap kali mencatat.
Dalam novel _Belenggu_ yang terbit tahun 1940, misalnya, dibuka dengan menyertakan benda bernama telepon. Sampai saat ini, benda ini telah berevolusi menjadi perangkat yang selalu dekat dengan manusia dan bahkan banyak yang tergantung kepada alat komunikasi ini.
Dikemukakan oleh pensiunan dosen Universitas Indonesia dan SUSS Singapura ini mengenai kemungkinan sastra mencatat kegelisahan waktu. Pada awal munculnya sastra Indonesia tahun 1850-an, masalah literasi sudah ditekankan sebagai hal penting. Pun melalui novel _Ali Topan_ karya Teguh Esha, misalnya, bahasa prokem terabadikan dengan alami.