Nasional

Israel Disebut Kirim Iron Dome ke UEA, Hubungan Pertahanan Lawan Iran Kian Erat

Oleh : Rikard Djegadut - Selasa, 12/05/2026 15:56 WIB


Jakarta, INDONEWS.ID – Hubungan pertahanan antara Israel dan Uni Emirat Arab dilaporkan semakin erat di tengah meningkatnya ketegangan kawasan Timur Tengah. Negara Zionis itu disebut telah mengirim sistem pertahanan rudal Iron Dome beserta personel militernya ke UEA untuk membantu menghadapi ancaman serangan balasan dari Iran.

Pernyataan tersebut diungkapkan Duta Besar Amerika Serikat untuk Israel, Mike Huckabee, dalam sebuah acara di Tel Aviv.

“Saya ingin mengucapkan terima kasih kepada Uni Emirat Arab, anggota pertama Abraham Accords. Lihat saja manfaatnya. Israel baru saja mengirimi mereka baterai Iron Dome dan personel untuk membantu mengoperasikannya,” ujar Huckabee dalam Konferensi Tel Aviv.

Komentar itu dinilai memperlihatkan semakin dalamnya kerja sama militer antara Israel dan UEA sejak kedua negara menjalin hubungan diplomatik melalui Abraham Accords pada 2020.

Uni Emirat Arab sendiri belum memberikan tanggapan resmi terkait pengakuan Huckabee tersebut.

Dalam kesempatan yang sama, Huckabee menyatakan optimistis negara-negara lain di kawasan Timur Tengah akan mengikuti langkah UEA dan Bahrain untuk menjalin hubungan formal dengan Israel melalui Abraham Accords.

Namun, situasi geopolitik kawasan tetap memanas pasca perang Gaza yang pecah setelah serangan Hamas pada 2023. Banyak negara Arab masih mengecam operasi militer Israel di Gaza yang menyebabkan kehancuran besar dan memicu konflik regional lebih luas.

Huckabee menilai negara-negara Teluk kini dihadapkan pada pilihan strategis terkait ancaman keamanan kawasan.

“Negara-negara Teluk kini paham bahwa mereka harus membuat pilihan – apakah mereka lebih mungkin diserang oleh Iran atau Israel?” kata Huckabee.

Pernyataan itu muncul bersamaan dengan laporan media internasional yang menyebut Uni Emirat Arab diduga diam-diam ikut terlibat dalam serangan terhadap Iran selama konflik antara Israel, Amerika Serikat, dan Republik Islam Iran.

Laporan The Wall Street Journal menyebut salah satu serangan menghantam kilang minyak di Pulau Lavan, Iran, pada awal April 2026. Serangan itu dilaporkan memicu kebakaran besar dan menghentikan sementara sebagian produksi minyak.

UEA hingga kini belum mengakui keterlibatan dalam operasi tersebut.

Di sisi lain, Iran disebut merespons dengan meluncurkan serangan rudal dan drone yang menargetkan wilayah UEA dan Kuwait.

Para analis menilai dinamika tersebut menunjukkan perubahan kebijakan UEA menuju keterlibatan militer yang lebih aktif di kawasan, terutama setelah meningkatnya ancaman terhadap aset-aset Amerika Serikat dan sekutunya di Timur Tengah.

Ketegangan juga diperparah oleh pernyataan anggota parlemen Iran, Ali Khezrian, yang memperingatkan bahwa Iran masih memiliki “urusan yang belum selesai” dengan UEA.

Menurut Khezrian, para pejabat Emirat diduga berkoordinasi dengan Israel untuk meningkatkan ketegangan regional.

“UEA harus memanfaatkan masa vakum gencatan senjata karena Republik Islam Iran masih memiliki urusan yang belum selesai dengan mereka,” kata Khezrian seperti dikutip media Iran.

Ia juga menegaskan bahwa Iran tidak akan tinggal diam terhadap apa yang disebutnya sebagai upaya UEA dan Israel menyeret kembali Amerika Serikat ke dalam konflik berskala besar di kawasan Timur Tengah.

Artikel Lainnya